Just For Me

Just For Me
Basel



Hari ini adalah hari dimana Arbella memulai menjalankan perusahaan yang dimiliki Arsal, perusahaan besar dengan tenaga kerja 1200 orang, perusahaan yang bergerak dibidang obat obatan ini sudah lama dimiliki Arsal namun, sekarang karena Arsal berada di negara lain perusahaan ini ditangani dan dikelola oleh negara. Arsal meminta beberapa persen sahamnya untuk di kelola kembali oleh Arbella.


Arbella hanya dapat tersenyum dengan perlakuan para karyawan yang terlalu berlebihan dalam memperlakukannya.


Arbella adalah yang paling muda diantara mereka yang rata rata bertaraf S2 bahkan profesor, oh ya...


Arbella bukan hanya mengelola namun ia berusaha untuk menamatkan S1nya itu.


Arbella telah bertemu dengan dokter Alvin, dokter muda itu siap memantau kondisi adik ipar dosennya itu.


Malam ini Arbella mengamati kota Basel dari balkon apartemennya.


"Sepi, tidak ada tawa canda disini, hanya aku ya... hanya aku, Papa aku merindukan mu, entah berapa lama kau meninggalkan ku, namun semua itu tidak akan pernah hilang dalam fikiran ku." Arbella masih melamun dengan tatapan kosongnya.


"Mengapa sekilas aku terbayang akan hadirnya, tidak itu tidak mungkin pria itu... pria yang selalu datang dalam mimpi ku, siapa dia mengapa bayang nya selalu menakutkan?"


Arbella memutuskan untuk terlelap sejenak.


Pagi pun tiba ia telah berkutat dengan segudang kesibukan paginya, sarapan, mandi dan segera berangkat menuju perusahaan itu.


Arbella menuju halte tempat pemberhentian bus yang akan membawanya pergi ketempat tujuannya, mobil pribadi sebenarnya sudah disiapkan oleh Arsal dan Syahila bahkan pengurus rumah pun sebenarnya sudah disiapkan namun sikap mandiri anak ini mulai tumbuh dengan cepat, ia menolak adanya asisten rumah tangga, bahkan mobil pun hanya terparkir rapi di basmant apartemen.


Arbella sudah sampai di depan kantornya kini ia berada di toilet untuk merapikan baju dan penampilannya.


Sebuah lip ballm di poles pada bibir naturalnya yang memang sudah merah merekah. Arbella tidak mengenakan bedak atau sejenisnya, wajah yang memang sudah terlihat cantik dan mengagumkan itu membuatnya tidak perlu mengunakan make up.


"Selamat pagi nona, anda begitu bersemangat hari ini, apakah anda telah bertemu seseorang?"


"Ya, saat aku bertemu kalian wajah ku menjadi secerah dan bersemangat." jelas Arbella, ia pun duduk di kursi dan menjalankan beberpa tugas dan mengecek beberapa laporannya.


Pada awalnya kemarin dia tak mengerti apapun tentang semua itu, namun ketika ia mencoba membaca beberapa dokumen dia mulai mengerti dan faham bahkan sekarang dia sudah menguasai banyak hal, tidak semua tapi 75% nya dia sudah bisa melakukannya dengan baik.


Arbella keluar ruangannya untuk makan siang. Ketika berada di resto seorang pria menatapnya dengan tajam, dia tak mengerti sipa pria itu, Arbella menunduk sampai selesai makan.


Selepas dari itu semua Arbella kembali ke kantor dan menyelesaikan jam kerjanya, karena setelah ini dia akan mengikuti kuliah malamnya.


Arbella mengambil tas kemudian bergegas, semangatnya membuat rasa lelahnya hilang, ia mau kuliah dan gelar sarjananya selesai di awal tahun depan yang hanya berjarak 10 bulan dari sekarang.


Cuaca di Basel kurang mendukung sekarang salju turun di bulan ini suhunya pun menjadi sangat minim, banyak orang yang terkena influenza, Arbella sangat menjaga suhu tubuhnya karena hanya dengan kedinginan sebentar saja dia bisa segera mimisan.


"Ya Tuhan, setiap malam aku harus mengeluarkan selimut selimut tebal ini, kemudian ketika pagi dan siang hari pakaian tebal selalu ku gunakan, Kakak aku ingin kembali ke Indonesia." Keluhnya pada seseorang di telfon.


"Bersabarlah, ini kemauan mu bukan? memilih Basel untuk meneruskan pendidikan, oh ya, mungkin ketika kau menamatkannya dia sudah hadir di dunia ini."


"Maksud mu?"


"Aku telah hamil sekarang Arbell, jika dia wanita, dia akan secantik dirimu, dan jika pria akan setampan ayahnya."


mereka bercakap begitu lamanya hingga tak sadar waktu pelajaran akan di mulai.