
Arsal Ibrahim Arafi telah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta, kepulangannya disambut oleh beberapa orang suruhan ayahnya, dengan mobil BMW I8 hitam Arsal melintas di jalan menuju kediaman ayahnya.
"Assalamualaikum, ayah bagaimana keadaan mu?" tanya Arsal yang cemas dengan keadaan ayahnya.
"Waalaikum salam, Ayah tentu lebih baik dari sebelumnya, karena jagoan ayah sudah datang, jika tidak begini kamu pasti tidak akan kembali Arsal."
"Tidak ayah, aku pasti kembali, setelah lisensi ku di setujui, lagi pula aku dan beberapa teman ku ingin mendirikan Internasional Hospital di sini, agar kami setidaknya bisa memberi pelayanan untuk negara kami, apakah ayah ingin berparstisipasi?"
"Kau sedang mencari modal?" sanggah sang ayah pada anaknya.
"Tidak jika untuk modal, aku akan meminta pada Tama saja, uangnya lebih banyak ketimbang ayah."
"Ya.. kau benar, bahkan koleksi hotelnya saja sekarang sudah mencapai 26 unit di 6 negara." Ayah nya mulai lagi berceloteh tentang adik tampannya itu.
Arsal mendelik melihat sekilas adik perempuannya yang sudah lima tahun terakhir tidak ia temui karena kesibukannya mengurus gelar spesialis.
"Vara? kau kah itu?" Tanya Arsal yang melihat adik perempuannya terlihat cantik mengenakan hijab.
"Abang Arsal, benarkah itu dirimu? abang kau terlihat luar biasa, tubuh mu sangat tinggi, tegap dan woww... kau fitnes ya?"
Celotehan si tuan putri tidak berhenti.
"Tidak Vara, abang tidak melakukan apapun hanya rutin joging dan karate." Vara yang mencoba ke bisaan abangnya tentang karate, dengan cekatan memelintir tangan abangnya dan mengunci pergerakannya Vara bersiap membanting abang nya dan ya abangnya tebanting ke lantai.
"Hanya segitu bang?" Vara tertawa puas saat abangnya menahan sakit dengan ringisan di wajahnya.
"Vara, cukup, ayo bangunkan abang mu dan minta maaf." ucap ayahnya marah.
"Ayolah bang, aku hanya bercanda, aku tau kau hanya tak ingin menyakiti ku, kemana saja kau tidak hadir 5 kali berturut turut dalam ulang tahun ku, bang tak bawakan buah tangan untuk ku, Kau belajar hampir 15 tahun disana apakah kau tidak bosan?" tanya Vara kembali mengintrupsi abangnya.
"Vara, bisakah kau lebih tenang sedikit, aku akan menjawab tapi bertanyalah perlahan, dan ayo kita bicara di kamar ku saja, ohya sekalian bawa koper ku." suruh Arsal pada adiknya.
Sesampainya di kamar Arsal, Vara membuka ponselnya melakukan Video Call dengan Tama.
"Hello Tama, Assalamualaikum." Wajah sumeringah Vara muncul seketika ketika Tama menerima panggilan.
"Waalaikum salam Chubby... What hapend?"
"Oh ya... are you sure? you missing me?"
"Yeh... Mas Tama, kau harus kembali secepatnya, kau sudah wisuda dan berbisnis di sana, sekarang waktunya kembali dan berkumpul, abang Arsal pun telah kembali."
Ucap Vara, sambil memutar kamera ponsel agar tertuju pada Arsal yang sedang mengganti pakaiannya dengan kaos.
"Hello brother, Assalamualaikum, are you ok handsome boy?" Sapa Arsal pada adiknya.
"Oh yeh... Im Ok my brother, I miss you...
Abang kau terlihat sangat tampan dan mengagumkan, oh ya kau mau mendirikan rumah sakit di sana? berapa uang yang harus ku transfer untuk menjadi donatur tetap mu bang?"
"Heiii... Tama jawab salam ku terlebih dahulu!" Marah Arsal pada adiknya.
"Waalaikum salam Abang Arsal, maafkan aku, aku sering melupakannya, karena nyaris disini kami tidak mengucapkannya."
"Tama, apakah kau juga melupakan kewajiban sebagai seorang muslim, jangan katakan solat dan baca Quran mu terlewat Tama?"
"Tidak Abang, aku tidak pernah lupa tentang itu, perjanjian antara aku, ayah, abang dan Vara tidak pernah akan aku lupakan, karena kelak aku mau aku bisa melihat bunda dan melihat keluarga kita bersatu kembali di surga."
"Syukurlah, kau tidak melupakannya, pastiakan juga kau menjaga setiap organ mu dari Zinah seperti apa yang ayah katakan."
"Aku masih tetap menjaganya, baiklah kita akhiri ya... aku lima menit lagi ada rapat."
"Hei, kau rapat sepagi ini?"
"Yess brodher, pembisnis tidak punya waktu luang, kirimkan saja rekening mu untuk gerakan amal itu, aku pasti akan membantu mu pak dokter tampan, dan ketika ku sampai di Indonesia perkenalkan ku dengan calon istri mu ya, jangan lupa..." Tama mematikan ponselnya.
Arsal hanya tertawa menatap si Chubby sekarang.
"Ada apa dengan mu sekarang Chubby?" tanya Arsal pada adiknya.
Tak di sambut oleh Vara, dia hanya diam dan berlalu begitu saja ketika menatap sang abang yang menjulang di depannya.