Just For Me

Just For Me
Jujur



Aku tertunduk, mata ku tak bisa menatap matanya, hati ku hancur ketika raga ku membutuhkannya namun logika ku menolak ya, perasaan terdalam ku menunjuk bahwa aku harus bersamanya, namun kenyataan aku harus melepaskannya.


"Ara, lihat aku, walau aku menikahi mu dengan cara yang diluar logika, walau aku mencintai mu dengan egois, aku berjanji aku akan selalu membuat mu aman dan bahagia bersama ku." ucap pria yang ku sebut paman, pria yang selama ini hanya bisa ku pendam dalam hatiku, pria yang mencuri ciuman pertama ku, dan pria yang ku tolak sebagai suami ku.


"Maaf, jika aku hanya bisa membuat luka di dalam hati mu, maaf jika selama kau mengenal ku hanya kesedihan yang kau peroleh, tapi kita tetap harus berakhir, Paman aku tak akan tega bila kau harus meregang nyawa untuk melindungi ku." ucap ku yang kini hanya mampu menunduk dan tak mampu lagi menatap atau sekedar meliriknya.


Dia menggenggam tangan ku dia mencium kening dan puncak kepala ku.


"Aku bahagia selama mengenal mu, aku tidak pernah sedikit pun merasakan kesakitan atau hal yang kau sebutkan tadi selama aku mengenal mu, Ara sejuta rintangan akan ku hadapi jika semua itu adalah cara untuk tetap bersama mu."


Dia menggenggam tangan ku erat dia memeluk ku dia mencurahkan segala kerinduan dalam dirinya terhadap ku.


Paman aku merindukan mu, merindukan setiap kata kata tenang dari mu, aku mencintai mu Paman, jika waktu bisa ku ubah, aku tak ingin bertemu dengan mu, memberikan hati dan masuk dalam kehidupan mu, membuat mu jatuh cinta pada ku, aku tak ingin paman.


Dia mengecup bibir ku, dia merengkuh ku, dia membuat ku nyaman berada di dekatnya.


Tuhan dia suami ku, meski pernikahan ini terlihat aneh, dan kami tidak pernah bertemu selama 3 tahun ini, Tuhan aku ingin semua ini berakhir.


"Ara, aku pergi meninggalkan mu, hanya untuk mewujudkan impian kita, aku membangun rumah impian mu, ada taman dan air terjun buatan di belakang rumah ini, aku membuatnya sama seperti apa yang ada didalam lukisan mu kala dulu, Ara maaf jika aku meninggalkan mu dengan sejuta pertanyaan..."


Aku memotong kata katanya, aku mencium bibirnya dan memeluknya, aku menangis didalam rengkuhannya, nyaman sekali Paman ku mohon jangan lepaskan, ungkap hati ku.


"Paman, aku mau bertahan bersama mu, aku mau hidup dengan mu, menghabiskan waktu hanya bersama mu, paman tidak ada yang bisa mengganti diri mu di dunia ini,hanya kau paman." Aku diam dan lekat menatapnya.


"Bisakah kau berjanji untuk tetap bersama ku, menjaga ku dan mendampingi ku meski nanti aku kembali lemah dan tidak dapat mengingat mu lagi, meski nanti mata ku buta dan tidak bisa melihat mu lagi, bahkan saat nanti aku tidak bisa merasakan sentuhan dari mu lagi."


"Ara, aku sudah lama mengenal mu, aku siap dengan semua konsekuensinya, Ara aku tak pernah perduli saat kau melupakan ku, aku akan tetap berusaha untuk selalu mengingatkan mu pada ku, disaat mata mu tak bisa menatap ku lagi, biar mata ku yang akan terus menatap mu, dan bila kau tidak bisa merasakan sentuhan lagi aku akan tetap menjaga dan berusaha berada disisi mu, aku akan terus memeluk dan membelai mu, jangan takut Ara ku sayang, aku disini bersama mu."


"Lantas, apakah disaat aku pergi meninggalkan mu untuk selamanya kau akan tetap mencintai dan menemui ku di sana? Paman Tama, aku sangat takut kehilangan mu, aku mencintai mu dengan seluruh hati ku."


Dia memeluk ku dan menyalurkan rasa nyaman dan percaya lagi.


"Aku berjanji pada mu, aku tidak akan memilih wanita lain meskipun kau pergi terlebih dahulu, karena aku akan merawat anak anak kita nanti dan bertanggung jawab sepenuhnya, dan aku berjanji akan menemui mu disana."