
Seperti biasanya pagi ini kediaman Arafi terasa begitu sepi dan hening, Syahila diminta Arsal untuk menjenguk ayahnya barang sebentar saja.
Maka dari itu ia datang berkunjung dengan membawa beberapa makanan faforit sang mertua.
"Selamat pagi nyonya, tumben sekali sepagi ini sudah datang, ingin bertemu tuan besar nyonya muda."
Sapa seorang penjaga rumah itu.
"Iya, benar mbak saya datang untuk menemui ayah, apakah ayah ada?" Syahila masuk kedalam rumah dan meletakan tasnya di meja makan bersama bingkisan yang ia bawa.
"Sebentar nyonya muda, saya panggilkan tuan besar dulu."
"Jika ayah masih tidur jangan di bangunkan biarkan saja."
"Tadi pagi tuan sudah bangun, hanya saja kesehatannya memang menurun, jadi tuan memutuskan untuk menetap di kamar." Dan Asistan Rumah Tangga itu pergi untuk memanggil tuannya.
Syahila sedang menyiapkan hidangan yang telah ia bawa tadi serta menyiapkan susu dan hidangan lain untuk makan pagi ayah mertuanya itu, Syahila menyiapkan semuanya dengan tujuan supaya sang ayah mertua bisa makan dengan baik.
Zulfikar pun datang menyapa Syahila.
"Selamat pagi menantu ku, kau sangat baik datang sepagi ini dan menyiapkan semuanya untuk ku."
"Ayah, aku datang atas perintah anak mu." Syahila mencium tangan mertuanya.
"Apa kabar dirinya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya kira kira satu bulan lamanya, setelah bertemu dan memaksanya bicara di kantor."
"Dia baik baik saja, aku dengar dari ART rumah ini, kondisi kesehatan ayah menurun, apakah ayah perlu dokter?"
"Tidak perlu aku hanya terlalu lelah mengurus perusahaan, Syahila bicaralah pada Arsal untuk mengambil alihnya, aku sudah tidak sanggup jika harus mengurusnya sendiri."
"percuma saja ayah, Arsal tidak akan mendengar apa yang akan ku katakan, karakter anak ayah kan memang keras kepala, ditambah dengan segudang pekerjaannya, semua yang sudah ia dapat sudah cukup menguras waktunya." Syahila melayani sang mertua di meja makan dengan baik.
"Apa ayah akan mengadakan penyambutan utuk Frasa dan Hila?"
"Tidak hanya kalian berdua, aku memiliki satu menantu lagi Hila."
"Siapa? Tama sudah menikah?"Syahila bertanya dengan keterkejutannya.
"Ya, dia telah menikah, mendadak dan hanya ada aku dan beberapa orang saksi saja, alasan selebihnya kau boleh tanya pada adik ipar mu itu."
"Kapan itu terjadi ayah? Arsal tidak memberi tau ku?"
"Suami mu juga belum tau, mereka menikah mungkin sudah 3 minggu yang lalu, Tama juga sudah mengajak bulan madu untuk beberapa hari yang lalu, dia sekarang sedang di Inggris, menyiapkan dokumen kepindahannya."
Syahila merasa ikut bahagia karena nanti giliran dirinya yang menjahili Tama, mengingat malam pertamanya yang tak sempurna karena ulah Tama, dan berkat Tama pula ia mendapat malam pertama.
"Syahila, bagaimana perkembangan cucu ku? apa kau dan suami mu juga butuh bulan madu supaya cucu ku bisa segera hadir?" Tanya Zulfikar dengan senyuman.
" Kami hanya butuh waktu ayah."
"Luangkan waktu kalian satu minggu di minggu depan, ayah akan mengirim kalian ke villa untuk bulan madu."
Syahila hanya tersenyum dengan perkataan Zulfikar. Kini keduanya makan dengan nyaman bersama gurauan2 kecil diantara keduanya.
"Terimakasih Ayah sudah memberi ku identitas diantara kalian semua."
"Syahila, aku sudah berjanji pada mu untuk semua yang telah aku janjikan maka aku memberikan semua itu, sebagai penebus kesalahan ku pada kedua orang tua mu."
"Ku rasa ibu sudah memaafkan mu, dan sangat berterima kasih pada mu ayah, aku hanya bisa menjaga dan mengabdi pada putra mu." Tutur Syahila yang banjir air mata karena mengingat masa lampau.