Just For Me

Just For Me
Pernikahan Arsal



Seminggu berlalu, kini Arsal sedang gelisah mempersiapkan dirinya untuk mengucap janji sehidup semati, untuk selalu setia dan menjaga sang pendamping.


"Ya Allah jika memang ini semua adalah kehendak mu aku ikhlas menerima meski yang akan menjadi patner hidup ku jauh dari apa yang ku bayangkan selama ini." ucap Arsal lirih dalam hatinya.


Suara pintu yang terbuka mengintrupsi Arsal dari lamunannya. Tama yang mengenakan jas formal dengan warna tosca berkerah hitam serta dasi hitam dengan gaya rambut yang di tata sedemikian rupa menambah kesan elegan yang timbul.


"Bang, kita akan berangkat ke hotel sebentar lagi, ayolah segera turun dari kamar mu, tenangkan dirimu brother." Ucap Tama sambil menepuk bahu kakaknya.


"Tama, aku..."


"Ada apa lagi brother? kau ragu?"


"Bukan, emmm."


"kenapa? jika kau ragu, batalkan saja, sebelum kau akan tersakiti atau menyakitinya nanti."


"Tidak Tama, aku hanya ingin bertanya pada mu."


"Bertanya apa bang, jika tentang pernikahan, ayolah aku belum pernah menikah sebelumnya."


"Ya sudah tidak jadi, ayo kita berangkat sekarang."


Mereka pun melangkah pergi, Arsal yang menuruni tangga rumahnya terlihat sangat tampan, bahkan sangat tampan, setelan jas berwarna gading yang membalut tubuh kekarnya serta rambut yang disisir sangat rapi, menambah kejantanan seorang Arsal Ibrahim Arafi.


Jejeran mobil pengiring pengantin sudah bersiap, Arsal dan Tama menaiki Ferrari 488 hitam milik Tama.


Sesampainya di hotel tempat berlangsungnya acara ijab khobul dan resepsi, Arsal menarik nafas panjang, jujur saja dia gugup dan ini kali pertamanya.


Arsal duduk bersebelahan dengan Ayahnya, Syahila memilih pamannya yang menjadi walinya menggantikan papanya yang telah meninggal semenjak ia kecil.


Arsal menjabat tangan paman Syahila, ia gemetar. "Saya terima nikah dan kawin nya Syahila Zenith binti almahrum Bapak Husein Wijaya dengan seperangkat Alat solat dan sebuah Alquran dibayar tunai."


Dengan lantang Arsal mengucap janji sucinya.


Syahila yang mendengar Arsal melafalkan ijabkhobul dengan lantang, mulai meneteskan air matanya.


"Aku tidak tau harus berkata apa sekarang, aku sudah sah menjadi istri seseorang, Arsal aku berjanji akan mengabdikan diri ku pada mu saja." Ucap Syahila dengan gemetar menahan airmata.


Syahila di minta untuk keluar dari kamar riasnya, karena dia harus menemui sang suami, dan menanda tangani surat nikahnya.


Arsal menatap istrinya, dia tersenyum simpul. Bagaimana Arsal tidak tersenyum, Syahila menurut untuk mengenakan gaun tertutup yang Arsal pilihkan, dan lebih baik lagi Syahila mengenakan Hijab di acara ini.


Setelah acara ijab kobul selesai Arsal dan Syahila foto bersama keluarga besar Arsal.


Arsal baru faham bahwa Syahila adalah seorang yatim sejak kecil, sementara Arsal seorang piatu sejak usianya tiga tahun.


Arsal lagi lagi tersenyum melihat penampakan pengantin wanitanya, Syahila bak putri sehari, busananya yaris sempurna seperti yang di fikirkan Arsal.


Gaun pengantin muslimah yang dikenakannya sekarang sangat berbanding terbalik dengan busana kesehariannya.


Begitu banyak media yang datang dan menanyakan alasan Syahila mengenakan pakaian pernikahan seperti itu.


"Syahila, bisa tolong jelaskan mengapa sekarang kamu menggunakan gaun muslimah seperti ini? apakah ada pihak lain yang mensponsori?" Begitulah para media bertanya.


Syahila menanggapi dengan elegan dan tatapan yang berseri.


"Tidak ada sponsor, ini adalah pernikahan saya yang juga di impikan oleh suami saya, saya mengenakan busana seperti ini karena saya fikir ini momen sekali seumur hidup dan saya juga seorang muslim." tegas Syahila.


"Apakah kamu akan hijrah seperti selebritis lainnya?"


"Hijrah? Saya pasti akan hijrah karena hidup saya bukan sendiri sekarang, tentu tapi, saya tidak tahu kapan? jadi harap didoakan saja ya..."


Syahila terlihat anggun malam itu hingga membuat Arsal yaris bangga terhadap istinya itu.


Arsal masih menutupi rasa kagumnya pada Syahila, karena memang Arsal belum sepenuhnya percaya pada Syahila.


Arsal dan Syahila tertawa bersama di atas pelaminan, melihat ulah Tama yang mulai aneh dan di bumbui dengan kehadiran Vara dan Frasa yang sama gilanya dengan adiknya itu.


"Beginikah keluarga mu?" ucap Syahila dingin.


"Ya, ini keluarga ku, kami hangat walau tak terlihat."


"Mungkinkah kita bisa menciptakan keluarga yang hangat?" Syahila bertanya lagi, namun kali ini Syahila menatap Arsal dengan yakin.


"Perbaiki dirimu, dan akan ku coba." Arsal memalingkan wajah dan berbaur dengan para rekannya.