
"Dokter?" Arbella menatap Arsal kaget, ia tak tahu mengapa Arsal bisa berada di tempat yang sama dengan nya.
Syahila menatap Arbella dengan penuh tanya. Tama segera mengambil alih suasana.
"Ara, ini Syahila kakak ipar ku, dan ini Arsal abang ku."
Arbella menatap Tama dengan sorot mata yang tajam.
"Apa maksud mu? kau adik dokter Arsal paman?"
"Ya, aku adiknya, dan kau juga telah menjadi adiknya."
Arbella marah pada Tama dia keluar dari ruangan pesta, para tamu menatap mereka.
Syahila meminta penjelasan pada Arsal, apa maksudnya semua ini.
"Kau berhutang penjelasan pada ku." Tatap sinis Syahila, Syahila pergi menuju kamar mereka, dan Arsal mengikuti Syahila.
"Hila, aku akan jelaskan semuany pada mu."
"Ya, jelaskan!"
"Arbella adalah pasien ku, dia yang membuat mu cemburu dan kita bertengkar, dia kekasih Tama, tetapi dia juga dia pernah mencintai ku, tapi itu dulu."
"Mengapa kamu tidak pernah menjelaskan semuanya pada ku, apa aku tidak perlu tau tentang kisah suami ku, apa ku hanya sebagai tameng mu, apakah aku tidak perlu mengerti tentang masa lalu mu bersama siapa kamu dulu, hingga ternyata dia bersanding dengan adik mu, dan akan semakin tak berjarak dengan mu?"
"Lalu, kenapa hanya karena telpon tengah malam kamu malah memarahi ku dengan sejuta emosi mu yang tak pernah bisa ku terima."
"Tama kembali ke Inggris, saat itu Arbella koleps, dia membutuhkan pertolongan, jika saja malam itu suster tidak bertindak maka sangat berbahaya untuknya, dia sedang sakit, maaf jika kamu tersakiti akibat semua itu."
Syahila pun bisa mengerti apa yang suaminya jelaskan mereka pun kembali ke acara yang telah mereka persiapkan.
Sementara itu Arbella berdebat hebat dengan Tama.
"Aku mau pulang!" hanya itu yang dia bicarakan pada suaminya.
"Ara, acara bahkan belum di mulai, kita bisa bertengkar nanti, saat ini ku mohon pada mu, tenang sejenak dan biarkan pestanya berlangsung."
"Kalian semua keterlaluan, kenapa kau lakukan semua ini pada ku paman? Kau bahkan mengirim Dokter Arsal yang adalah kakak mu untuk memantau dan mebyelidiki ku kan? kau ini apa sebenar yang ada dalam kepala mu hah?"
"Ara, kau salah faham, aku tidak pernah menyuruh Arsal untuk memata matai mu, bahkan dia pun tidak tau menau tetang hubungan kita."
"Terserah lah apa kata mu, aku tidak pernah mengerti apapun tentang rencana rencana mu itu, mungkin kau juga yang menyuruh dokter Arsal menaruh obat seperti itu untuk menikahi ku." Ya Arbella sedang menyulut api emosi dalam diri Tama.
"Aku berani bersumpah demi nama bunda ku, bahwa aku tidak pernah menyuruh atau menjadikan bang Arsal sebagai mata mata atau apapun yang kau tuduhkan!" Tama membalik badan berlenggang pergi dari hadapan Arbella.
Sementara itu Arbella hanya berurai air mata dan menatapi dirinya.