
"Lakukan apa yang kau mau." ucap Arbella lalu memejamkan matanya.
Tama sudah tak sanggup menahan hasrat yang bergejolak.
"Baiklah tahan sebentar, jika sakit kau boleh menangis atau minta berhenti okey."
Arbella hanya mengangguk.
"Emhhh... sakit..." ucap Arbella serak.
Tama segera menghentikan gerakannya.
"Kau kesakitan? kau ingin menyudahinya?"
Arbella menggeleng.
"Jangan, lakukanlah aku akan menahan sakitnya."
"Tapi aku tidak bisa melihat mu seperti itu."
"Aku kan diam, teruskan apa yang menjadi hak mu."
Tama melanjutkan kegiatannya, dan "Au... aaa..." Arbella merasakan sakit luar biasa seperti teriris. Tama diam sebentar dan menarik miliknya, darah segar keluar menetes diatas sprei.
Tama merangsang Arbella kembali, tapi sebelumnya dia membersihkan darah itu dengan kain hangat.
Tama mencumbui Arbella, karena Tama belum merasakan apapun tadi hanya seperti terjepit.
"Kau belum selesai ya cinta ku?" ucap Arbella parau.
"Iya... kau mau lagi?" tanya Tama yang masih membuat rangsangan pada tubuh Arbella.
"Kau belum selesai apa aku boleh berkata, aku sudah cukup atau aku tidak mau lagi?"
"Kumohon, jangan katakan itu, kau tau 30 tahun usia ku aku baru pertama kali merasakan ini, dan ternyata harus terhenti karena aku tak tega melihat mu begitu."
"Aku juga tidak mengerti jika rasa sakitnya seperti itu, lagi pula ada sensasi berbeda di sana, kau boleh melakukan apapun kepada ku, tubuh ini milik mu bukan."
Tanpa menjawab Tama menyatukan mereka kembali, sampai pada puncaknya Tama mengeram dan Arbella tercengang.
"Apa itu tadi?"
"Menabur benih." jawab Tama singkat dan tumbang di atas tubuh Arbella.
Arbella mengelus lembut rambut Tama.
"Hey... Tuan Pemaksa, biasa kau turun dari tubuh ku, aku mau membersihkan badan ku, rasanya sangat lengket."
Tama pun berguling, dan memakai celananya.
Tama mengendong Arbella sampai ke beathup.
"Kenapa kau melakukannya tuan Pemaksa?"
"Karena aku mencintaimu, dan tak menginginkan kau merasakan sakit sedikitpun."
"Besok kita akan pergi kan? boleh aku meminta pada mu?"
"Apa?"
"Alat tukar, sebagai ganti yang sudah kau ambil tadi."
Tama diam berfikir, "Alat tukar selaput dara maksudnya?" gerutu Tama dalam hati.
"Itu milik ku, kau minta di tukar dengan apa memangnya?"
"Ya memang milik mu, hak mu, tapi aku mau sesuatu, untuk ku bawa dalam pesawat."
"Iya apa?"
"Boneka panda yang besar agar bisa ku peluk saat tidur, ini jam 3 pagi, aku tidak akan bisa tidur, dan aku kan menghabiskan waktu di pesawat dengan tidur memeluk boneka itu."
"ada aku baby, kau bisa memeluk ku, aku lumayan besar."
"Ya kau besar, tapi tidak sehalus bulu boneka panda yang ku mau."
"Benarkah? lalu tadi siapa yang menikmati sentuhan ku sampai memejamkan mata dan mendesah?" ucap Tama sambil membersihkan tubuh Arbella dengan busa.
Arbella hanya diam tanpa melawan.
"Baiklah aku akan meminta asisten ku untuk membelikannya untuk mu."
"Benarkah?"
Tama mengangguk lalu memijat kepala Arbella dengan shampo.
"Ukuran sebesar apa yang kau mau?"
"Yang sebesar dirimu."
"Kenapa? jet kita akan bertambah sempit nanti."
"Aku akan tidur di kamar, berdua jika kau terganggu olehnya, lalu dia akan mengantikan dirimu yang akan sibuk dengan urusan kantor mu."
"Terserah kau saja nyonya kecil... sekarang pakai handuk mu, kau sudah bersih dan sudah mandi wajib tadi, sekarang giliran ku, kau boleh keluar."
"Kau tidak mau ku mandikan?"
"Memangnya kau mau kelelahan dan mandi lagi?" ucap Tama sambil menguras air dalam beathup.
"Maksudnya?"
"Kalau kau menyentuh badan ku maka aku akan melakukan hal yang membuat mu mendesah seperti tadi, karena aku tidak akan tahan dengan sentuhan mu, sekarang berpakaianlah, kita akan berangkat beberapa jam lagi."
Lalu Arbella mengenakan baju Tama kembali kali ini warna navy.