
Arsal kembali ke hotelnya, dia mulai membuka ponsel dan mengecek beberapa jadwalnya selama ada di sini.
Syahila keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang di balut saja.
Arsal menatapnya penuh dan dingin.
Syahila yang nampak malu pun kembali masuk kedalam ruangan berdinding marmer itu.
Ketika telah berpakaian Syahila keluar, dia menanyakan sesuatu pada Arsal.
"Kak, bisa kau mengantar ku ke rumah sakit? aku sangat merindukannya." pinta Syahila pada suaminya yang tetap menatap laptop kesayangannya.
"Ini sudah malam, besok pagi saja, lagi pula aku sangat lelah." Arsal berdiri tanpa menganti kemejanya dia tersungkur di ranjangnya.
Wajah kecewa Syahila muncul, dia duduk dan mengentikan jarinya di meja kaca. Tepat tengah malam Arsal terbangun, dia melihat Syahila yang melamun penuh kekosongan dan kehawatiran.
Arsal menggenggam tangan nya, lalu melihat jam dinding. "Syahila, ada apa lagi?" Syahila hanya diam tak menanggapi apapun rayuan Arsal.
"Aku merindukan ibu ku, aku cemas, baru sekejap aku tertidur dia singgah dan membuat ku hancur." ucap Syahila terbata.
Arsal memeluknya, dalam fikirnya Syahila butuh ketenangan. "Mau ikut dengan ku? mungkin kau akan lebih tenang nanti." Arsal berharap Syahila mau. Dan kali ini Syahila mengangguk. Arsal menyuruhnya mengambil air wudhu.
"Kau mau mengajak ku sholat?" tanya Syahila.
"Iya, mau kan solat berjamaah dengan ku? aku belum solat isya." Jelas Arsal.
Syahila juga mengangguk.
Arsal memimpin solat, kemudian bertadarus.
Syahila memejamkan mata terlihat tenang, Arsal masih terus membaca Quran nya, mendoakan sang mertua agar bisa melewati masa kritisnya.
"Kak, suara mu sangat merdu, boleh aku mendengarnya setiap hari." kemuadian air mata menetes membanjiri sesal dalam hati.
"Jangan menangis, berubahlah." Syahila menghapus air matanya.
"Hanya doa mu yang di butuhkan sekarang, melihat kondisi ibu mu yang seperti itu, aku pun tidak berharap banyak."
"Ajari aku untuk berubah, jika memang ibu ku membutuhkan itu akan ku lakukan." ucap Syahila lirih.
"Berubah karena Allah bukan karena ibu mu, ikhlas lah menerima semua kemungkinan yang akan terjadi."
Jawab Arsal yang mulai melepas rangkulannya.
Syahila menelpon seseorang dia meminta seseorang itu mengirim baju untuknya.
Ketika pagi Syahila mendapatkan paket, tadi pagi dia juga bangun lebih pagi untuk melaksanakan solat subuh bersama sang suami.
Syahila mengenakan baju baju yang dia pesan. Sesetel baju lengan panjang beserta celana panjang yang gombrang, ada pula hijab di sana. Syahila mengenakan baju itu setelah memesan sarapan untuk Arsal.
"Syahila, apa yang kau kenakan?" tanya Arsal yang heran dengan prilaku Syahila hari ini.
"Kau bilang ini yang di perlukan untuk ku sekarang, kak aku akan berubah mulai sekarang, aku sadar aku salah selama ini mengabaikan Tuhan ku yang mengatur semua kebutuhan ku." Arsal tersenyum manis.
"Lagi pula kau terlihat lebih cantik jika berpenampilan tertutup." ucap Arsal pelan.
"Apa? apa kata mu? aku cantik? bukan kah kau selama ini jijik melihat ku? ada apa dengan mu?" tanya Syahila pada suaminya yang terang terangan menghinanya waktu itu.
"Aku tidak memuji mu, aku hanya suka baju mu." ucap Arsal yang terlihat malu, Syahila hanya tersenyum hatinya berubah bahagia dan menjadi tenang sekarang.
Singkat waktu mereka sudah sampai di rumah sakit, Syahila menatap sang ibu dari kamar isolasi, sementara Arsal berbincang dengan para dokter spesialis yang menangani ibu mertuanya.
Syahila berteriak dari depan kaca ruangan isolasi dia melihat sang ibu yang menarik nafasnya, kemudian monitor berbunyi memberi tahu.
Arsal dan para dokter masuk kedalam ruangan, Syahila hanya bisa menatapi saja dari luar. Arsal menghampirinya memberikan rangkulannya.
"Ayo bimbing ibu mu untuk menyebut nama Allah." ucap Arsal.
Syahila terpaku di depan ibunya yang sekarat. "Bu, jika memang ini jalan kita aku ikhlas, bu ikuti aku ya La ilaha ilallah..."
Setelah itu belum sempat Syahila membimbingnya untuk yang kedua kali, ibunya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Syahila tidak berkata lagi, dia hanya menatap Arsal dengan sendu.
Pemakaman pun telah selesai, tiada gurat kecewa di wajah Syahila. Syahila hanya tersenyum meninggalkan makam ibunya.