
Tama yang sudah siap dengan semua rencananya sedari minggu lalu tanpa diketahui sang kakak, hanya tersenyum saat Arbella turun kelantai dasar dengan gaun pernikahannya.
Semua terpanah dengan kecantikan gadis kecil ini. Zulfikar yang hadir dengan sejuta tanya, mengapa anaknya senekat dan dadakan seperti ini menikahi anak orang di jam tengah malam seperti ini.
Arsal sengaja tak diberi tahu, kerena Arsal pasti datang dan membuat Arbella histeris lagi.
"Ayah, maaf sudah mengganggu mu di malam seperti ini." ucap Tama pada sang ayah.
"Bersyukurlah hujan tak begitu deras, Tama apakah kau menikahi gadis belia? kau bukan pedofilkan Tama?" Tanpa banyak bicara Tama segera memulai ijab kobul dengan wali sah Arbella, yaitu pamannya adik dari ayah Arbella yang telah lama meninggal.
Ijab khobul terlaksana dengan baik, saat ini Arbella pun telah sah menjadi istri Tama, bahkan sudah di legalkan oleh kator urusan Agama.
"Ara, mudah bukan untuk menikahi mu, bukan suatu yang sulit." ucap Tama pelan saat mereka sudah ada didalam kamar pengantin yang disiapkan Tama dengan bantuan para anak buahnya itu.
"pernikahan dadakan ini membuat mu lelahkan melawan ku, lebih baik tidur, sebelum aku berubah pikiran dan membuat mu tidak bisa beraktifitas lagi besok pagi." Ucap Tama yang mulai tersenyum karena semua usahanya berjalan dengan baik.
Arbella sudah tidak bisa melawan lagi obat itu terlalu berat, hingga untuk bicara pun Arbella tak sanggup, mencari aman, dia pun menuruti semua perintah Tama, dia pun tertidur di samping Tama, dan Tama pun memperlakukan Arbella dengan baik.
Mentari pun masuk menyilaukan dua sejoli bertepuk sebelah tangan yang tidur satu ranjang karena pernikahan dadakan semalam.
Arbella membuka matanya, dia sudah mendapat kesadarannya secara penuh sekarang. "Aaaa.... kau kenapa kau ada di tempat tidur ku paman!!! keluar!!!" bentak Arbella yang memecah seluruh ruangan.
Tama hanya menatap Arbella dengan senyuman yang paling di benci Arbella.
"Apa buktinya jika kau suami ku, aku tidak pernah menikah dengan mu, karena aku tidak mencintai mu!"
cup...
"kau terlalu berisik di pagi seperti ini, ini buktinya." Sahut Tama setelah mengecup Arbella, dengan mengambil buku nikah dari nakas di sampingnya.
Arbella mematung melihat semua yang terjadi, bagaimana bisa dia menikah dengan pria seperti Tama.
Arbella mengenal Tama sebagai pribadi yang pemaksa, egois dan keras kepala, dia tau karena pernah bersama Tama di Inggris waktu itu. Meski hubungan singkat yang awalnya hanya teman, namun dianggap beda oleh Tama.
Tama jatuh cinta pada Arbella saat Arbella mengeluarkan beberapa sisi manisnya hanya untuk Tama, sementara Arbella juga pernah memiliki rasa yang sama, namun Arbella merasa dirinya tidak pantas untuk Tama, saat dia tau bahwa dirinya memiliki penyakit yang sama seperti mendiang ayahnya. Alasan demi alasan Arbella munculkan sampai akhirnya Arbella pergi dan bertemu dengan Arsal yang notabene nya adalah dokter pribadinya.
Cup..
Satu lagi kecupan mendarat di bibir Arbella yang mungil dan pink itu.
"Kau masih saja terpana dan kaku seperti itu princess."
Arbella terbelak saat Tama menyentuh bibirnya itu. "Kau bisa jadi suami ku tapi tak bisa meluluhkan hati ku untuk alasan apapun." jawab Arbella.
"Kau mengatan begitu tapi tubuh mu tidak sayang." ucap Tama, Tama pun pergi meninggalkan Arbella sendirian.