
Malam pun tiba, setelah meyelesaikan urusan dengan sang pencipta Arsal dan Syahila mengajak Arbella untuk duduk santai menikmati malam di halaman belakang villa, pengurus villa membantu mereka menyiapkan bakaran untuk barbeque, memindahkan kyboard milik Tama dan sebagainya.
Syahila yang sangat piawai memainkan kyboard serta Arsal yang selalu tampan ketika memetik gitar kesayangannya membuat Arbella sangat senang berada dilingkungan hangat ini, dia merasa hidupnya sangat lengkap, Syahila memperlakukannya seperti seorang putri dan Arsal sangat menyayanginya seperti adik kandungnya.
"Arbell, kau suka lagu apa?" Tanya Syahila dengan ramah.
"Aku suka apapun yang kalian mainkan, oh ya... aku suka sekali dengan paprika dan bombay ini, kau menggunakan saus apa untuk membakarnya?"
"Hahaha... kau ini, jika suka maka habiskan semua yang ada di piring itu, aku yakin istri ku ini akan berterimakasih dan memuji mu." Jawab Arsal dengan gembira.
"Arbell, jika kau sangat menyukainya, kau bisa meminta ku membuatkannya setiap hari untuk mu, oh ya itu juga mengunakan sosis sapi." jelas Syahila.
"Apa? sapi? kak aku sangat membenci sosis sapi, aku hanya makan olahan ayam dan ikan, tidak untuk sapi." Arbella pun memuntahkan semuanya, hingga baju yang dikenakannya semuanya kotor.
"Arbell, maafkan aku aku tidak tahu, kau membenci daging sapi, baiklah kita ganti baju mu didalam oke." Syahila membawa Arbella kedalam kamar untuk mengganti bajunya.
Setelah berganti baju Arbella memilih utuk beristirahat di kamarnya saja.
"Kak, kau bisa tinggalkan aku sendiri, entah mengapa suasana hati ku malam ini sedang tidak baik, aku ingin sendirian."
"Baiklah, jika perlu sesuatu panggilah aku."
Syahila kembali menemani Arsal di halaman belakang, Syahila merasa ini kesempatan untuk sejenak tenang bersama Arsal, karena dalam beberapa bulan ini Arsal dan Syahila sama sekali tidak pernah berdekatan, seolah banyak rintangan bahkan hanya untuk tidur bersama.
"Sayang, ini sudah cukup malam apakah kaumasih ingin disini." Syahila menyentuh bahu Arsal.
Arsa menyabut tangan Syahila, kemudian Arsal menyuruh Syahila duduk di sebelahnya, Arsal merebahkan diri di pangkuan Syahila.
"Aku sudah lama menantikan malam seperti ini, menikmati udara sejuk, bertemankan jangkrik, dan suasana tenang seperti ini."
"Syahila, apakah kau menikmati suasana ini."
"Ehemm..." Hanya itu yang keluar dari mulut Syahila.
Arsal mengenggam tangan Syahila dan menciumi nya.
"Syhila, mungkin Allah memiliki rencana lain, jika kau hamil sekarang maka aku tidak akan merasakan kenyamanan ini, kau mungkin hanya akan fokus pada perut mu itu, kau tidak akan memperdulikan aku lagi."
Syahila tertawa mendengar perkataan suaminya itu.
"Ya, kau benar, tapi kau juga salah.
Aku akan tetap cinta dan perduli pada mu, aku akan selalu ingat bagaimana cara dan perjuangan ku untuk mendapatkan hati dan cinta mu, itu sangat menyakitkan dan tidak mudah, jadi aku akan tetap menjaga perhatian, perlakuan dan cinta ku pada mu."
"Benarkah? bahkan jika bayi kita nanti lebih tampan, lebih lucu dan lebih mencintai mu, apakah kau akan tetap berlaku sama pada ku?"
"Ya, jelas! cinta ku pada mu dan anak kita nanti itu berbeda, cinta ku pada mu seperti cinta ku kepada harta milik ku, kau akan selalu ku rawat namun jika kau hilang akan ku ikhlaskan. Namun jika pada anak ku seperti barang kesayangan ku, tidak akan pernah ku buang dan akan selalu ku rawat, jika hilang pasti akan ku cari."
"Berarti akau tak lebih berharga dari anak kita dimata mu?" Arsal mulai merajuk dengan ucapan Syahila.
"Ayolah jangan seperti itu, kau juga akan merasakannya nanti jika kau sudah menjadi seorang ayah, kau mencintai ku tapi nanti kau juga akan lebih besar mencintainya, dia itu darah daging mu."
"Ya ya ya... momy aku mengerti, ayolah kita tidur dan membuatnya hadir dalam hidup kita."
Malam itu menjadi malam yang romantis bagi mereka berdua.