Just For Me

Just For Me
Mansion



Beberapa hari berlalu, Arsal dan Syahila, kembali ke kediaman Zulfikar, dikarenakan disana lebih banyak ART dan suster yang menjaga pangeran kecil mereka yang di beri nama, Katana Alfi Alasry.


Putra mahkota itu selalu mendapat yang terbaik, bahkan yang merawatnya kini suster terbaik dari rumah sakit milik Arsal.


Abella dan Tama kini berada di mansion yang di disain Tama untuk malaikat kecilnya.


"Sekarang kau faham kan mengapa aku meninggalkan mu selama itu?


aku merencanakan ini, aku ingin mansion ini menjadi saksi bisu aku meluluhkan mu, aku mencintai mu, malaikat kecil ku." ucap Tama sambil mencium pipi chubby milik Arbella.


"Maafkan aku, menghindar dari mu, aku mencintai mu, namun aku merasa tidak pantas untuk itu." ucap Arbella menekankan tubuhnya pada Tama.


"Kau pantas, Ara, kau pantas, sangat pantas." Tama menggendong Arbella sampai di tepi kolam renang di lantai 3 mansion, pemandangan di sana sangat indah langsung menghadap ke hutan Pinus, terlihat jelas bukit menjulang indah dari atas sini.


Tama melepas kaos tipis berwarna putih miliknya, sementara Arbella sekarang hanya mengunakan bikini berwarna hitam, Arbella bebas berpakaian di sini, karena tak ada satu orang pun kecuali Tama dan dirinya di lantai ini.


semua yang bekerja di mansion hanya boleh bekerja di lantai 1 dan 2 karena lantai 3 sangat privasi, dimana hanya ada kamar Tama dan Arbella, beberapa fasilitas fitnes, kolam renang, dapur kecil serta tempat spa.


Di dalam kolam renang, Tama memeluk Arbella posesif dari belakang, mengecup pundak, pelipis, dan Tama berbisik.


"mau coba di sini? aku rasa akan terasa berbeda, kolam ini aman, tanpa kaporit?"


"bagaimana jika ada yang mengintip?"


"mereka tidak akan berani, datang kesini, mereka hanya bertugas di lantai ini jika kita pergi."


Arbella tanpa aba-aba membalik badan dan ******* bibir tipis milik suaminya itu Tama yang mulai dikuasai gairah kini membalasnya.


erangan demi erangan tercipta. Dan kolam renang itu menjadi saksi betapa panasnya pasangan yang baru menyatu dalam pernikahan.


Setelah adegan panas itu Tama mengajak Arbella untuk makan siang, mereka makan siang berdua, saling pandang menyalurkan cinta diantara keduanya melalui tatapan.


Ketika malam tiba Arbella duduk diatas perut Tama yang sedang bermain dengan laptopnya, posisi Tama yang berbaring, memudahkan Arbella, berada di posisinya sekarang.


"Benarkah cinta ku?" tanya Arbella menggoda.


"Hey, aku harus segera menyelesaikan dokumen ini, jika kau yang seperti ini kau yang akan habis, sayang ku ayo turun."


"tidak mau, aku rindu pada mu."


"Rindu, aku ada disini, dan apa kau tidak lelah?" mengingat siang ini mereka melakukannya sebanyak 2 kali.


"tidak, aku sangat menikmatinya, ayo sekarang!"


"apa?" ucap Tama yang sedang dilanda gairah.


"masukan ke sini!" ucap Arbella dengan masa bodo.


"Benarkah? aku tidak mau."


"Kau menyebalkan! ucap Arbella lalu turun dari perut suaminya.


"Kau mau kemana?" Tama berteriak saat Arbella menutup pintu kamar dengan kasar.


Arbella, pergi menuju dapur, dia sedikit terisak, entahlah perasaannya sensitif sekali malam ini.


Dia mencari kotak susu di dalam kulkas dan meneguknya.


setelah menelannya, perutnya terasa mual.


"Aneh sekali? kenapa aku merasa seperti ini? padahal susunya baik² saja?" gurau Arbella dalam hati.


Arbella muntah 2 kali setelah minum susu itu, tubuhnya lemas, dia kembali ke kamar, wajahnya pucat, tanpa menyapa Tama yang masih menatap dokumen nya, Arbella tidur menarik selimut dan membelakangi Tama.