
Arbella begitu sibuk mempersiapkan diri untuk acara penyambutan dirinya nanti malam, siang ini dia memilih gaun panjang berwarna hitam, dengan kerah sabrina juga aksen pita di bagian samping, saat mencobanya saja Tama mungkin sudah kalang kabut, melihat istrinya yang terlihat anggun dan mungil berdandan layaknya peri dalam dongeng.
"Kurasa aku akan berias natural saja, atau mungkin sedikit dewasa ya? aku harus menyesuaikan diri dengan paman bukan?" Arbella masih bergurau sambil menatapi dirinya di cermin rias.
Namun seketika Tama datang menghampirinya, Tama menjatuhkan dirinya di ranjang.
"Tidak usah repot mau berdandan seperti apa, aku tetap saja tak bisa berpaling dari mu." ucap Tama dengan seringainya.
Arbella hanya menatapnya dari jauh mendengus kesal didepan cermin.
"Ya, kau itu bukannya tidak bisa berpaling dari ku, hanya saja wanita diluarsana tidak mau dengan mu." Ketus Arbella melempar sindiran pada suaminya itu.
"Benarkah?" Tama segera bangun dari rebahannya dan melangkah kearah peri kecilnya itu.
"Benarkah apa yang kau katakan? bukankah begitu banyak wanita yang siap melemparkan dirinya hanya untuk bermalam dengan ku saat kemah di sekolah Menengah Atas mu?" Arbella diam dan mengingat ingat, waktu itu memang Tama guru pemimbingnya dan tentang kemah?
Tama bermalam bersamanya karena tenda Tama ia berikan untuk para wanita yang mengejarnya.
Tama menaikan alis dan raut wajah Arbella berubah, ia tersenyum manis sekali pada Tama.
"Ehemmm... Ya kau benar, kau memang terlalu tampan, tapi kau si pemarah yang rela mereka kejar, oh ya mengapa malam itu kau mau bermalam dengan ku yang terkena jebakan mereka." Arbella terkena jebakan teman temannya di acara kemah itu, karena satu satunya murid wanita yang tidak pernah di tolak Tama mau itu makanan atau apapun yang dirinya berikan selalu diterima dengan baik oleh Tama.
Arbella saat itu di tinggal di luar tenda dengan alasan tenda sudah sangat sempit dan tak cukup untuk mereka semua, dan Arbella ditendang keluar tenda, itu membuat Tama marah dan memilih utuk menemaninya, padahal Tama ingin sekali memarahi mereka tapi Arbella selalu melarangnya dengan alasan, mereka akan lebih kejam lagi jika Tama membalasnya.
"Itu... itu... itu karena kau murid ku."
Ucap Tama menahan harga dirinya.
"Kau berbohong paman, kau lakukan itu karena kau menyayangi ku kan?"
"Tidak, cinta ku baru tumbuh saat kita kembali bertemu di Inggris, oh ya kenapa kamu tidak melanjutkan pendidikan mu?"
"Jika kau mau kembali lah bersekolah, aku ingin kau tumbuh normal, bukan seperti ini, ketakutan akan semua yang belum pasti terjadi."
Tama duduk berhadapan dengan Arbella, dia mulai lebih dekat lagi, saat Arbella hanya menanggapinya dengan diam.
Cup... Cup...
Kecupan Tama pada bibir Arbella hanya singkat, karena hanya sebatas itulah yang terjadi pada mereka.
Tama berdiri dari duduknya, seketika Arbella meraih lengannya dan...
Cup... Arbella menempelkan bibirnya pada bibir Tama.
Dengan berbisik Arbella mengucapkan kata-kata dalam hatinya.
"Aku ingin melakukan lebih dari sekedar kecupan singkat yang sering kau berikan."
"Apa yang kau maksud dengan lebih?"
"Aku ingin kau menyalurkan semua emosi mu, aku ingin france kiss." Ucap Arbella dengan polosnya.
"Kau tau dari mana?"
"Novel dan beberapa film yang sering teman ku tonton."
"Kau ingin praktek?" Arbella tersenyum saat Tama bertanya, " ingin praktek?"
Tama pun memberikan apa yang istrinya mau, Arbella pun takjub, dengan kelihaian suaminya yang dingin itu. Tama melepas Arbella dia takut jika akan berakibat lebih dari yang istrinya harapkan.