Just For Me

Just For Me
Perjalanan



"Aku paham sekarang tentang siapa Tuan Aditama sebenarnya."


"Aku tidak bisa kembali pada mu, meski aku sangat mencintai mu."


Buliran air mata berjatuhan dari kelopak mata Arbella, dia merapihkan dan mengemas barang barangnya kedalam koper.


"Ini adalah keputusan ku, pergi sejauh mungkin dari mu, aku mencintai mu namun kebersamaan ini malah akan menghancurkan mu, Paman berulang kali aku menjelaskan mungkin kau tidak akan mengerti mengapa hati ku begitu kuat untuk berpisah."


Arbella dengan lirihnya menatapi seluruh penjuru ruangan, dimana ada jejak kenangan ia bersama Tama. Ia berusaha menguatkan hati dan memantapkan langkahnya.


"Aku hanya butuh pergi sejauh mungkin darinya, aku hanya butuh tak bertemu dengannya dengan semua itu aku bisa melupakan dan hidup tanpa bayangannya, aku bisa menjauh darinya."


Arbella membuka pintu kamarnya dan melangkah menjauh dari apartemen itu, namun ada mata lain yang mengawasinya dari jauh, siapa dia? Dia adalah Aditama, ya...


Tama terus mengintainya, dia mengawasi setiap pergerakan Arbella.


"Sejauh apapun kau pergi, dan seberusaha apapun dirimu, kau tidak akan pernah lepas dari ku, takdir akan terus mempersatukan kita, kau mau atau tidak itu yang akan terus terjadi." ucap Tama dengan menggenggam stir mobilnya.


Arbella memberhentikan taksi dihadapannya, sesampainya di dalam taksi Arbella malah menangis dan menatap laju kendaraan yang membawanya.


Arbella sudah ada di Airport sekarang, dia menuju tempat untuk melakukan boarding, Arbella memilih kembali ke tempat dimana tidak akan ada orang yang bisa menemukannya lagi.


"Tidak keluarga Tama atau pun Tama, aku hanya mau sendiri saat ini, meski aku sangat mencintai mu Paman aku tidak akan pernah rela jika dirimu terluka, terutama di tangan yang tak seharusnya melukai mu."


Arbella melakukan semuanya bukan atas dasar tidak mencintai Tama, Arbella hanya takut ancaman yang di berikan oleh seseorang itu benar benar terjadi, seseorang yang telah menghancurkan semua ingatannya tentang Tama, seseorang yang nyaris membunuhnya dengan Tama.


"Paman, kau adalah pria terbaik ku, kau akan bahagia tapi tidak dengan ku, aku akan selalu mencintai mu walau kita tidak akan pernah bersatu."


"Lepas! lepaskan tangan ku!" berontak Arbella, namun pria itu menggendongnya dan membawanya pergi, security dan beberapa orang mengejar, namun mereka kehilangan saat pria itu menaiki mobil dan pergi.


Arbella hanya bisa menangis, saat pria yang mengenakan masker itu menatapnya dan menutup matanya.


"Kau tau lebih baik diam dari pada terus menangis seperti itu kau hanya akan membuang waktu dan tenaga mu saja nona."


Arbella ingin sekali menampar dan mengamuk, namun apa daya tangannya terikat dan mulutnya tertutup.


"Siapa sebenarnya mereka apakah mereka adalah orang suruhan Lukas?" batin Arbella.


Lukas adalah seorang pria yang terobsesi dengan kehidupan Arbella, kematian ayah Arbella sebenarnya adalah sebab dari Lukas, bahkan pertemuannya dengan Tama pun semua itu telah direncanakan oleh Lukas.


Lukas yang membunuh ayah Arbella, namun semua kasus itu mengarah pada Tama, karena di tempat kejadian ada Tama dan Tama yang menolong ayah Arbella.


Kilas balik 10 tahun lalu...


Tama sedang berjalan memeriksa kondisi gedung yang akan menjadi tempat untuk mendirikan perusahaan nya, Tama melihat dua orang pria yang sedang saling memegang pistol, yang satu pria tidak terlalu tua sekitar 40 tahun, namun yang satu lagi masih muda kira kira lebih tua dua tahun dari Tama.


Mereka yang bersi tegang, sang pria muda meletupkan pistolnya tepat di jantung pria 40 tahun itu, dan meninggalkannya pergi.


Tama membawa pria itu ke rumah sakit dan mendapat penjelasan dari dokter bahwa pria tersebut adalah pasien rumah sakit yang diculik dan dia menderita gangguan syaraf.


Tama pun pergi dan memantau keadaan pria itu, namun Tama harus pergi untuk perjalanan bisnisnya.