
Masih kilas Balik...
Tama masih terpaku saat dia tau dirinya harus berurusan dengan pengadilan karena menolong seseorang, Tama tidak bisa mencari bukti, tidak ada rekaman cctv atau apapun di tempat kejadian.
"Aku tidak pernah membunuh siapapun! kau mengerti bahkan untuk berbuat curang saja aku tidak bisa melakukannya, kau carilah semua bukti yang ada, aku tidak mungkin bertanggung jawab dengan hal yang tidak ku perbuat, aku hanya ingin menolong pria itu, kau tau umurku baru 20 tahun bukan?" Bentak Tama pada seseorang pengacara yang mengurus kasusnya.
"Baiklah tuan Aditama saya akan mengusahakan semuanya." pengacaranya pun berlalu.
Tama menghubungi orang kepercayaan nya untuk mencari tau siapa sebenarnya pria muda yang nyaris membunuh pria itu dan juga ikut melibatkan Tama dalam pembunuhan tersebut.
Setelah dua bulan kasus berjalan, Tama menemukan siapa pria itu, dia adalah Lukasio Davinci, dia seorang anak pengusaha ternama dengan latar belakang mafia, dan Tama tau jelas apa alasan dari semua itu.
"Jadi ada yang ingin main main dengan ku! Buat janji dengannya, pertemukan dia dengan ku, dan aku akan menghancurkannya lewat bisnis."
Tama menemui Lukas dengan alasan kerjasama bisnis bersama ayah Lukas, pihak Lukas merasa sangat di untungkan, namun mereka juga menyadari ketidak mungkin nan dalam bisnis ini, namun jangan panggil Aditama jika tidak bisa meyakinkan seseorang.
Mereka pun setuju dan saling menjalin bisnis, ketika di pertengahan jalan Tama membatalkan semuanya, dengan alasan korupsi dana, dan semua terbukti, perusahaan mereka merugi dan bangkrut dalam waktu satu malam.
Tama memberi tau pada Lukas.
"Jangan pernah membuat tuduhan palsu dan jangan pernah bermain dengan ku, aku lebih kuat dari mu, kau terlalu rakus dengan semuanya, kau mau rumah sakit dan hotel itu sekaligus, tenang kau akan mendapatkannya namun hanya nama saja, tapi tidak dengan semua yang ada di dalamnya.
Lukas merasa marah dan dendam dia merencanakan pertemuan Arbella dan Tama lalu menghancurkan Tama.
Tama masih tau dan mengingat jelas apa yang akan dilakukan Lukas setelah itu.
Arbella masih termenung meski sejak tadi ikatan di tangannya sudah terlepas, meski tutup matanya masih rapat menutup matanya.
"Siapa sebenarnya mereka suruhan Lukas atau paman?"
diskusi batin Arbella.
Ucap seorang pria yang suaranya sangat Arbella kenal jelas.
"Paman, kau kah itu?" Air mata mengalir begitu saja tanpa di pinta.
"Paman, kumohon lepaskan aku."
"Lepaskan dia, buka penutup matanya dan bawa ke kamar ku." ucap Tama.
Tama dan Arbella kini bersi tegang, Tama masih menatap Arbella dengan segala ketulusan, namun Arbella menatapnya dengan penuh ketakutan.
"Mengapa kau menculik ku?" tanya Arbella.
"Aku mencintai mu."
"itu bukan sebuah jawaban tuan Aditama."
"Berapa lama kita akan selalu terpisah?" ucap Tama dengan penuh penekanan.
"Ara, lihat aku, kau meragukan ku, atau kau tidak mencintai ku, Ara sejauh apapun kau pergi aku pasti akan kembali menemukan mu." ucap Tama, dan Arbella tetap terpaku dan menunduk.
"Paman, aku hanya takut dia kembali memisahkan kita, aku hanya takut hal menyakitkan akan kembali terulang, kepergian ayah..."
Tama membungkam mulut Arbella dengan ciuman singkatnya.
"Dia tidak akan pernah bisa melukai ku, tetaplah bersama ku, dan kau akan bahagia bersama ku."
"Paman, jika saja aku bukan keturunan Roberts maka aku kan sangat bahagia sekali bersama mu."
"Ara, aku sangat mencintai mu, tidak mungkin aku akan membiarkan mu terluka, berjanjilah untuk tetap disisi ku."