
Satu tahun berlalu aku sudah selesai dengan semua rencana yang ku buat, surprise untuk Ara pun telah ku siapkan dengan rapi, dengan semua yang telah tersusun rapi ini, mungkin Ara akan kembali mencitai dan melupakan semua salah fahamnya terhadap ku.
Jika kalian ingin tau apa saja dan kenapa aku menghilang selama setahun terakhir ini tanpa ada yang mengetahuinya, semua itu karena aku sedang menyiapkan rumah idaman kami rumah ini sekarang telah selesai di buat, semua desain interior dan furniture yang ada semua adalah sama persis dengan selera Ara.
"Tuan Tama, ada yang ingin bertemu dengan mu di luar sana, seorang pria yang sedikit mirip dengan mu."
"Siapa? mirip dengan ku?suruh dia masuk."
Pelayan menyuruh pria itu masuk, tak ku sangka ternyata abang yang datang.
"Bang Arsal?"
"Ada apa Tama? kau ternyata masih ingat siapa aku? tapi apakah kau masih menghargai ku sebagai abang mu?"
"Abang, kenapa kau bicra seperti itu?"
"Masih haruskah aku menjelaskan semuanya pada mu? setelah sekian lama kau menghilang, Tama apa maksud dan rencana mu, meninggalkan Arbella?"
"Aku sedang membuat kejutan untuknya bang, tahun kemarin tepat diacara penyambuatannya dia marah pada ku bang, dia fikir aku telah menjebak dan menyuruh mu masuk kedalam kehidupannya, dia tidak mau bicara bahkan menjauh dari ku satu minggu lamanya, aku pergi untuk menebus kesalahan ku, aku membuatkannya kejutan selama berada disini, aku membuatkannya rumah tepat di tepi danau pertama kali kita bertemu dan dalam pembangunan itu terjadi banyak masalah bang." Tama berusaha menjelaskan namun Bruak... bruak... Arsal mendaratkan genggamannya di pipi Tama, sampai darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Ada apa ini bang?"
Arsal pun meninggalkan rumah mewah itu dengan penuh seringai dan amarahnya.
********
Hari ini Arbella menjejakan kembali kakinya di kota ketiga terbesar di Swiss yaitu kota Basel, kota yang menjadi pusat perobatan dan industri kimia, disana Arbella memulai hidup barunya, dengan dirinya yang baru, gadis pintar itu memutuskan untuk pergi dari Indonesia, karena menurutnya dia hanya akan merepotkan Arsal dan istrinya.
"Hallo sayang kau berada dimana sekarang? apakah kau sudah menjejakan kaki di apartemen mu itu?"
"Haha, iya kak aku sudah sampai, apartemen ino sangat bagus kak, oh ya Basel sangat menyenangkan."
" Baguslah jika kau menyukai semuanya, besok Kak Arsal sudah mengatur jadwal mu untuk menemui dokter Alvin dirumah sakitnya, aku kan kirimkan alamatnya, dan setelah itu kau harus pergi ke universitas untuk memilih fakultas dan pematangan mata kuliah mu, baiklah sepertinya aku harus mengakhiri panggilan, pekerjaan ku sudah menumpuk."
"Baiklah kak, aku tau kau adalah istri yang super sibuk di jam seperti ini, terimakasih karena telah perduli pada ku, kau yang terbaik kak."
Mereka mengakhiri sambungan ponselnya.
Arbella dinyatakan sembuh tiga bulan lalu, Arbella sudah bisa berjalan dengan baik, maka dari itu Arsal dan Syahila mengizinkannya untuk pergi, tapi Arsal tidak melepaskannya begitu saja, dia masih memata matai Arbella dan juga menugaskan dokter Alvin sebagai dokter pribadi yang akan terus merawat dan memantau segala hal tentang dirinya.