Just For Me

Just For Me
Krisis Percaya



Rasanya sesak sekali saat dirinya tak menemani ku di saat sepi seperti ini, hari sudah larut dan suami ku belum juga kembali. Aku masih diam di sofa sambil menyenderkan kepala tak lama aku pun tertidur lelap, namun aku kembali terjaga setelah kiranya 30 menit berlalu, ponselku berbunyi, ketika melihat kontak yang tertera aku kecewa ku kira suami ku ternyata rekan kerja ku.


"Hai Ferdo, ada perlu apa?" Sahut ku ketika aku menekan tombol hijau dilayar ponsel.


"Syahila, bisakah kita bertemu besok untuk melakukan foto Shoot, aku sangat membutuhkan teman pendamping untuk rancangan baru di tahun ini."


"Bukan kau sudah menggantikan ku dengan Elian? Maaf Ferdo, aku sudah bilang aku tidak bisa lagi mengambil foto dengan baju baju itu, rancangan Dick terlalu terbuka untuk ku." Jelas ku apa adanya, ya Dick adalah seorang disainer ternama yang selalu merancang gaun gaun fantastis dan yang pastinya itu gaun malam yang terbuka.


"Aku mohon pada mu Elian tidak bisa hadir karena kerabat terdekatnya mengalami kecelakaan, dan dia harus pergi siang tadi dan baru kembali 5 hari lagi."


"Maaf aku tidak bisa membantu banyak Ferdo."


"Ayolah Syahila satu kali ini saja, jika tidak kami akan kena pinalti, kami tidak akan bisa ikut pameran musim ini yang akan diselenggaran di Eropa."


"Aku tau Eropa adalah mimpi kalian tapi aku sudah memutuskan untuk berhenti, jadi maaf."


Aku masih berfikir, bagaimana pun mereka harus maju dalam tour itu, aku tau itu mimpi yang mereka bangun sejak lama.


Sejenak aku berfikir saat sambungan belum terputus.


"Baiklah, kali ini aku mengalah, aku harap ini yang terakhir setelah mengantar kalian kedalam pameran itu ya."


"Terimakasih Syahila, aku berhutang banyak pada mu, aku berjanji setelah ini tak akan menggangu mu lagi."


Aku menutup sambungan telponnya, kini aku merasa kacau, aku takut Arsal akan marah lagi, dan yang terparah aku takut dia akan benar benar berpaling dari ku.


Namun jika aku menolak ajakan itu sama saja aku memusnakan mimpi teman teman ku.


Aku masih terjaga sampai suara pintu mengintrupsi ku.


"Aku sudah bilang pada mu untuk tidak menunggu ku, lalu apa yang kau lakukan sekarang, cepatlah tidur ini sudah setengah dua pagi."


Dia melepas pakaiannya di sembarang tempat ketika ia keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar namun masih penuh amarah.


"Kak, kau lelah ya?"


"Jelas aku lelah, besok pagi aku akan pergi ke luar negri."


Dalam hati aku merespon dengan emosi.


Apa kau akan pergi, meninggalkan ku, apa harus setia ku di uji kembali, menunggu mu dengan penuh rasa curiga.


"Aku ingin bertanya."


"Apa itu?" jawabnya singkat.


"Dengan siapa kau pergi?"


"Tentu dengan seluruh orang yang bersangkutan dengan bisnis ku, oh ya apa rencana mu besok dan empat hari kedepan selama ku pergi."


"Aku ada pemotretan untuk launching gaun malam di musim ini, kau jangan marah pada ku dulu dengar penjelasan ku." Aku berkata begitu karena rongga mulut yang terkatup kini terbuka dan pandangnya berubah.


"Aku dan beberapa rekan ku sangat mengharapkan pameran tingkat dunia ini, mereka kehilangan model terbaik mereka dan meminta ku menggantikan model itu, aku sudah menolak tapi mereka tidak akan bisa maju ke babak selanjutnya jika tidak ada model pengganti di grup itu. Aku mohon izinkan aku."


Dia menarik nafas.


"Sadarkah diri mu jika kini aku sedang krisis percaya pada mu, aku tidak tau kau berkilah untuk hal apa lagi, kau bilang tidak akan menyentuh gaun2 itu lagi nyatanya kau sentuh lagi.


Jika boleh ku bicara aku juga memiliki kecewa yang sama pada mu, siapa wanita itu sebenarnya yang membuat kau melupakan sikap mu pada ku.