Just For Me

Just For Me
Alasan Terjawab



"Dokter Arsal dan tuan Pemaksa itu jauh beda ya... dokter Arsal selalu berlemah lembut pada ku walau aku hanya adik ipar atau pasiennya, sementara tuan Pemaksa itu aku istrinya tapi dia selalu memaksa dan bersikap kasar pada ku, walau dia tidak melakukan kekerasan."


Gerutu Arbella dalam hati.


Tama sedang membuatkan susu untuk Arbella.


"Sepengetahuan ku untuk mempersiapkan kehamilan ibu butuh banyak makanan dengan asam folat dan juga vitamin, untung saja aku sempat membeli susu ini tadi sebelum ke rumah sakit." ucap Tama yang sedang mengaduk susu sambil berjalan ke kamarnya.


Tama membuka pintu bersamaan dengan Arbella yang keluar dari kamar mandi.


"Kau sudah selesai?" tanya Tama pada Arbella.


"Ya...Kau mandilah, aku sudah menyiapkan handuk untuk mu."


"Baby, aku membuatkan susu untuk mu, dan oh ya... kau bisa mengenakan baju ku, besok orang suruhan ku baru akan datang." ucap Tama dari dalam kamar mandi.


"Baiklah tuan Pemaksa." ucap Arbella, sambil menuju kearah lemari pakaian milik Tama.


"Aku pakai apa ini? bahkan dalaman ku juga tertinggal di apartemen dokter Arsal bagaimana ini." Arbella menatap dadanya yang terkesan mini.


"Ah... meskipun kecil pasti dia masih bisa melihatnya." akhirnya Arbella mengambil kemeja hitam polos berlengan panjang milik Tama.


Dia segera memakainya, dan bercermin.


"Ya sudahlah hanya ini yang paling besar dan sampai dibawah paha."


Lalu Tama keluar dari kamar mandi menatap Arbella di depan cermin.


"Kau tetap cantik, kemeja itu cocok juga untuk mu." ucap Tama yang kini berada di belakang Arbella.


"Jangan terus menatap ku bodoh!!!" ucap Arbella geram. Arbella berlari menuju ranjang dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Su... suami ku!" ucap arbella, lalu Tama tertawa terbahak.


"Hah? apa kata mu, berarti aku boleh dong, aku suami mu." ujar Tama, yang tangannya kini menarik selimut.


"Dengarkan aku sebentar..." ucap Arbella mendorong Tama.


"Dengar, alasan ku sebenarnya adalah karena aku takut." ucap Arbella. Tama pun mulai memberi jarak agar dapat menatap Arbella.


"Aku takut... aku pernah melihat kasus pemerkosaan sewaktu berpisah dari mu, itu alasan ku mengapa aku selalu menolak berhubungan dengan pria mana pun... terkecuali dokter Arsal dan Dokter Alfin."


"Kapan kau melihatnya?"


"Dulu sewaktu aku memutuskan pergi dari Inggris, aku tau wanita itu merasakan sakit bukan kenikmatan seperti apa yang banyak orang bicarakan, dan aku tau moralnya terguncang, dan bisakah jika kau melakukannya pada ku perlahan saja, jangan menuntut ku, atau jangan menggunakan gerakan kasar."


Tama terdiam, dan memeluk Arbella.


"Tenang saja, kau bisa melaporkan ku pada polisi jika apa yang aku lakukan melukai mu atau membuat mu sakit, tapi jika sebaliknya bagaimana?" ucap Tama mengejek.


"Aku sedang serius, tuan Pemaksa." tanpa bicara lagi Tama segera ******* bibir istrinya itu.


Tama membuka kancing kemeja Arbella.


"Sial... dia tidak memakai dalaman apapun saat ini." ucap Tama dalam hatinya.


Tama membelai sesuatu di bawah sana, hal yang sensitif untuk Arbella, bahkan tanpa melepas ciumannya.


Tama membacakan doa, untuk Arbella, mengelus lembut memberi rangsangan pada wanita itu.


"Jika, kau tidak yakin, aku akan melepaskan mu baby." ucap Tama menatap mata Arbella yang sudah lemah, menginginkan lebih namun ada rasa takut.