Just For Me

Just For Me
Suasana Baru



Ini aneh aku merasa nyaman berada dikamar ini, sepertinya sudah sangat familiar, tapi apa? Aku tak mengerti suasana baru ini membuat ku sedikit bingung.


Taklama aku terlelap memendam diri di selimut yang nyaman ini aroma selimut ini seperti aroma seseorang yang pernah sangat dekat dengan ku.


Pagi hari ini Dokter Arsal dan istrinya mengajak ku untuk belajar berjalan di taman villa ini, aku sangat menikmatinya, diamana ada padang rumput hijau yang terawat, pemandangan perbukitan serta peternakan di samping villa bahkan disini terdapat kolam yang dipenuhi ikan mas.


"Kak Syhila, kau sangat sabar dalam menghadapi ku, apakah kau tidak lelah?" tanya ku pada kak Syahila yang sedang menuang jus jeruk kedalam gelas ku.


"Ayo minumlah dulu kau pasti lelah." Aku menerima gelas yang ia suguhkan, aku menyesapnya.


Kak Syahila menarik nafas kemudia mengenggam tangan ku.


"Aku ingin bertanya pada mu, apakah kau lelah saat belajar berjalan tadi?"


"Tidak kak, aku tidak akan lelah." Jawab ku dengan semangat.


"Begitu pula aku, jika semangat mu masih menyalah, maka tidak ada kata lelah untuk ku, kau sudah berat menangvung semuanya, jika aku menyerah maka kau akan semakin kesulitan menjalani semuanya, jangan pernah bertanya apakah aku lelah? karena dirimu jauh lebih lelah dari pada aku."


"Kak, kau lah penyemangat ku, bisa kau ceritakan sedikit tentang ku yang dulu, aku sangat ingin tau bagaimana diri ku."


"Kau anak yang tangguh, manis dan bersemangat."


"Benarkah? tapi aku merasa ada yang aneh saat aku menatap foto besar diruang tamu, aku terlalu familiar dengan wajah seseorang, bukankah kita baru saja kembali dari Jerman beberapa bulan yang lalu?"


"Benarkah kau tidak mengenal satupun dari mereka?"


"Aku hanya mengenal mu dan dokter saja ka."


"Ya Allah, Arbell sama sekali tidak mengenal Tama, pantas saja dia tidak menanyakan hal tentang Tama." Syahila bergumam dalam hatinya.


"Ya, baiklah Arbell, sudah waktunya kau minum obat dan istirahatlah, nanti malam aku akan membuat pertunjukan musik dengan Arsal dan diri mu."


Syahila sengaja mengalihkan pembicaraan Arbella karena jika tidak dia akan kehabisan kata-kata.


"Sayang apa yang kau lakukan disini?" tanya Syahila.


"Aku sedang memeriksa kondisi Jaco, lalu apa yang ingin kau lakukan disini?"


"Aku mencari mu, aku ingin berbicara tentang Arbell."


"Ada apa dengannya?"


"Arbell ternyata, tidak ingat tentang Tama, dia tidak mengenal Tama, pantas saja dia tidak pernah menanyakan tentang Tama."


"Itu akan lebih baik, jangan beri tau apapun tentang Tama, sampai anak itu kembali dan memunculkan dirinya sendiri."


Arsal menatap Syahila yang terus menatap Jeco dengan penasaran.


"Kau ingin berkuda bersama ku?" tanya Arsal.


"Dengan dia?"


"Tentu, Jaco sering memenangkan perlombaan, cobalah sekali menunggangnya."


Arsal melepas tali pengikat Jeco, mengeluarkan Jaco dari kandang dan mengajak Syahila berkuda.


Syahila sangat senang setelah beberapa menit berkuda Syahila menyerah, Arsal membantu untuk menurunkan Syahila dari punggung Jaco.


"Syang, Jaco harus masuk kedalam kandang lagi, tapi sebelumnya mau kah kau membantu ku memandikan Jeco?"


"Tentu, aku ingin sekali memandikan binatang sejak dulu tapi ibu selalu melarang, katanya binatang itu dapat menyakiti ku."


"Kau bisa memandikannya sekarang, ada aku yang akan selalu menjaga mu Syahila."


Mereka pun memandikan Jeco dengan hati yang penuh kebahagian.