Just For Me

Just For Me
Ulah Tama.



Tama menyusul abangnya, ia membawakan secangkir lemon madu kesukaan sang kakak.


Tok... tok... tok...


Tama masuk kedalam kamar itu, ia melihat sang abang yang sedang meratapi laptopnya.


"Lo kenapa bang? kenapa masih lihat foto bunda sampai sebegitunya?" Tanya Tama lalu meletakan cangkir berisi minuman di samping abangnya.


"Maaf bang, gue harus lakuin ini." Ucap Tama dari lubuk hatinya terdalam.


Arsal menyesap minuman yang dibawa Tama.


"Gue cuma pengen lihat wajah teduh seorang wanita sejati, wanita yang menjaga segalanya demi kita." Ucap Arsal.


"Yaudah bang, kayaknya lo butuh istirahat, sumpah wajah lo lelah banget."


Tama keluar dari kamar Arsal, dan Arsal menyesap kembali minuman itu sampai habis.


Arsal berniat menganti pakaiannya ke kamar mandi, setelah selesai Syahila masuk kedalam kamar, ia pun juga akan menganti pakaian dengan baju tidurnya.


"Gawat! pasti Arsal akan marah lagi jika aku mengenakan ini." Gerutu Syahila, saat melihat semua baju yang ia bawa hilang, dan hanya tersisa lingeri berwarna hitam.


"Ada apa?" Tanya Arsal yang mengagetkan Syahila, lingeri itu pun jatuh kelantai. Arsal yang ada di sofa segera bangun dan mengambilnya.


"Pakai saja, jika memang kau ingin memakainya." Tegas Arsal pada Syahila yang memang sudah ketakutan.


Syahila akhirnya tidur dengan mengunakan lingeri itu.


Syahila yang sudah terlelap disamping Arsal merasa terganggu dengan gerakan gerakan sang suami yang ada di sampingnya.


"Kak? ada apa? kamu begitu gelisah." Tanya Syahila yang duduk tepat didepan Arsal.


Cup...


Perlahan Arsal mulai mengecup bibir pink Syahila, Syahila masih ragu dengan apa yang dibuat oleh suaminya. "Kak, tolong lepaskan aku, jangan buat aku semakin berharap pada mu."


Syahila masih berusaha melepas dekapan dan lumatan bibir Arsal yang semakin ganas. Syahila mencoba untuk menyadarkan Arsal sebelum hal yang akan di sesali Arsal terjadi. Namun semakin Syahila melepaskannya malah rangkulan dan pelukan erat yang di luncurkan Arsal.


"Syahila ku mohon... Bantu aku." Dengan penuh gairah Arsal berbicara.


"Bagaimana aku bisa membantu mu? Kak sadarlah, aku tidak mau kamu menyesal." Arsal mendorong Syahila agar terlentang di ranjang, menjelajahi seluruh tubuh Syahila.


Syahila merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya, dia tak menolak dan malah menikmati seluruh sentuhan sentuhan dari bibir Arsal.


Arsal menjelajahi setiap titik sensitif Syahila hingga membuat Syahila di kuasai gairah. "Ahhhh... kak, jangan disana... kak...Ahhh" Suara Syahila malah membuat Arsal semakin terbakar.


"Apa ini, kenapa begini, aku menginginkan mu, tapi tidak jika tidak dengan cinta mu." Ucap Syahila yang lagi lagi hanya dapat tertuang dalam hati.


"Syahila, beri aku dirimu seutuhnya, aku tak sanggup menahannya." Bisik Arsal dengan gemetar.


Syahila hanya dapat mengangguk, karena dia juga menginginkan Arsal lebih dari apapun. Arsal menarik lembut CD yang dikenakan Syahila, dengan lembut ia menyentuh paha Syahila bahkan lebih jauh dari itu. "Ahhh... Sheeettt... Ahhhh uhhh... Kak... Aku." Belum sempat Syahila melanjutkan perkataannya Arsal sudah membungkam mulut Syahila dengan bibirnya. Arsal menatap Syahila dengan tajam, mata elangnya sangat berharap pada Syahila.


Beberapa saat kemudian Arsal berhasil menerobos kewanitaan Syahila, dengan menangung rasa perih dan sedikit ngilu pada miliknya, Syahila meringis merasakan sakit yang luar biasa.


"Kak... Ini sakit sekali, bisakah lebih pelan sedikit, aku tidak sanggup." Syahila mengatakannya dengan cucuran air mata, darah segar pun keluar dari kemaluannya. Tapi Arsal tidak berhenti, hanya sedikit mengurangi kecepatannyaa.


"Mengapa rasanya begitu nikmat? Syahila kau baru pertama kali merasakannya juga kan?" Tanya Arsal yang hanya 30% sadar.


"Apa kau tidak pernah merasakan ini sebelumnya?" Syahila bertanya sambil menahan rasa nyeri pada Vaginanya, dan rasa ngilu pada lumatan Arsal yang **** p******a Syahila.


Cukup lama mereka melakukan kegiatan itu, sampai akhirnya Arsal memuntahkan benihnya dalam rahim Syahila. Syahila pun yang menahan perih dan nyeri pada sekujur tubuhnya terlelap dalam pelukan Arsal.