
Malam ini para wanita yang hadir terlihat sangat menawan dan elegan. Mereka yang hadir mengenakan pakaian pesta formal, pesta ini di gelar disalah satu ballroom hotel milik Tama, hotel megah bernuansa Roma menghadirkan kesan clasic.
Syahila kelihatan sangat sibuk mengecek semua daftar, baik hidangan, dekorasi, hiburan, bahkan juga para tamu yang masuk daftar undangan, pesta ini sebenarnya adalah resepsi dari pernikahan Tama beberapa bulan lalu, dan juga Aniversary pertama bagi pernikahan Arsal dan Syahila.
"Hila, kau terlihat seperti EO nya, sebaiknya berganti pakaianlah dan berdandan, jadikan dirimu yang paling menawan saat ini sayang." Ucap Arsal yang baru saja selesai dengan acara ganti kostumnya.
"Emmm... tidak jadi yang nomer satu sayang, hanya second, istri Tama lah yang seharusnya jadi yang paling menawan dan menjadi pusat perhatian malam ini, ini acaranya sayang." Syahila merangkul lengan Arsal lalu kembali ke kamar mereka.
Syahila nampak cantik dan mempesona dengan gaun senada dengan jas yang dikenakan Arsal.
Gaun pesta Syahila memang tertutup namun tetap memperlihatkan keindahan tubuhnya, yang meliuk indah.
"Cantik, sempurna, cocok untuk merangkul lengan ku." Ucap Arsal yang menatap Syahila yang sedang bercermin.
"Hanya untuk gandengan? apakah kau setampan itu?"
"Tentu." Dengan gaya sombongnya Arsal memeluk Syahila dari belakang.
"Ya.. kau memang tampan, sampai aku jatuh cinta di pandangan pertama." Syahila menunduk malu, kemudian Arsal mengecup pipinya.
"Sudah, ini saatnya kita turun untuk menyapa mereka."
"Hila, terimakasih sudah menemani ku dan bersabar selama satu tahun ini." Tanpa di sadari Syahila, Arsal memberikan kalung untuk Syahila kalung itu memiliki liontin dari safir yang didalamnya terdapat ukiran nama mereka berdua.
"Kau suka?" Tanya Arsal.
"Kau memang yang paling sempurna, pria ku yang dingin diluar namun hangat di dalam." Mereka pun tak ingin waktu menjadi sia sia dan mereka berdua menuju ballroom dan menyambut para tamu yang hadir.
Arbella sangat cantik dan sensual mengenakan gaun hitam panjang tanpa lengan, di rias dengan make up yang sederhana, lipstick merah maroon yang di gunakannya menambah indah wajah dan bibir tipisnya itu.
Tama tersenyum menyapa semua tamu yang menyambutnya, jas hitam dengan kemeja maroon yang Tama kenakan terasa pas di tubuhnya membuatnya semakin tampan bersanding dengan seorang wanita di sampingnya yang sudah terlihat kaku dan gemetar.
Zulfikar menyambut Tama dengan penuh gembira, Arbella yang canggung pun bersalaman dengan mertuanya itu.
"Tama kau berhasil membawanya datang, setelah ia menolak ajakan ku, kau berhasil."
Tama mulai bertanya tanya mengapa ayahnya berbicara seperti itu.
"Kenapa ayah bicara begitu?"
"Ayah sudah menghubunginya sebelum menghubungi mu, dia menolak ajakan ayah untuk undangan ini, tunjukan pada ayah handsom boy, bagai mana kau membujuknya?"
"Hanya dengan sedikit rayuan dia pun luluh." Tama tersenyum dengan mengejek ayahnya.
Tama berjalan bergandengan dengan Arbella menuju abang nya yang sedang berbincang dengan Vara.
"Selamat malam saudara saudara ku, kalian begitu menikmati pesta ini." Sapa Tama saat menghampiri mereka.
Arbella mengalihkan pandangan ke hadapan para tamu dan juga ke seluruh penjuru tempat pesta.
"Kau ini Tama, aku sudah menunggu kalian berdua sejak tadi." Ucap Syahila dengan tebaran senyum yang mempesona.
"Syahila, perkenalkan ini istri ku." Syahila hanya terdiam saat menatap Arbella, begitu pula Arbella menatap mereka semua yang ada di hadapan nya.