
Tama kembali tersenyum saat menatap foto gadis pujaannya yang selalu beradadi ponselnya. Tama telah jatuh hati pada gadis kecil itu, usia yang terpaut jauh dari Tama membuatnya malu untuk mendekati gadisnya itu. "Oh ya... Ara andai saja kau seumur dengan ku, mungkin aku sudah melamar mu, tapi ada apa dengan mu? kau datang ke Indonesia kemarin, apa kau rindu pada ku?" Tama tersenyum menertawakan dirinya.
Ara adalah gadis yang selalu menolak Tama dengan kasar, hanya dia yang begitu, wanita lain pasti dengan senang hati di goda Tama, tapi Ara dia menganggap Tama adalah musuh dan lebih pantas di panggil paman, Ara berusia 18 tahun, sementara Tama Sembilan tahun lebih tua dari Ara.
Suara ketukan pintu mengintrupsi Tama yang sedang memandangi foto Ara.
"Masuk!"
"Tuan Tama, satu jam lagi meating dengan relasi anda dari Jerman akan di mulai, dan nanti sore jangan lupa Tuan Arsal meminta anda datang di pertemuan amal."
jelas sekretaris Tama padanya.
"Baiklah, saya mengerti, bisakah kau bawakan beberapa proposal yang lain, saya sudah selesai dengan yang ini, bawa saja." Ucap Tama sambil menunjuk beberapa file yang tertumpuk rapi di mejanya.
***********
Dilain tempat Vara yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis kejiwaan sedang menangani seorang pasien barunya.
"Ana, tolong berikan saja suntikan anti depreasan padanya, traumanya cukup parah, dan jangan tinggalkan benda apapun di dalam ruangannya."
Pinta Vara pada seorang suster penjaga.
Ponsel Vara berdering, panggilan dari Frasa.
"Iya, sayang ada apa?" sambut Vara pada Frasa.
"Sayang, siang ini adakah waktu untuk ku, aku ingin makan siang bersama dan membicarakan tentang pernikahan kita satu bulan lagi." pinta Frasa pada Vara.
"Baiklah, di restoran rumah sakit saja ya... aku sedang banyak urusan sayang, pekerjaan ku menumpuk."
Mereka mengakhiri panggilan.
Vara kembali dengan pekerjaannya, dia memeriksa para pasiennya dengan teliti, Vara mengerti orang yang jiwanya sakit memiliki pemikiran berbeda dengan dirinya atau orang pada umumnya.
Jam makan siang pun telah tiba, Vara melihat Frasa dari luar restoran.
Vara tersenyum sambil berjalan ke arah Frasa.
"Assalamualaikum, bagaimana kabar mu sayang, sudah seminggu kita tidak bertemu, tenyata kau semakin tampan saja." goda Vara pada Frasa dan Frasa hanya tersenyum manis menanggapi godaan calon istrinya.
"Waalaikum salam ibu dari calon anak anak ku." Vara tertawa mendengar pangilan Frasa terhadapnya.
"Kau ini selalu saja membalas ejekan ku, bisakah tidak usah seperti itu?" Vara tersenyum dan dibalas kekehan Frasa.
"Aku baik baik saja seperti apa yang kau lihat sekarang, sayang aku merindukan mu, ini mama menitipkan ini untuk mu." Frasa memberikan katalog gaun pengantin pada Vara. Vara terkejut melihatnya, perlahan Vara membukanya dia gembira saat tau bahwa ibu mertuanya sangat baik terhadapnya.
"Frasa, benarkah ini mama yang memilihkannya?"
"Ya, bahkan dia yang berinisiatif meminta pendapat mu."
"Bilang padanya aku menyukai apa saja yang ia pilihkan untuk ku, aku menyerahkan busana ku padanya." ucap Vara, makanan yang di pesan Frasa pun datang, mereka menyantapnya.
"Vara, kau harus bertemu dengan mama secepatnya, selama ini kau hanya mengenalnya lewat telpon bukan?" Vara mengingat bahwa yang datang pada acara lamaran pun hanya om, tante dan papanya Frasa saja dia lupa tentang mama Farasa yang berada jauh di luar negri karena kepentingan bisnis papanya.
"Baiklah, aku akan bertemu dengannya dan mengucapkan banyak terima kasih, karena selain dia memberikan banyak solusi dia juga merelakan anak satu satunya untuk ku, Frasa aku berjanji, aku akan menjaga dan merawat seluruh keluarga mu."
Frasa tersenyum mendengar kata itu keluar dari mulut calon istrinya yang dingin dan terkesan berfikir seperti pria.