
Arsal sedang menikmati kopi di taman samping rumahnya.
Ya... Arsal telah pindah ke rumah ayahnya, itu pun karena sang ayah yang memaksa.
"Mengapa kalian membeli rumah lagi? ayah kan sudah pernah bilang, tinggallah disini, aku mau kita berkumpul, Tama tidak pernah pulang dari perjalanan bisnisnya, sementara Vara? dia telah menetap di Holand bersama Frasa, kalian tega membiarkan rumah ini kosong?"
"Buka. begitu ayah, hanya saja aku dan Arsal ingin hidup mandiri."
"Oh... itu bukan alasan Syahila, kalian di rumah ini pun akan sangat mandiri, karena ayah tidak pernah mencampuri urusan kalian bukan?"
Tanpa bisa menolak, akhirnya sepasang suami istri itu tinggal dirumah yang sudah hampir sepekan mereka huni.
"Sayang?" teriak Syahila dari dalam rumah.
"Iya ada apa aku di samping." ucap Arsal sambil menyesap kopinya.
Syahila datang dengan membawa tema kamar bayi mereka.
"Sayang aku telah memilih tema untuk pangeran kecil kita, bagaimana jika semua warnanya abu abu dan biru?"
usul Syahila dengan wajah bahagia dan sumringah.
"Baiklah aku setuju, jangan beri kesan yang terlalu ribet, sebentar lagi dia akan lahir, dan sebelum itu semua harus sudah siap bukan?"
"Ya, benar. oh ya... aku belum mengabari adik adik perempuan ku, Vara dan Arbell pasti akan sangat senang jika ku beri tau beberapa Minggu lagi baby kita akan lahir ke dunia."
"Kabarilah mereka,terutama Arbella harus pulang, begitu juga Vara, suruh dia kembali ke Indonesia dan itu juga harus disertai Frasa beserta putri cantik mereka."
"Ya ya ya... aku sudah tidak sabar mendengar keramaian yang akan mereka buat, oh ya... kau tidak ingin menghubungi adik mu Tama?"
"Tuan pendendam, seperti yang kau katakan, Tama akan dengan mudah menemui istrinya, dan kurasa mereka sekarang telah bersatu, bagaimana jika mereka berdua kembali?"
"Tidak apa mereka bersama, asalkan Tama dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan Arbella."
"Sayang Tama pasti akan melakukan itu, jadi kau akan memaafkan Tama jika Tama kembali pada Arbella?"
"Ya... aku kan memaafkannya, sekarang waktunya kau istirahat, jangan bahas mereka lagi."
Mereka pun kembali ke kamar, Syahila harus istirahat karena di kehamilannya yang sudah memasuki usia 8 bulan dia sering mengalami kontraksi dan pendarahan, karena dirinya yang tak bisa diam untuk istirahat dan perasaannya yang terlalu memikirkan orang lain.
Zulfikar memanggil anak tertuanya, siapa lagi jika bukan Arsal, Arsal masuk keruangan ayahnya, dia duduk dan membicarakan masalah warisan.
"Arsal, terimalah hak waris ini."
"Ayah aku sudah pernah bilang, aku tidak ingin perusahaan itu, aku sudah pusing dengan semua yang ku miliki, bahkan perusahaan ku yang berada di Basel sekarang telah diambil alih pemerintahan karena aku sudah tidak membutuhkannya, belum lagi perusahaan makanan ku yang ada di Jerman, gerakan sosial dan lain sebagainya, aku hanya mau menjadi dokter sekarang, hidup ku sudah sangat sempurna dengan adanya Syahila dan bayi kami, jadi serahkan saja pada Tama."
Disaat banyak orang memperebutkan kekuasaan dan perusahaan keluarga ini malah tidak mau dan saling lempar lemparan untuk mengambil alih kekuasaan, padahal kan hanya tinggal menjalankan.
"Lantas? jika ayah mati siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua itu?"
"Jual saja, dan uangnya sumbangkan kepada pemerintah atau jika ayah mau berinvestasi lah, tapi aku juga masih bisa memenuhi kebutuhan ayah."
"Arsal, ayah memperjuangkan perusahaan itu bersama paman mu, dan ayah tidak mungkin menjualnya."
"Kami bertiga juga tidak mau meneruskannya, kami bertiga sudah punya perusahaan yang cukup merepotkan kami."