
Jam menunjukan pukul 15.00, Waktu praktek Vara sudah habis, Vara yang sedang beres-beres menata berkas dan memasukan beberapa alat kedalam ranselnya terkagetkan dengan ketukan pintu yang begitu keras.
"Siapa ya, kok ketuk pintu kaya orang kesetanan sih?" Vara membuka pintu tapi munculah boneka kelinci sebesar dirinya dan sebuket bunga mawar putih bertali merah.
"Wow... abang ku, terimakasih, kau romantis sekali." Vara tesenyum lebar rona bahagia menghampiri wajah imutnya itu.
"Untuk si chubby kesayangan ku harus seromantis ini dong..." Arsal tesenyum memperlihatkan rentetat gigi putihnya.
"Kita berangkat sekarang bang?"
"Yeah adik ku."
Mereka berjalan menuju halaman parkir rumah sakit, mereka menjadi tontonan saat ini, semua mata tertuju pada mereka berdua yang berjalan dengan mesra seperti sepasang kekasih.
"Selamat sore dokter Vara." Sapa seorang perawat yang memang juga dekat dengan Vara.
"Sore, oh ya nina, diruangan saya berkas dengan file warna kuning, nanti tolong di ambil dan di sampaikan pada dokter Tio ya."
"Baik dokter, ini kekasih dokter ya?" Vara mendelik saat perawat tersebut bertanya.
Mana mungkin seorang Adivara mau dengan pria disebelahnya, pria yang menurutnya menjijikan dan jahilnya Subahanallah.
"Tidak, bukan dia kakak saya, kakak kandung saya Nina." Vara dan Nina pun berlalu.
"Wow... Apa ini abang membeli mobil seperti ini? bang Jakarta itu macet, itu hanya akan membuat mesin mobil mu panas bang." tukas Vara.
Jalanan begitu sepi hingga akhirnya Arsal memutuskan untuk melajukan mobilnya dengan cepat. Mobil Sport Arsal sangat mewah, bagaimana tidak mobil itu di pesannya khusus dari Eropa empat bulan lalu bahkan bisa dipastikan tidak ada satupun di Indonesia.
"Vara, abang mau makan seafood tapi harus banyak dan memuaskan tentunya."
"Baiklah Vara tau, nanti di depan belok ke kiri, lalu berhenti di depan perempatan diujung jalan sana ada tempat makan seafood yang paling enak."
Arsal segera melajukan mobilnya menuruti printah Vara.
"Kau memesan semuanya bang? wahat? kita hanya akan memubazirkan makanan bang bila tidak habis, kita berdua tidak mungkin menghabiskan semua ini." omel Vara yang hanya di diamkan sang kakak.
"Udah deh bawel, kalo gak habis kan bisa di Take away, lagi pula ini belum seberapa Vara." Vara kesal dengan kelakuan abangnya.
Vara mengambil ponsel dan melakukan instastorry, tak lama pangilan masuk dari Tama, Vara segera menghubungkan sambungan. "Hei, Vara kau ajak orang tua itu makan seafood nanti dia kolestrol bagaimana, dia bisa mati cepat dan cepat bertemu bunda." begitu lah ejekan mereka tercurah.
"Hei.. hei hei, Tama, tak bisahkah kau pulang dan menerima bogem ku, berdiamlah sebentar aku sedang menikmati makan sianh dan malam ku bersama si chubby, jangan menggangu."
"Abang, ayolah Inggris masih membutuhkan ku, jika nanti Indonesia membutuhkan ku aku akan kembali, bagaimana transferan ku sudah masuk kan."
"Ya terimakasih Tama, uang mu sangat banyak, apa nanti kau tidak bangkrut?"
"Bang, itu hanya uang makan ku selama satu bulan, bisnis ini sangat menguntungkan, aku akan membantu berdirinya rumah sakit yang akan kau bangun itu, sebagai rasa syukur dan cinta ku memiliki kalian." Tama mendadak mengakhiri panggilan karena seorang telah menunggunya.
"Tuan Tama, meating akan segera dimulai, bisakah kita berangkat sekarang?" Tama bangun dari duduknya, memandang sekretaris seksinya.
"Lain kali gunakan pakaian lebih sopan, saya tidak suka melihatnya !" ujar Tama pada sekretaris seksinya yang memang berniat mengoda Tama.
Tama kaya, tampan, gentel pandai beladiri dan berbahasa, tapi semua orang di Inggris tau dia tidak pernah datang ke Club malam, tidak pernah berpacaran atau hal lain yang biasa dilakukan pria sepertinya.
Tama adalah seorang pria dingin, kaku namun hangat dan gila di dalam, Tama juga tidak pernah melupakan kegiatan solat dan mengajinya.
"Selamat siang Mr Arafi, bisakah kita mulai srkarang negosiasinya?" Tanya seorang yang akan menjual saham padanya.
Tama dengan wajah dingin meminta berkas pada sekretarisnya.
"Milan, tolong urus ini semua, jangan membuat saya kecewa, Mr Rudolf kehadiran saya akan digantikan oleh Milan, dia orang yang saya percaya untuk urusan ini, jadi berbincang lah dengan nya."
Tama pergi meninggalkan rekan bisnisnya itu, dia memilih untuk mengurus kerjaannya yang lain.