Just For Me

Just For Me
Adivara



Sejujurnya aku ingin kembali merawat dan menjaga ayah di rumah kami yang menyimpan banyak kenangan, namun apa daya suami ku Frasa, tidak mengizinkan aku berada di Indonesia untuk saat ini.


Kehamilan ku yang ke2 menjadi alasannya, karena kehamilan ku sedikit bermasalah, kami hampir selalu bertengkar di setiap cek up dua Minggu sekali.


seperti saat ini sepulangnya aku dari rumah sakit Frasa tidak bertanya lagi pada ku, dia mendiami ku, dia hanya tersenyum dan bercanda bersama putri kecil kami.


Melunturkan ego adalah hal yang paling susah, berulang kali aku berbohong menutupi rumah tangga yang sudah di ujung tanduk ini.


Bermula dari kepindahan kami sekeluarga ke Belanda, Frasa saat marah karena aku masih menyimpan nomer telpon salah satu dokter spesialis bedah, yang saat itu tidak tau jika aku dan Frasa sudah menikah.


Berawal dari kecemburuan, Frasa seakan acuh pada ku, kemudian saat kehamilan ku yang kedua, di bulan pertama, aku mabuk berat, Frasa hanya berkata "Sabar, dan bila kehamilan mu sangat menggangu, bagaimana jika kita lakukan saran dokter?" bagaimana aku tidak marah, mengikuti saran dokter adalah menggugurkan nya.


Kehamilan ku memang bermasalah dari awal, dokter tidak mengizinkan aku untuk mengandung kembali, karena terdapat gejala miom disana, ini baru kami ketahui setelah awal kehamilan, dari sana dia selalu membujuk ku agar mau menggugurkan janinnya, aku selalu menolak, dan itu membuat ku harus memilih antara dia dan bayi ini.


"ok! Kalau kamu tidak mau menggugurkan kandungan mu, maka kita akan bercerai! pilih aku atau dia?" hati ku hancur Frasa sudah tidak mencintai ku lagi?


"gimana bisa aku memilih, satu suami ku, dan yang satu adalah darah daging kita?"


"Vara! aku tidak bisa melihat mu selalu merasa sakit, aku belum siap untuk kehilangan semuanya, Vara sebelum terlambat, sebelum bayinya ber ruh... aku mohon."


"maaf, aku gak bisa, kecuali ia luruh dengan sendirinya, jika untuk membunuh aku tidak mau." Dan pertengkaran itu selalu terjadi dengan tema yang berbeda di setiap harinya.


Seperti malam ini aku dan putri ku sudah lelap tertidur sejak bada isya tadi, namun pukul dua dini hari Frasa baru kembali, wajahnya suntuk dan muram, sebagai seorang yang sangat mengenal dan memahami Frasa, aku menyapanya dengan penuh hormat.


"Kamu baru pulang sayang?" tanya ku.


Dia hanya tersenyum sinis di depan wajah ku.


"kamu marah pada ku? Sayang? perlu kita bicara?" tanya ku lagi, namun Frasa diam dan berlalu menuju kamar mandi, sepertinya dia mandi karena suara keran air begitu kencang, benar saja dia keluar dengan handuk di pinggangnya.


"Kembali lah ke rumah ayah mu, aku akan mengantar mu!" tegasnya.


"maksud mu?"


"Kita akan berpisah, sampai kehamilan mu selesai, aku akan menceraikan mu."


"jelas, alasannya sangat jelas, kita tidak bisa bergandengan lagi."


"itu bukan sebuah alasan yang cukup! kamu tidak pernah mau terbuka dan mempertahankan semua ini! Frasa!" dengan tegas aku menyebut namanya.


"Bagaimana dengan anak² nanti? bagaimana dengan putri kita? kau tega melihat dirinya dengan ayah dan ibu yang terpisah?"


Frasa berbalik menatap ku saat lilitan perut ku semakin sakit, air mata sakit mengalir deras, Frasa menatap simbahan darah yang berada di lantai.


"Vara?." dia berlari dan mencari pertolongan menuju rumah sakit.


Dia masih menggenggam tangan ku, aku hanya bisa menyebut nama Allah, aku tidak pernah perduli lagi tentang aku dan Frasa, yang jelas aku belum mau mati.


Tindakan operasi segera di lakukan, Frasa sedari tadi hanya mampu merutuki kebodohan dirinya.


"Maaf Vara, aku harus melakukannya, oprasi itu harus segera berjalan, aku tidak mau miom mu membahayakan diri mu, Ya Allah maafkanlah aku, ini semua demi istri yang sangat hamba cintai."


Beberapa jam berlalu, Vara keluar dari ruangan oprasi dan di pindahkan ke ruangan observasi.


Frasa menemui sang dokter yang sangat di percaya oleh dirinya.


"Tuan Frasa?"


"Ya, dokter bagaimana keadaan istri saya?"


"operasi sesuai dengan rencana, miomnya sudah kami keluar kan, beruntung, cepat di tangani, janinnya harus luruh, namun nyonya Vara mengalami pendaran, kami sudah melakukan transfusi, untuk sementara waktu nyonya lebih baik dirawat secara intensif di ruang ICU, kami takut tekanan darahnya akan kembali naik dan emosinya tidak stabil."


Frasa hanya bisa menarik nafas panjangnya, menatapi istri yang paling ia puja terbaring lemah dengan mata tertutup.


"maaf Vara, seharusnya aku tidak berbuat ini pada mu,tidak ada pilihan lain selain bersandiwara dengan semua ini, tujuan ku membahayakan diri mu, namun aku lega tidak akan menatap kematian mu lebih cepat, walau pun aku sadar dalam tindakan ku kau bisa saja mati."


Air mata Frasa menetes mengucap maaf dalam hati berulang kali.