
Arsal masih sibuk dengan dunianya saat ini, beberapa berkas tercecer dimeja kerjanya. Hari pun larut, Tama dan Vara sedang berbincang mengenai pemindahan kepengurusan perusahaan ayahnya.
Vara meminta 20% saham atas namanya, sementara yang lainnya jatuh pada nama Tama dan Arsal.
"Aku hanya mau 20% dari penghasilan perusahaan, karena terlalu sulit jika harus mengurus itu semua, aku sedang mengandung sekarang."
"Ya benar, kau memang harus menjaga keponakan ku dengan baik." lanjut Tama.
"Oh ya... Mas, bagaimana keadaan Abang dan kak Syahila, apakah rumah tangga mereka baik, aku tidak pernah mendengar kabar mereka berdua semenjak kejadian yang kau buat tempo hari."
"Hahaha... oh ya, aku lupa. Syahila sekarang masih di luar negri hubungan mereka baik baik saja sejauh ini, mungkin aku akan memeberikan obat itu lagi pada abang mu." ucap Tama.
"Huh... kau ini, Mas lalu bagaimana keadaan mu dengan peri kecil mu itu?" Tama diam tak menjawab, dia hanya bingung baik atau tidak, baik karena dia bertemu dengan gadis kecilnya, dan tidak baik jika gadis itu mencampakannya lagi.
"Jangan fikirkan aku, mau bagaimana pun keadaan ku, aku tetap bilang baik pada mu kan?"
"Mas, kau tidak baik kan? gadis itu menolak lagi, atau mencampakan mas ku yang keren ini."
"Tidak, aku sudah menemuinya, dia mencintai orang lain sementara pria itu sudah jadi milik orang lain." Ucap Tama sambil tersenyum.
"Sudahlah cari saja wanita lain, mereka pasti dengan senang hati menerima mu, percayalah kau itu tampan."
Kini tangan Vara sudah berada di kedua pipi kakaknya itu.
Tama mengunci kamarnya tertanda tak ingin di ganggu.
"Peri kecil ku, kenapa harus kamu yang menerima kesakitan itu, kenapa kau juga menolak ku yang rela memberikan kehidupan ku untuk mu? Arbella aku sungguh mencintai mu." Ucap Tama sambil memeluk guling di sampingnya.
Andai guling itu Arbella mungkin sekarang Tama sudah habis menciymi dan memeluknya.
Dilain tempat Arsal dan beberapa perawat sedang berdiskusi tentang oprasi darurat yang akan dijalankan pada malam ini. Tepat pada pukul 23.00 Arsal meminta semua dokter dan perawat yang membantu jalannya oprasi untuk berdoa menurut keyakinannya masing masing.
Arsal mulai memasukan beberapa jarum kedalam tempurung kepala seseorang karena hematoma subdural (pendarahan dalam otak) perlahan namun pasti para dokter dan juga perawat bergantian melihat keadan dan tingkat kesadarannya.
Satu jam berlalu, Arsal sudah selesai namun beberapa dokter masih harus menunggu giliran untuk pasien ini.
Arsal keluar ruangan oprasi, ia membuka jubah dan maskernya.
Arsal juga mandi untuk kembali bersih, setelah itu dia menjalankan solat malamnya. "Ya Allah aku meminta dan memohon hanya kepada mu, tiada lagi yang mampu menghidupkan atau mematikan selain diri mu Ya Raab, sehatkan kembali pasien pasien ku, angkatlah semua penyakit dan penderitaannya ya Allah." ucapa Arsal sebelum ia beranjak pergi dari sajadahnya.
Sudah pukul 01.00 Arsal melajukan mobilnya menuju apartemennya. Setelah sampai ia merebahkan badannya yang memang sangat lelah. "Syahila... Syahila..." tanpa sadar Arsal memanggil Syahila untuk membuatkan teh madu yang biasa di sajikan Syahila.
"Ya Allah aku lupa... Syahila kan masih di Paris." Arsal tersenyum geli menertawakan dirinya.