
Siang ini Arsal dan Tama sedang menikmati makan siang bersama, Tama sebenarnya sangat sibuk hari ini namun sang kakak memintanya untuk datang makan siang bersama.
"Bang sebenernya ada apa gue tuh sibuk tau." kesal Tama pada Arsal yang hanya di balas senyuman oleh Arsal.
"Senyam senyum lagi, bang lu mau nikah 3 minggu lagi, jangan aneh aneh, kalo nikahnya batal karena mempelai pria nya masuk RSJ gimana? kan gak lucu." Arsal justru semakin terbahak melihat ekspresi adiknya.
"Gak apa lah, nanti elo yang ganti in gue nikah." Ucap sang kakak pada adiknya.
"Bang, lu masih aja tega ya? masak lu kasih Syahila buat gue, aduh bang bisa bisa gue mengabaikan bisnis gue di luar." Ucap Tama dengan hiperbola. Jujur saja dari pertama Tama menatap Syahila Tama memang menyukainya, tubuh yang ramping, tinggi yang sesuai, rambut panjang, mata yang berbinar, semua membuat Tama kagum, sebenarnya bukan hanya Tama, abangnya pun juga ikut kagum, namun Arsal lebih pandai menyimpan ekspresi dan emosinya.
"Apa Syahila secantik itu? lalu bisa gak lo ngasih saran tentang konsep rumah tangga ke gue?" Tuntut Arsal.
"Bang, lo nanya gak salah orang, gue pacaran aja belum pernah, ini konsep rumah tangga, situ sehat pak dokter?" Tama terus bertanya tanya ada apa dengan Abangnya.
"Bang, lo kenapa sih kok tiba-tiba begitu?"
"Enggak, gak ada yang serius cuma sedikit ragu, Vara cerita sama gue kemarin malam, dia bilang Syahila itu model, konsep gue gak sesuai dengan Syahila."
"Maksudnya?" tanya Tama lagi, namun kali ini Tama memperhatikan Arsal dengan seksama.
"Konsep rumah tangga yang gue buat itu, untuk wanita cerdas, seorang muslimah sejati, wanita yang benar benar menjaga kehormatan keluarga, bukan model papan atas seperti Syahila yang rela memamerkan separuh kecantikannya, ralat bukan separuh tapi semua kecantikannya hanya untuk di foto dan di pamerkan kepada halayak ramai, gue itu gak butuh cantik, hanya perlu istri yang setia dan pengertian." Tukas Arsal pada Tama.
"Lo salah, wanita itu diciptakan dengan penuh ke indahan bang, supaya pria yang lelah bekerja merasa terhibur dan termanjakan oleh sebuah keindahan dan pada akhirnya lelahnya bekerja hilang."
Sanggah Tama dengan penuh minat.
Nada panggilan masuk terdengar dari ponsel Arsal, Arsal bicara sekilas lewat ponselnya dan mematikannya.
"Brodher, sorry gue harus pergi, ayah meminta gue dateng ke butik tante Rasya untuk fiting baju, Syahila sudah ada di sana, gue pergi ya..." Arsal melenggang pergi, meninggalkan adiknya makan sendiri.
"Assalamualaikum, tante Rasya..." Rasya kaget melihat keponakan kecilnya yang lugu sudah besar dan berkharisma.
"Waalaikum salam, ohhh Arsal, si tampan aku merindukan mu sayang, oh Ya Allah berapa tahun kita tidak bertemu." Arsal tersenyum manis pada tantenya.
"Aku juga rindu tante, di mana Tesa dan Julio? aku rindu pada mereka juga, apakah Om Mahardi sehat?"
"Ya... tentu om mu itu sehat, tapi dia baru bisa kau temui saat pernikahan mu berlangsung, oh ya Arsal tante hampir lupa Calon istri mu sedang melakukan fiting di ruang belakang kau mau melihatnya?" Tawar Rasya pada keponakannya.
"Terimakasih tante, tidak biarkan saja dia melakukan fiting, aku hanya ingin melihat foto gaunnya saja." Lalu Rasya memberikan foto gaun yang akan dikenakan calon istrinya.
Arsal meneliti foto itu, "Aunty, bisakah kau ganti ini semua, adakah gaun muslimah saja, atau paling tidak yang tertutup saja, kau tau aku tidak suka dengan hal yang merendahkan perempuan." Nada bicar Arsal mulai tinggi saat dia tau gaun yang dikenakan untuk acara resepsi dan ijab kobulnya adalah gaun dengan kerah rendah dan terbuka di bagian belakangnya.
Rasya hanya menurut dengan putra mahkota kesayangannya itu, dia bahkan tidak pernah tau jika Arsal adalah laki laki yang tidak suka dengan gaya barat, padahal selama ini dia tinggal di luar negri, negaranya pun negara bebas.
"Aunty, bisakah gaun ini saja yang digunakan Syahila untuk acara pernikahan kami." Saran Arsal pada Aunty nya.
"Arsal, Syahila sudah selesai, kamu bisa bicarakan berdua tentang konsep dan gaun untuk Syahila, Aunty akan kembali setelah kalian sepakat." Rasya pun pergi setelah Syahila datang.
"Duduklah." Perintah Arsal pada Syahila.
"Baiklah, aku sudah memilih gaun untuk pernikahan kita, Aunty Rasya sudah memberi tahu mu tentang apa yang akan ku kenakan bukan? apa kau setuju?" tanya Syahila dengan gugup, tapi tetap terlihat elegan pada siapapun yang melihatnya.
"Maaf, tapi seperti nya kau harus menggantinya, gaun itu terbuka, dan ini acara pernikahan yang sakral menurut ku, aku akan berjanji menjaga mu menjadikan mu pendamping ku untuk seumur hidup di hadapan orang tua mu dan juga Allah, jika pakaian mu seperti itu, aku akan sangat malu berjanji di hadapan Allah, karena tidak ada yang bisa aku banggakan dari seorang wanita yang memamerkan auratnya." jelas Arsal pada Syahila, yang hanya di tanggapi sinis oleh Syahila.
"Pakai yang ini, jika tidak mau tidak usah menikah, karena untuk melihat mu saja aku malu, terlebih jika sampai menghalalkan mu." Arsal menunjuk gaun pengantin muslimah berwarna putih, dengan gaya princes, gaunnya memang indah sangat indah.
Syahila tak bergeming, bagaimana pun itu syarat untuk menjadi istri seorang Arsal Ibrahim Arafi.