Just For Me

Just For Me
Suami Manis Ku



Syahila terbangun dari tidurnya dia sangat lelah dan sekujur tubuhnya terasa sakit karena semalam Arsal berulah hampir saja ia membuat istrinya itu tidak bisa jalan.


Syahila mengecup pipi suaminya sambil membangunkannya perlahan.


"Kak, ayo bangun ini sudah siang, kamu tidak ke kantor?" Tanya Syahila dan di balas gerakan malas oleh Arsal.


"Ya sudahlah jika kau masih mengantuk, aku akan mandi dan buatkan sarapan untuk mu." Syahila beranjak namun dia tertahan saat kakinya menyentuh lantai ia memekik kaget, karena rasa nyerinya lebih parah dari dulu, saat pertama Arsal mengambil keperawanannya.


"Auh... sakit sekali." pekik Syahila sambil memegangi perut dan mengapit kakinya.


Arsal merasa kaget dengan pekikan Syahila pun terbangun. "Ada apa Syahila, kau sakit?"


"Kak, aku tak sanggup berjalan, ini sakit sekali." ucap Syahila penuh ringisan.


Tanpa bicara lagi Arsal yang hanya mengenakan celana dalam membopongnya ke kamar mandi.


"Mandi berdua saja ya, mungkin sakitnya akan hilang nanti." Ucap Arsal dengan menggoda.


"Tidak aku mau mandi sendiri, jika bersama mu kejadian semalam akan terulang lagi." Arsal tertawa saat mulai mengingat ulahnya semalam empat kali tanpa henti Arsal melakukannya, Syahila seperti candu baginya.


Arsal membiarkan Syahila mandi dengan bebas, sendirian didalam, sementara Arsal madi di kamar mandi luar.


Mereka kini berada di meja makan tatapan tatapan tajam terluncur dimata Arsal sementara itu Syahila hanya tersenyum menikmati tatapan suaminya.


"Jangan terus menatap ku begitu, nanti kau akan merindukan ku, hari ini pekerjaan ku sangat banyak, dan aku tidak akan sempat bertanggung jawab atas rindu mu." Syahila masih menatap Arsal dengan senyum yang manis.


"Kak, hari ini aku ada sesi wawancara di salah satu televisi suwasta, bagaimana aku harus mebjawab saat mereka bertanya tentang kau dan aku." tanya Syahila penuh ragu.


"Katakan apapun yang mau kau katakan, aku percaya istri ku cukup pintar." ucap Arsal yang beranjak dari duduknya kemudian mengecup kening Syahila.


"Kak, sebentar." ucap Syahila ketika Arsal hendak bergegas.


"Ada apa lagi?"


"Sebentar sebentar, ini belum rapih, suami ku harus terlihat sangat amat perfeck." ucap Syahila sambil membenarkan kerah dan dasi Arsal.


"Kak..."


"Emmm."


"Bisakah kita seperti ini terus?" ucap Syahila yang mendongak menatap Arsal.


Arsal membelitkan lengannya pada pinggang Syahila.


"Aku berjanji semua akan sama seperti ini, asal kau berjanji pada ku beradalah di jalur yang benar, jangan buat kesalahan lagi, mengerti?"


Syahila mengangguk, dan mengalungkan lengannya di leher Arsal.


"Sekarang aku harus pergi, jaga dirimu baik baik, dan tentunya calon anak kita." perintah Arsal penuh yakin pada apa yang di tanamnya tadi malam.


Syahila masih terbuai dengan indahnya perlakuan yang diberikan Arsal, sampai ia terus memikirkan suaminya itu, sambil bersiap untuk menghadiri talk show, Syahila bergurau dan tersenyum manis di cermin.


Syahila mulai memoles make up, bedak tipis, serta riasan natural mengesankan Syahila adalah wanita polos, cerdas dan baik hati.


"Kak Arsal memang emosian, dia juga tak mudah menerima orang baru, tapi ketika dia memperlakukan orang yang dianggapnya keluarga dan dekat dengannya dia begitu manis, penuh toleransi dan humoris, kak Arsal aku mencintai mu, aku jatuh cinta dan benar benar terkubur didalamnya." Syahila mengelus perut ratanya sambil membayangkan.


"Nak, aku tak tau kau akan hadir atau tidak, aku juga tidak tau apakah aku layak jadi ibu mu atau tidak, tapi kau harus bangga kau memiliki seorang ayah yang sangat baik dan tampan." Ucap Syahila lalu tersenyum dengan bahagia.