
"Tidak! tidak! TIDAK!!! AAAAA...." "Ya Allah, apa yang baru saja ku impikan?" Air mata menetes begitu deras dari wajah Arbella, ketakutan dan rasa cemas seakan bertubi menghantam kepalanya.
Malam ini aku terbangun lagi, mimpi buruk itu datang begitu menakutkan, bayangan akan seseorang yang menyetubuhi ku, dia siapa? aroma dan senyuman itu sepertinya aku sangat mengenalnya, ya Allah kepala ku terasa sakit, sangat sakit. Aku mengambil ponsel di nakas, aku menghubungi dokter Alvin.
"Iya Arbella, ada apa?"
"Dokter, maaf mengganggu malam malam begini, aku hanya ingin meminta obat dari mu."
"Kau kenapa Arbella?"
"Aku bermimpi lagi, dan kepala ku sekarang sangat sakit."
"Baiklah, aku akan memeriksa mu malam ini juga, dan akan membawakan obat untuk mu."
"Tidak usah, aku akan membelinya sendiri, kau hanya perlu memberikan resep obatnya."
"Kau akan keluar dari apartemen sendirian?"
"Tidak, di bawah ada toko obat bukan? aku akan kesana."
"Baiklah, aku lupa bahwa apartemen yang kau huni memiliki mini market dan juga toko obat 24 jam, baik akan ku kirimkan resepnya, setelah itu tidur lah."
"Baik dokter, terimakasih maaf mengganggu."
"Sama sama, kau hubungi aku bila tak ada perubahan juga, besok siang setelah kuliah ku selesai datang ketempat ku, aku akan memeriksa mu."
"Baik dok."
Arbella mematikan sambungannya dan ia segera mengunakan kardigan navy nya untuk pergi membeli obat.
Di toko obat Arbella menyerahkan resep yang dikirimkan Alvin.
Penjaga toko menerima resep itu dan menyuruh Arbella menunggu sebentar.
Disudut kedai kopi seseorang sedang memperhatikan Arbella, siapa lagi jika bukan Tama, Tama tersenyum menatap Arbella dari kejauhan, dan dia segera pergi untuk menyapa Arbella.
"Selamat malam nona Roberts? kau sendirian malam malam begini ke toko obat? siapa yang membutuhkan obat? kau sakit?" ucap Tama sedikit memberi perhatian pada Arbella.
"Tidak, tadi aku berada di kedai sana untuk minum kopi, lalu aku melihat mu, lalu mau menjawab apa yang ku tanyakan?"
"Ya tadinya aku sendiri, sekarang ada kau, aku yang membutuhkan obat, dan kepala ku sedikit sakit."
"Sejak kapan kau merasa sakit kepala?"
"Sejak 5 atau 6 bulan terakhir ini, terlebih jika aku sedang stress atau bermimpi aneh."
"Sudah ke psikiater?"
"Aku memiliki dokter pribadi dia tau aku butuh psikiater atau tidak."
"Oh, begitu."
"Tuan Tama maaf obat ku sudah selesai."
Arbella berdiri untuk mengambil obatnya dan kembali menghampiri Tama.
"Tuan Tama sendiri atau menunggu seseorang? aku mau kembali ke apartemen ku, jika tidak keberatan boleh aku duluan?"
"Silahkan, aku ingin membeli sesuatu terlebih dahulu."
"Baiklah permisi."
Arbella melangkahkan kakinya keluar dari toko obat itu, Arbella membuka pintu lift, dia mulai bergumam.
"Aku tau itu aroma tuan Tama, tapi tidak mungkin tuan Tama, bahkan aku tidak pernah mengenal dia sebelumnya, tapi bukankah tuan Tama ada pria yang sama dengan pria di yang ada di dalam foto dokter Arsal?" Lift pun terbuka tepat di lantai apartemen Arbella.
Tak menghiraukan apapun juga Arbella menelan semua obat yang dianjurkan dokter Alvin.
Rasa tenang mulai didapat oleh Arbella.
"Siapa peria itu, apakah benar dia tuan Tama? aku harus menanyakan semuanya pada dokter Arsal atau kak Syahila, atau aku tanyakan saja pada Tuan Tama selama ini aku memang dekat dengannya bukan?" namun lagi Arbella menghela nafas.
"Jika benar pria itu tuan Tama, aku harus menjauhinya, tapi tuan Tama pribadi yang sangat baik, tidak dia juga tidak akan menjawab jujur."dan