
Setelah Arbella pergi, Tama segera mengintrogasi apoteker yang menyiapkan obat untuk Arbella tadi.
"Nona, boleh saya tau obat apa yang dibeli nona Roberts?"
"Nona yang tadi tuan?"
"iya, wanita yang berbincang dengan ku tadi."
"Maaf tuan, saya tidak bisa memberi tau Tuan."
"Berapa banyak yang kau butuhkan hanya untuk memberi tau obat apa yang dia beli?"
"Maaf tuan, saya tidak bisa." ucap apoteker tersebut.
Tama memberikan sejumlah uang pada apoteker tersebut dan entah apa yang Tama lakukan sampai akhirnya sang apoteker luluh.
"Obat tersebut adalah obat penenang yang berfungsi meringankan kerja syaraf pusat, biasanya obat tersebut diberikan untuk orang yang pernah melakukan operasi pada jaringan otak atau syaraf pusat."
"Terimakasih."
Tama pergi dari toko obat tersebut, dia bergegas menuju kamarnya, dia mencari laptop dan segera mencari sesuatu pada jaringan internet.
"Apa dampak dari operasi yang dilakukan Ara, sampai dia sedikitpun tak mengenali ku? mengapa Abang tidak pernah memberi tau ku tentang kondisi istri ku sendiri."
Tama hanya diam saat layar laptop nya di penuhi tulisan dan juga grafik, Tama mengusap wajahnya gusar.
"Ya Tuhan... apa yang telah ku perbuat, bahkan aku tidak tau menau tentang keadaan wanita tercinta ku, aku terlalu kejam padanya, jadi Arbella tidak mengenali ku karena operasi ini, bang harus menjelaskan nya."
Tama menghubungi nomer handphone seseorang, wajahnya masih gusar dan cemas.
"Tama, tenang dulu jangan tersulut seperti itu, ini semua demi kebaikan Arbella, Tama, kau tak tau bagaimana menderita nya ia tanpa mu."
"Apa maksud mu?"
"Tama, aku minta maaf atas nama Arsal pada mu, Arsal menghubungi mu setelah 2 bulan Arbella koma di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda untuk dia kembali seperti semula, Tama kau masih di sana?" tanya Syahila yang tak mendengar reaksi apapun dari Tama.
"Aku masih mendengar penjelasan mu."
"Lalu Arsal mengambil langkah untuk mulai memberikan operasi pertama pada syaraf pusat Arbella, namun semua sia sia, Arbella justru bangun dengan keadaan lumpuh, dia hanya bisa mengedipkan matanya, dan serangkaian operasi dilakukan selama satu tahun penuh dan ternyata dia kembali, namun ingatannya tentang mu tidak kembali, Arbella dinyatakan sembuh setelah dua tahun berjuang, Arsal memintanya untuk tetap tinggal, namun Arbella memilih melanjutkan pendidikannya di Basel."
"Aku ingin bertanya, apakah kakak kandungku sendiri membenci ku?"
"Dia tidak pernah membenci mu, hanya saja dia tak ingin Arbella tersakiti lagi karena mu, Arbella sudah dianggapnya sebagai seorang adik Tama."
"Aku ingin kembali pada Ara ku Syahila, bisa kau membantu ku menebus semua kesalahan ini?"
"Aku kan membantu mu, kembali lah setelah aku melahirkan, aku kan menjelaskan permasalahan ini pada Arbella dan juga dirimu, Tama kau dimana sekarang?"
"Basel, bersama istri ku!"
"Jaga dia, Alvin memberi tau suami ku tadi bahwa Arbella sedang dalam halusinasi dan kemungkinan akan tercipta depresi, aku mohon buat dia nyaman dan melupakan halusinasi nya itu."
"Baiklah, aku akan datang padanya malam ini, dan aku kan menagih janji mu untuk mengembalikan dia pada ku."
"Ya, aku berjanji."