Just For Me

Just For Me
Alasan.



Arbella dan Tama kini sampai di depan rumah orang tua Tama, Tama tersenyum kearah Arbella.


"Kali kedua kau menginjakan kaki di rumah ini,dan kali ini lebih spesial dan kau tidak bisa kabur lagi." ucap Tama sinis mata tajamnya menghujam pada manik Arbella.


"Kita lihat saja nanti."


Arbella masuk dan membuka pintu mengucap salam dan menemui si pemilik rumah.


"Assalamualaikum, ayah, bagaimana kabar mu hari ini?" Arbella menyapa mertuanya di malam buta seperti sekarang, mereka kini duduk berhadapan di ruang keluarga.


Zulfikar sedang menikmati teh hijau panasnya.


"Menantu kecil ku kau datang, tidak untuk kabur lagi bukan?" Zulfikar bertanya sambil menyesap teh hangat itu.


"Ayah, maafkan aku telah berburuk sangka kepada kedua anak mu itu."ucap Arbella sedikit gugup.


"Tak apa, terkadang kesalah pahaman bisa terjadi, namun kau harus terlebih dahulu memastikannya lain kali."


"Tentu ayah."


Tama masuk keruangan itu dan menggoda Arbella dengan cara tersenyum dan mengedipkan matanya, lalu mencium pipi chubby milik Arbella.


"Assalamualaikum, ayah." sapa Tama degan mencium tangan ayahnya.


"Waalaikum salam Tama."


"Ayah belum tidur? apa yang ayah tunggu?"


"Menunggu kalian berdua, oh ya.... bagaimana Syahila?"


"Kak Hilla? dia baik² saja bahkan bayinya sudah menyusu." ucap Arbella.


"Ayah, sepertinya aku dan Arbella belum bisa memberikan cucu untuk ayah." ucap Tama sedikit acuh.


"Kenapa?"


"Arbella belum mau mengandung, usianya masih sangat muda."


Ayah menatap Arbella lekat dan hangat.


"Berarti kamu harus bersabar Tama. Arbella apakah kamu juga tidak mau di sentuh tama.?"


"Tidak ayah, Arbella tidak bermaksud begitu, Arbella mau, tapi..."


"Ayah, terimakasih akhirnya dia mau!" ucap Tama kegirangan.


"Tama bukankah masih ada kata tapi diakhir kalimatnya?" ucap Zulfikar agar Tama bisa bersikap biasa saja.


"Lanjutkan Arbella." ucap Zulfikar.


"Tapi aku harus menunda semuanya sekarang." ucap Arbella.


"Kenapa?" ucap Tama.


Wajah Arbella gusar dia bingung, dia tidak punya alasan apapun pada dasarnya, Tama adalah suami sahnya, Tama berhak atas dirinya, namun Arbella masih tabu dengan hal semacam itu.


"Arbella, katakanlah nak, aku ayah mu dan Tama suami mu jangan buat ke salah pahaman lagi Arbella, kau tau kan bahwa dosa jika menolak suami mu sendiri, apa lagi jika Tama sampai melirik wanita lain."


Arbella berfikir keras, kepalanya pusing dia tidak dapat berfikir dan juga menjawab pertanyaan Zulfikar.


"Ayah benar, tapi aku belum bisa untuk hal itu."


"Baiklah, kau berikan alasnya kenapa tidak bisa, katakan itu pada Tama, ayah sudah mengantuk, ayah akan istirahat sekarang, kalian tidurlah, jangan terlalu malam." ucap Zulfikar kemudian ia beranjak menuju kamarnya.


Arbella menatap Tama dengan takut, kemudian dia menunduk.


Arbella mengikuti Tama menuju kamar milik Tama, sebelumnya Arbella pernah salah masuk kamar dirumah ini, dia masuk ke kamar Tama tanpa sengaja dan menghirup aroma Tama dan juga melihat foto keluarga mereka disana.


"Tetap sama dan bersih!" ucap Tama ketika masuk kedalam kamarnya.


"Benar tidak ada yang berubah bahkan sprei ini masih sama dengan yang terakhir aku lihat." ucap Arbella.


"Apa maksud mu?"


"Aku pernah salah masuk kamar, aku mencium aroma seseorang saat itu dan aku menatapi foto itu." ucap Arbella sambil menunjuk foto di dinding.


Tama mengambilkan kimono handuk untuk Arbella, ia tidak membawa baju satupun, dan dia tidak beranjak dari rumah sakit satu Minggu lamanya, dia memakai kaos dari apartemen Arsal, karena lebih dekat dari rumah sakit.


"Pakai ini, mandilah setelah itu tidur." ucap Tama datar.