
Malam ini aku mengetuk pintu apartemen milik Ara, ya.... aku hanya mengetuk pintunya tanpa berniat mengetuk hatinya, berharap dia dapat membuka pintu itu, aku sama sekali tak berharap dia akan membuka hatinya untuk ku, mengingat apa yang telah ku lakukan padanya, menikahinya dengan paksa tanpa kesadarannya, meninggalkannya, dan bahkan aku melukai perasaan terdalamnya hingga ia membenci ku dan tak mengingat ku lagi.
bel berbunyi....
"Siapa malam malam begini bertamu, dokter Alvin tidak mungkin datang selarut ini hanya untuk memastikan keadaan ku." ucap Arbella sambil membuka pintu.
Arbella terpaku saat sosok Tama berdiri tegap di hadapannya.
"Tuan Aditama? ada perlu apa semalam ini? oh ya... maaf silahkan masuk." ucap Arbella.
"Aku hanya ingin memastikan kau dalam keadaan baik baik saja, wajah mu tadi terlihat pucat."
Tama duduk tepat di hadapan Arbella kini, dia menatap istrinya itu dengan penuh ketelitian.
"Tuan, aku dalam keadaan baik, sebaiknya tuan kembali saja, aku bisa menyelesaikan masalah ku sendiri."
"Kau keberatan jika aku ingin menemani mu malam ini?"
"Tidak tuan, tapi aku hanya butuh waktu untuk istirahat."
"Jika begitu biar aku menemani mu istirahat, aku akan tetap berada di sini."
Arbella mulai geram, emosinya mulai tersulut.
"Tuan Aditama! sebenarnya siapa kau ini, aku tidak mengenal mu? kau ini siapa selalu saja seperti orang yang sangat mengenal diri ku!"
Tama hanya diam, dia tidak mau dirinya hanyut dan memberi tau semua pada Arbella, ini belum waktunya.
"Maaf tuan, tapi ini privasi ku, kau tak perlu ikut campur."
"Nona Roberts, aku ingin bicara sesuatu pada mu."
"Bicarakan saja sekarang!"
"Nona Roberts, salahkah jika aku mulai menaruh rasa dan juga perhatian pada mu?"
Arbella hanya menunduk dia tak tau harus berkata apa lagi, baginya hatinya hanya memiliki satu nama, seorang dalam mimpinya, seorang yang selalu saja bersikap kasar namun sangat ia cintai, bayangan akan pria tersebut selalu menghantui Arbella, namun rasa cinta pada pria itu tumbuh begitu saja.
"Maaf Tuan Aditama, aku tidak bisa menjawabnya, rasa mu tidak salah, tapi aku tidak berhak menerima itu semua, seseorang disana telah menunggu ku, dan aku sangat mencintainya, aku tidak bisa membalas semua perasaan mu atau perhatian mu kepada ku, maaf tuan, tapi ini saat nya kau untuk pergi." Tanpa berani menatap Tama Arbella menunjuk pintu, menyuruhnya keluar.
"Nona Roberts apakah seseorang itu Alvin?"
"Bukan, dia bukan Alvin.
Tama keluar dari dalam ruang apartemen milik Arbella dan kembali ke ruangannya.
Jika memang hati mu telah dimiliki yang lain, maka aku akan berusaha untuk merebutnya Ara, kau milik ku dan hanya untuk ku, aku mencintai mu dan tidak ada yang bisa mencintai mu seperti aku.
Tama bersandar pada sofa dan kembali mengingat betapa banyak waktu yang telah ia buang hanya untuk mencapai mimpi semu, semua yang ia buat untuk Arbella hanyalah hal yang sia sia, hunian yang ia buat hanya untuk hidupnya dan Arbella malah terbengkalai dan tak dapat membantunya merebut dan meluluhkan hati istrinya, bahkan penyebab utamanya adalah hunian tersebut.
"Ara, beribu kali kau menolak, maka beribu kali aku akan tetap berada di samping mu, Ara aku mencintai mu lebih dari apapun."
Begitulah Tama bahkan ia melempar gelas wine yang ada di tangannya.