Just For Me

Just For Me
Penampilan Syahila



Pagi hari ini Syahila mengepak pakaiannya, buka ingin pergi tapi Syahila mulai ingin melepas pakaian yang menurut suaminya itu kurang bahan dan tidak layak untuk di kenakan.


Arsal masuk kedalam kamar menatap istrinya yang mengosongkan lemarinya memindahkan pakaian pakaiannya kedalam pelastik besar.


"Mau dikemanakan semua pakaian ini?" tanya Arsal lalu duduk di samping istrinya itu.


"Mungkin akan buang atau ku lelang, atau mungkin akan ku berikan pada sejumlah teman ku saja."


"Lalu apa kau yakin tidak akan mengenakannya lagi, atau tidak menyesal jika membuang semua ini?"


"Tidak, aku tidak akan pernah menyesal dengan semua yang aku lakukan, aku sadar semua ini tidak baik untuk ku."


"Baiklah jika kamu memang sudah menyadarinya, oh ya... siang ini kita akan keluar untuk menghadiri makan siang dengan mrs. Marlin."


Mrs. Marlin adalah seorang wanita cantik yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Arsal di Jerman, dia datang ke Indonesia hanya untuk penandatanganan proyek baru perusahaan yang di dirikan Arsal, Mrs. Marlin juga sudah berkeluarga, jika belum maka dia sangat sempurna jika berdampingan dengan Arsal.


"Baiklah aku akan bersiap, oh ya kak, kita bawakan apa untuk rekan mu itu?" Tanya Syahila dengan ramah.


"Kau benar, seingat ku Mrs Marlin memang baru kali ini datang ke Indonesia, kita memang perlu memberi hadiah padanya, kerena dia juga sangat dekat dengan ku." Syahila diam saat suaminya mulai mengarahkan pembicaraan keranah yang mungkin akan menjadi salah faham.


"Dekat? seperti sahabat?"


"Tidak, lebih dari itu, masalah dia adalah masalah ku dan begitu pun sebaliknya, kami tidak bisa dijabarkan." Arsal memang sengaja, dia tau istrinya mulai curiga.


Arsal berlalu menuju ruang tamu, dia mendapat beberapa notifikasi dari email dan medsos.


"Apa? Tama dan Arbella pergi? untuk apa mereka meninggalkan negri ini, apa anak itu sudah konslet ya otaknya, Arbella masih butuh banyak perawatan." Ucap Arsal geram oleh tingkah adiknya.


Baru saja Tama menikah diam diam tanpa sepengetahuannya dengan Arbella seminggu lalu dan kini mereka pergi jauh dari negara ini.


Syahila menemukan Arsal dengan wajah kesal nya.


"Kak, aku sudah siap, bagaimana?"


"Hila, apa aku tidak salah lihat?"


"Ada apa kau tidak suka juga pakaian ini? baiklah akan ku ganti."


Syahila melangkah pergi namun Arsal memeluknya dari belakang.


Tepan di depan mereka terdapat cermin yang menampilkan ke anggunan Syahila yang di rengkuh erat oleh Arsal.


"Kau sangat cantik dengan semua ini, jangan di ganti, pakai ini saja untuk pergi."


Balutan baju terusan berlengan panjang dengan warna abu dan hitam serta hijab berwarna hitam yang membalut tubuh proposional Syahila menjadi daya tarik untuk Arsal.


Make up yang di pakai Syahila juga sangat natural membuat Arsal ingin memeluknya seperti itu terus.


"Kak, kita harus berangkat, jika tidak kita tidak akan mendapat hadiah untuk Mrs Marlin."


"Memang kau mau mencari hadiah apa untuknya?"


"Aku ingin belikan dia kain tenun atau aksesoris khas Indonesia, aku sudah memesannya lewat rekan ku, kita tinggal ambil barangnya di Jl Diponegoro.


"Baiklah kau mau berjalan seperti ini atau mencium ku, lalu berjalan normal?"


Tanpa pikir panjang Syahila mencium bibir Arsal dengan cepat.


"Aku tidak bilang harus bibir kan Hil?"


"Jika ku cium di pipi kau juga pasti akan mengerjai ku kan?"


Arsa tersenyum dengan ramah dan gembira.