
Kala waktu berlalu begitu cepat hingga kini aku tak menyadari bahwa semuanya telah terjadi penikahan yang penuh dengan keterpaksaan, pernikahan yang membuat aku entah menyesal atau bersyukur.
Tuhan mengapa kau pilihkan dia didalam hidup ku, mengapa harus dia yang menjadi suami ku.
Aditama Yusuf Arafi, seorang yang pernah memberi rasa namun ku coba abai padanya, seorang yang ku kenal egois, tempramental dan hal buruk lain untuknya.
"Ada apa dengan diri mu my love?" Tama kini berada tepat di samping ku menatap ku dengan lekat, aku hanya bisa menyapanya dengan senyuman.
"Jika kau baik baik saja tak mungkin air wajah mu muram begitu."
Di meraih kedua tangan ku menggenggamnya dan mengecupnya.
"A..aku sungguh tidak apa apa." Ucap ku bergetar penuh dengan perasaan yang bercampur.
"Ayah dan keluarga besar ku akan mengadakan pertemuan, apakah kau bersedia untuk hadir?" Tanya nya pada ku, aku. Dia menggulung lengan kemejanya sampai sesiku, Tama memang baru saja kembali dari kepergiannya satu minggu lalu.
Aku menghadap menatapnya, aku ingin memeluknya dan tak ingin melepasnya namun sejuta keraguan itu muncul lagi, kata hati ku bicara, Tama bukan untuk ku, Tama hanya seorang teman yang merasa kasian kepada ku.
Air mata ku jatuh saat menatap Tama yang tersenyum sambil menatap ku.
"Paman, boleh aku bicara?"
"Ya, katakan saja, kau bebas bicara sayang." Aku mensejajarkan pandangan, kemudian mengenggam tangannya.
Aku tertunduk, menahan sejuta rasa kalut di sore ini.
"Bisakah aku meminta sesuatu pada mu?"
"Kau bebas meminta apapun dari ku Ara."
"Aku tidak ingin hadir di acara itu." Tama menatap ku dengan penuh tanya.
Dia mengangkat dagu ku agar menatapnya.
"Dengarkan aku, apapun yang ada dalam fikiran mu itu semua tidak akan terjadi, mereka semua akan tetap menerima mu sayang ku."
"Tetap saja aku tidak akan hadir."
"Ara, ku mohon sekali ini saja kabulkan satu permintaan ku ini." Aku pun membalikan badan membelakanginya.
"Maaf paman, bagi ku ini terlalu sulit."
"Aku tau ini hal yang tak mudah untuk mu, aku kan tetap membawa mu kesana, karena setelah pertemuan itu kita sekeluarga akan pergi berlibur ke Vila keluarga ku."
Dia memeluk ku dari belakang menyalurkan sejuta kehangatan yang ada pada dirinya yang mungkin sangat jauh di dijangkau untuk orang lain.
Aku masih dalam penolakan ku dan masih tetap pada rengkuhannya, aku mencintai mu paman, sunguh, tapi berjuta kecewa akan hadir saat semua itu terjadi.
"Ara, ku mohon pada mu, kabulkan keinginan ku untuk satu kali saja." Dia terus memohon pada ku, dan jujur aku menikmati saat saat ia membujuk ku seperti ini.
Senja di hari ini ku nikmati bersama suami ku tercinta, seorang yang ku panggil paman namun sangat ku cintai, love you my prince.
Aku tersenyum menatapnya penuh dengan kasih, aku ingin menolak namun terlalu berat untuk menolak.
"Baiklah aku akan datang, tapi tidak untuk menginap, aku juga tidak akan ikut ke villa keluarga mu, karena aku tidak mau mereka tau aku sakit dan semenderita ini."
"Tarik kembali semua ucapan mu itu Ara, selama kau berada di samping ku, maka kau tidak akan pernah menderita, kau wanita yang beruntung mulai sekarang." Senyuman dan kebahagiaan menyelimuti hati ku sekarang.
"Terimakasih, karena telah menerima ku."
"Ara seharusnya aku yang berucap begitu." Kami pun tertawa menikmati senja yang begitu indah.