
Arsal, Tama dan Ayah mereka Zulfikar yang baru saja pulang dari umrah nya kini sedang berbincang di sebuah ruangan sehabis rapat tadi.
"Bagaimana bang? apa kau setuju dengan pengalihan saham yang ada dilaporan itu?" tanya Tama pada abangnya yang sedari tadi hanya menatapi laporan dan data yang dirinya berikan.
"Menurut ayah apakah ini baik?" Tanya Arsal kembali pada ayahnya.
"Ada apa dengan mu nak? mengapa kau bertanya begitu pada ayah?"
"Ayah tau kan sedari awal aku tidak suka dengan perusahaan ayah, maka dari itu serahkan semuanya pada Tama saja, aku hanya ingin mengurus apa yang telah ku dapatkan saja, jadi aku tidak mau saham itu sepeserpun."
"Tapi Arsal, ini adalah hak waris mu dan beberapa rumah yang telah ayah belikan untuk kalian bertiga pun akan akan ayah bagikan." ucap Zulfikar.
"Ayah, ini harta waris, maka ku putuskan bagian ku di jual saja pada Tama, uang hasil penjualannya, akan ku buatkan tempat ibadah dan tempat pendidikan bagaimana?" tawar Arsal hanya ditatapi heran oleh adiknya.
"Aku tak punya uang sebanyak itu kak!" seru Tama yang tidak mungkin membayar semua hak waris Arsal yang berjumlah milyaran dolar.
"Atau begini saja Tama kau urus semuanya dan beberapa persen hasil dari saham ku selama 5 tahun kau serahkan semuanya di tahun ini." Usul Arsal.
"Tidak bisa bang, sudah ku bilang aku tidak bisa membayar saham mu sebanyak itu, uang ku tidak cukup." jelas Tama penuh kegemasan pada abangnya.
"Begini saja Arsal, kamu harus memiliki anak, dan kamu bisa bebas dari kepemilikan saham dan itu harus di tahun ini, jika tidak semua saham itu beralih kedalam nama mu."Ucap sang ayah yang sebenarnya memang ingin segera menimang cucu dari darahnya sendiri.
"APA ANAK !!!" Arsal terbelak kaget atas keputusan sang ayah.
"Bagaimana bisa ayah, secepat ini."
"Bagaimana kau ini bang, kau nyaris menikah selama 9 bulan, masa iya... menghamili satu wanita saja tidak bisa, apalagi kan Syahila masih muda dan sangat subur." Terang Tama yang sengaja mengorek rahasia kakak nya.
Arsal hanya terdiam mengingat ingat tentang ucapan Tama dan ayahnya tadi siang.
Malam ini Arsal tidur di kamarnya, janji mereka tiga hari lalu untuk menjadi suami istri yang normal belum terpenuhi, Arsal masih ragu.
Tok... tok...
Syahila pun masuk ke kamar Arsal dengan ragu. "Ada apa? ini sudah malam mengapa belum tidur." tanya Arsal pada Syahila yang hanya menatapnya.
"Aku mendapat telpon dari ayah." ucap Syahila.
"Apa kata ayah?"
"Ayah bilang bisakah aku mengambil cuti dalam 5 hari ke depan, ketika ku tanya untuk apa, ayah menyuruh ku untuk bertanya kepada kamu."
Arsal pun bingung dengan apa yang diucap ayahnya.
"Syahila, ada masalah sebenarnya."
"Masalah apa kak?"
"Kau janji tidak kaget? dan tidak akan menertawai ku." Arsal mulai serius dan Syahila siap mendengarkan.
"Ayah mengalihkan 50% sahamnya pada ku, sementara Tama mendapat 30% saham dan Vara hanya 20% saja, aku menolak nya karena kurasa hidup ku yang sekarang saja sudah lebih dari cukup."
"Lalu?"
"Kemudian aku menyarankan agar saham ku dibeli Tama, namun Tama menolak, karena saham ku bukan saham main main, dan ayah dengan senang hati menyingkirkan nama ku jika ada ahli waris lain dari darah Arafi." Syahila hanya diam berfikir.
"Hanya ada 3 Arafi disini, Tama, suami ku dan juga Ayah, apakah ayah punya anak lain?" Gurau Syahila pada nuraninya.
"Ayah menyuruhku untuk membuat ahli waris itu."
"Apa? apakah ahli waris itu bisa dibuat kak?" Syahila kaget.
"Kau cantik, terkenal, tapi pengertian mu tentang bahasa dan kecerdasan mu diragukan." ucap Arsal yang hanya di tatapi heran oleh Syahila.