
Sesampainya di tempat yang dituju, Syahila bertanya kepada supir yang membawanya.
"Kenapa kita berhenti di sini? milik siapa apartemen ini?"
"Nona, ini adalah apartemen milik tuan Arsal dan saya di tugaskan untuk mengantar anda kesini."
Jelas sang supir lalu mengantar Syahila ke lantai 15 dimana miliknya berada.
Apartemen mewah lengkap dengan balkon dan kolam renang, dapur yang begitu elegan , ruang tamu dan beberapa kamar yang di hiasi warna hitam dan putih dengan beberapa aksen minimalist, lantai marmer yang terpakai juga menampilkan kesan mewah.
Syahila menunggu Arsal kembali sampai hari pun malam.
"Ini milik mu?" tanya Syahila menyertakan tatapan menantang.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk pindah ke sini."
"Mengapa?"
" Karena aku tidak ada yang akan ikut campur masalah kita!" geram Arsal melihat istri yang menatapnya begitu menantang.
Syahila berdiri dari duduknya, sementara Arsal masuk kekamar.
Syahila membuatkan teh untuk Arsal lengkap dengan kue yang dipesannya tadi siang.
Arsal menatap Syahila yang duduk di kusi samping kolam renang. Arsal berjalan menghampiri Syahila, yang termenung di sana.
"Ada apa dengan mu, wajah mu murung sekali." tanya Arsal dengan lembutnya.
"Jika aku bercerita pada mu apakah kamu mau mendengarkan ku?" Arsal hanya diam, sebenarnya Arsal juga tak ingin memperdulikannya, namun rasa dalam hatinya tak sanggup untuk melakukannya.
"Hemm? sepertinya jika aku bercerita pun kau akan sama tidak peduli dengan semua itu, Kak Arsal mengapa dari awal kau sangat dingin pada ku, jika aku bersalah katakan pada ku." Arsal masih diam kini dia menatap lalu menyesap teh di hadapannya.
Syahila mengenggam tangan Arsal, dia meneteskan air matanya.
"Bisakah kita memulai semuanya dari awal?"
"Tentu, sekarang ceritakan ada apa sampai kau murung begitu?" pinta Arsal.
"Ibu ku, dia sempat sadar kemarin, tapi hari ini dia kembali drop, aku harus menemuinya, aku mau minta izin pada mu untuk pergi, setidaknya sampai keadaannya pulih."
"Syahila, kau akan pergi, tapi dengan ku, malam ini jet pribadi ku akan bersiap, kemasi barang mu kita akan pergi."
Syahila memeluk Arsal secara tiba tiba, Arsal kaget dengan prilaku istrinya tersebut.
"Kau memang orang yang sangat baik kak, apakah aku tidak merepotkan mu?"
Arsal tersenyum menatap istrinya, dia mengelus rambut sebahu Syahila.
"Apapun yang kau risaukan tolong bicarakan saja pada ku, aku akan mendengarkan setiap keluhan mu." Sambut Arsal dan pergi begitu saja dari hadapan Syahila.
Mereka pun telah memasuki jet pribadi milik Arsal, Syahila duduk tepat di sebelah Arsal, Syahila sangat bahagia, baru kali ini dia merasa bahagia pergi ke luar negri dengan seseorang.
Berjam jam mereka duduk di pesawat Arsal bersikap baik padanya bahkan Syahila sempat tertidur di bahu Arsal, Arsal tidak marah malah terkesan memanjakannya.
Sesampainya di hotel tempat mereka menginap, Arsal dan beberapa asistennya meninggalkan Syahila, Arsal menuju rumah sakit yang dimaksud Syahila.
Arsal melihat wanita tua dengan banyak selang yang menempel di tubuhnya.
Arsal berkonsultasi dengan beberapa dokter yang memang sudah mengenal Arsal.
"Tidak ada harapan lagi, mungkin ia hanya ingin melihat Syahila, dia merindukan Syahila." begitu saja batin Arsal berucap.