
Hari sudah semakin sore, hingga Azan Maghrib pun berkumandang, Arsal yang dalam perjalanan menuju huniannya, menepikan mobil di sebuah masjid besar yang tak jauh dari apartemen mewahnya.
Sementara Syahila di kediamannya baru saja selesai dari aktifitasnya di luar rumah, beberapa kantung belanjaan super market dia taruh di atas meja, dia pun berlari kecil menuju kamar mandi dan setelah mandi ia pun melaksanakan solat Maghribnya.
Dilain tempat seseorang menggenggam erat ponselnya yang barusaja menjadi pusat informasi dari kekesalannya itu.
"Oh, jadi wanita yang dianggap berbeda dan membuat dokter berpaling adalah wanita seperti dia, cantik, sensual, dan murahan, aku tak percaya ibu dari calon pewaris Arafi adalah seorang perempuan sejenis dia." Ya, siapa lagi wanita yang berucap seperti itu jikalau bukan Arbella, wanita yang masih penasaran dengan seorang Arsal Ibrahim Arafi.
Arbella masih *** ponselnya itu, seorang perawat yang menyaksikan kekerasan hati Arbella pun melapor pada sang dokter.
"Tuan, sepertinya, kali ini nona akan mengamuk lagi, itu tidak bagus untuk fungsi otaknya tuan."
"baiklah, masukan saja beberapa obat anti depresan pada jadwal obatnya malam ini, jangan lupa laporkan lagi pada ku apapun perubahan pada Arbella."
"Baik Tuan." Turut seorang perawat yang diperintah Arsal secara detail.
Jam dinding menunjukan pukul 20.00 Arsal telah sampai dirumah, sang istri pun kini telah bersedia untuk memasak menu ringan untuk makan malam. Arsal mencium kening istrinya yang menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Terimakasih sudah percaya pada ku, aku tau istri ku memang pandai." Ucap Arsal penuh senyum, kini Syahila sudah ada dalam rengkuhannya.
"Aku juga sama berterimakasih karena kau mengizinkan ku untuk membuka jati diri mu pada publik." Ucap Syahila sambil menangkup kedua pipi Arsal.
"Kau lelah? mengapa masih memasak untuk makan malam?"
"Aku lelah, tapi makanan yang ku buat selalu habis bersama mu, jadi lelah ku hilang saat itu juga."
Mereka berlalu dengan senyuman dan kecupan manis yang Arsal buat di bibir penuh Syahila.
************************
Tama yang mulai bosan dengan semua siaran di televisi, memutuskan untuk mengambil jaket navy nya dan bergegas dengan mobil limeted edision nya, memecah jalanan ibu kota yang mulai sepi.
Tama masuk kedalam rumah tanpa mengetuk pintu lagi, mobilnya pun masuk dengan mudah kedalam gerbang menjulang itu, alasannya adalah karena Arsal mengenalkan dia sebagai tuan yang sebenarnya di dalam kastil itu.
Tama menatap gadisnya yang sendirian di balkon kamarnya itu dengan perasaan tak karuan.
Tama mendekap gadis itu dari belakang tangannya melingkar dengan kurang ajar di pinggang wanita itu.
"Ara, kau merindukan ku? merindukan setiap rengkuhan ku?" Arbella yang terkaget reflek membalikan badan.
Dia menatap Tama penuh takut dan tak percaya.
"Ka.. kau? bagaimana bisa kau ada disini, pergi! pergi !" Arbella berontak dengan semua prilaku Tama.
"Aku akan pergi, setelah menikahi mu, dan membuat mu bahagia cinta ku." Rayu Tama yang semakin mengeratkan pelukannya.
Tama menciumi setiap sudut wajah Arbella dengan teliti, saat dirinya mulai tenang karena pengaruh obat.
"Bagaimana? kau mau menikah dengan ku, atau memulai malam pertamanya dulu sekarang?" Tama bertanya denga wajah kejamnya.
"Aku tidak akan menikah dengan mu apapun yang terjadi!" Ucap Arbella dengan penekanan.
"Benarkah? Pelayan semua nya masuk!" ucap Tama pada ponselnya.
Tak lama beberapa orang sudah masuk kedalam rumah besar itu.
Arbella dipaksa untuk mengenakan gaun pengantin, ada beberapa ustad dan penghulu, serta wali sah nikah Arbella yang setuju dengan rayuan rayuan Tama sebelum ia mantap melancarkan aksinya.
"Kau tidak setuju maka itu tidak berarti untuk ku, kita akan tetap menikah."
Arbella yang masih terpengaruh obat hanya diam dan tenang saat mereka mendandaninya.