Just For Me

Just For Me
Hukuman



Mata Arsal masih menatap lekat istrinya dengan penuh amarah dan nafsu.


Arsal mengenggam kedua tangan Syahila dan mengantungkannya ke kepala Syahila.


"Kau mau pria diluarsana memperlakukan mu seperti ini." Srettttt....


Arsal merobek gaun maroon seharga 123 juta rupiah, Syahila kaget dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Lakukan seperti apa yang mereka fikirkan tentang mu Hila."


Syahila menangis, ia lebih terhina jika suaminya sendiri yang mengatakan apa yang dikatakan Dick.


"Baiklah, kau yang mengatakan semua itu maka aku kan menjadi jalang seperti apa yang kau katakan, namun kau perlu tau, aku hanyalah jalang untuk mu."


Syahila tambah merobek gaun itu, dia membelai wajah Arsal dengan lembut, dengan cinta namun penuh air mata, dia mengecup lemut bibir suaminya, sampai air mata yang tetahan di pelupuk matanya tumpah.


Dia membuka dasi dan kancing kemeja Arsal sampai dada bidangnya terekspos mata Syahila. Syahila memberikan kecupan kecupan di tubuh suaminya, dia membuka belt suaminya, menyentuh apa yang menjadi kelemahan suaminya.


Syahila seperti jalang sungguhan sekarang, ini hukuman yang di berikan Arsal padahal Syahila selalu enggan melakukannya.


Syahila mengenggam erat milik suaminya kemudian mengulumnya tanpa rasa jijik, menganggap nya sebai hal terfaforit untuk nya.


Arsal mengerang merasakan gelombang nikmat di dalam dirinya, ia mengenggam rambut panjang Syahila.


"Oh... Kau memang benar jalang untuk sore ini Syahila, oh... ahhh..."


Arsal masih menikmati setiap hisapan yang Syahila berikan pada miliknya, dan Arsal sudah tak tahan lagi ia merentangkan tubuh seksy sang istri di ranjangnya.


Arsal semakin dalam mempermainkan Syahila, hingga dia menyiksa Syahila dengan cecapan pada ****** Syahila, Arsal menghisap cairan yang di keluarkan Syahila saat organsme.


"Ah...Ah.. uhhhh... Kak, kumohon hentikan..."


"Aku tidak bisa berhenti, aku ingin kau tau kau hanya milik ku baby."


Mereka bergulat dengan liarnya, sampai Arsal melupakan semua amarahnya pada istrinya itu. Sementara Syahila menyerah dengan apa yang diperbuat suaminya.


"Kak, jika aku hanya milik mu, apakah kau juga hanya milik ku?"


"Yes... aku juga hanya untuk mu, maaf kan perlakuan kasar ku tadi pagi, aku hanya sedang panik dan sedikit kacau, maaf dan aku pun akan membayar semua kerugian yang mereka alami, aku tidak mau foto itu tersebar baby."


Arsal melanjutkan apa yang dia inginkan sedari tadi. Arsal memasukan miliknya dengan sekali hentakan, membuat Syahila meringis.


"Masih sakitkah?"


"Tentu, ini sudah ke 4 kalinya kenapa aku masih merasa milik mu terlalu besar untuk ku?"


"Jelas, karena hanya aku yang membuat mu merasakan ini, kau suka milik ku yang terlalu besar untuk mu kan, dan milik mu membuat ku merasakan sensasi tida dua baby."


Arsal terus menghentakan miliknya sampai akhirnya mereka berdua tumbang dalam gelora cinta.


Arsal yang terlalu lelah pun memejamkan matanya dengan merengkuh erat Syahila. Syahila merasakan gelombang hasrat terpuaskan, semua yang ia takutkan ternyata hanya praduga saja, terbukti menjawab pertanyaannya tanpa ragu saat tadi mereka larut dalam gairah.


"Kak, aku hanya ingin seumur hidup ku bersama mu, terus memperbaiki semuanya sampai dia hadir dan mengisi semua kekosongan dan kehampaan hidup kita, aku mencintai mu kak." Syahila berbisik sambil mengelus perut ratanya yang tersentuh tangan Arsal sedari tadi.