Just For Me

Just For Me
Membaik



Akhirnya Tama dan Arbella mendarat, Tama menggenggam tangan Arbella dengan penuh kecemasan, jujur dia tak akan tega melihat kakak iparnya menderita,selama ini Syahila lah yang memberi tau apapun tentang Arbella dan melangkahi suaminya.


Tama dengan cemas turun dari mobil yang membawanya ke rumah sakit.


"Tama, syukurlah kau cepat datang." ucap Zulfikar lalu menuntun Tama ke ruangan pengambilan sampel darah.


Tama masih mematung, dia bingung mau menghajar abangnya yang telah menyembunyikan istrinya yaitu Arbella atau memberi support.


Setelah darah Tama dinyatakan dapat di gunakan dalam transfusi,suster segera mengambil beberapa kantung darah Tama.


Tama keluar ruangan dan menatap abangnya yang kusut tak beraturan.


"Sampai kapan?" ucap Tama tanpa mengarah ke Arsal yang duduk terpaku tanpa suara.


"Sampai kapan kau akan diam, dan membeci ku? sampai kapan kau akan membuat ku terus di hantui rasa bersalah terhadap bunda dan Ara ku? bahkan seangkuh itu disaat istri mu membutuhkan bantuan ku."


Arsal berdiri dia merangkul dan memeluk Tama dengan isakan.


"Maafkan aku Tama, karena aku kau dan Vara menjadi objek kebencian ku, ayah telah menjelaskan semuanya, maaf Tama, sebenarnya aku sangat menyayangi kalian, namun semuanya tertutup karena ego ku."


"Sudahlah jangan bahas lagi, dimana keponakan ku yang tampan itu? kau jangan mendekatinya ya..." ejek Tama.


"Kenapa?"


"Kau mau anak mu menganggap ayah nya pria cengeng?" lalu Tama tersenyum sembari mengejek kakaknya.


"Kau jangan menemuinya Tama, aku tidak mau pangeran kecil ku menjadi pria penggoda seperti mu." Sambut Arsal.


Tama dan Arsal berjalan keruangan bayi, kali pertama Arsal menatap bayi kecil nan tampan itu, dia terpaku, lalu Zulfikar menepuk bahu kedua putranya.


"Dia tampan kan? kau pasti menyesal karena tidak mengazankan putra kecil mu itu kan?"


"Benar ayah, aku sangat menyesal larut dalam khawatir." jawab Arsal cepat dan menghapus air mata di sudut kelopaknya.


"Kalian pria pria yang bertanggung jawab, ayah tau itu, karena ayah mendidik kalian dengan banyak karakter namun tak melupakan kejujuran dan tanggung jawab." ucap Zulfikar lalu merangkul kedua putranya.


"Ayah, terimakasih." ucap Arsal dan Tama bersamaan. Zulfikar tersenyum dan menatap cucu laki-laki nya kini.


Arsal kembali melihat keadaan Syahila di ruang ICU, transfusi darahnya sudah berlangsung, namun butuh waktu untuk Syahila siuman.


"dokter Arsal, bagaimana? kau sudah melihat malaikat kecil mu, saat operasi tadi kami mengalami kendala, namun bayi anda dapat bekerjasama dengan baik, dan kondisi nyonya sekarang hanya tinggal menunggu pulih, masa kritis nya sudah berlalu."


"Alhamdulillah, terimakasih dokter."


ucap Arsal dengan genangan air mata yang akan kembali turun deras.


"Dokter Arsal." ucap Arbella yang sedari tadi menunggu di depan ruangan Syahila.


"Ya, Arbella."


"Kau mendapatkan amanat dari ayah ku bukan? untuk menjaga dan merawat ku."


"Ya, benar."


"Sekarang, bisakah kau beri amanat itu pada adik mu saja, aku sangat mencintainya, aku percaya sepenuhnya pada adik mu itu."


"Arbella, aku hanya seorang dokter bagi mu, mungkin kau dulu jatuh cinta pada ku, tapi aku tau, itu semua milik adik ku, aku percaya pada adik ku."


"Terimakasih dokter karena kau aku bisa kembali, menatapnya dan hidup bersama adik mu itu."


"Doa ku, menyertai mu Arbella."


Dan keadaan cukup membaik hari ini.