Just For Me

Just For Me
Minta Maaf



Arsal mulai goyah pada kemarahannya selama dua hari ini, saat melihat dan mendengar apa yang Syahila panjatkan pada doanya tadi.


"Apakah dia benar benar terluka dengan ucapan dan tindakan ku, apakah aku berlebihan, Syahila memang sudah berubah, haruskah aku minta maaf?" ucap Arsal yang kini ada di kamarnya.


Syahila menuju dapur dan meminum segelas susu, kemudian dia pergi kekamarnya untuk segera tidur, Syahila menyadari Arsal sudah kembali merasa lega, namun ia enggan untuk menemuinya, karena Arsal pasti masih marah dan akan mendiaminya.


Syahila kini mulai terlelap,sementara Arsal masih ragu untuk minta maaf. Sesaat Arsal mantap dengan keputusannya untuk minta maaf, namun dia kecewa karena Syahila sudah mengunci pintu kamarnya, tertanda dia sudah tidur.


Semalaman Arsal berfikir bagaimana cara untuk meminta maaf, namun lagi lagi egonya sangat besar.


Hari pun sudah mulai pagi, sedari subuh Syahila menyiapkan semua keperluan Arsal, seperti tas, laptop, dasi, pakaian dan sepatunya. Syahila lelusa karena Arsal sehabis subuh tertidur di sofa, mereka masih belum bertegur sapa.


Syahila membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuk Arsal. Arsal yang bangun dari tidurnya segera masuk kedalam kamar untuk bersiap pergi bekerja. Arsal tergetar lagi saat melihat kamarnya sudah rapi bersama perlengkapan yang akan dia pakai.


Arsal menuju dapur, Syahila masih disana dengan senyum yang mengembang tertuju pada Arsal.


"Sudah rapih, duduk lah aku sedang membuat jus untuk sarapan mu." ucap Syahila dengan ramah, Syahila seperti sudah melupakan semuanya.


Arsal tertunduk dan meminum jus yang sudah siap, Syahila masih menatapnya dengan kegembiraan sambil mengunyah roti isinya. "Kak, ini kotak makan mu, jika tidak suka jangan di buang, berikan saja pada sekertaris atau asisten mu, itu lebih baik dari pada kau membuangnya, akan sia sia." Ucap Syahila karena menduga Arsal tidak akan memakannya.


Syahila berdiri saat sarapannya sudah habis, dia hendak mencuci piring. Arsal memeluk Syahila dari belakang, Syahila yang kaget pada perlakuan Arsal yang tak pernah seperti ini.


"Sudahlah, aku yang minta maaf, aku yang salah, jangan bahas ini lagi ya Kak." pinta Syahila yang masih menggenggam spons di tangannya.


"Terimakasih, sudah mau mencintai ku, terimakasih atas segala pengertian mu, tapi ku mohon jadilah saja istri ku jangan menjadi model, aku tak tau kenapa aku selalu saja tersiksa bila kau memperlihatkan yang seharusnya tak dilihat orang lain Syahila."


"Aku mengerti, aku tidak akan lagi menerima tawaran seperti itu lagi, aku janji pada mu kak." Arsal melepaskan pelukannya, dia membalikan badan Syahila agar menatapnya.


"Bisa kita mulai dari awal." tanya Arsal dibalas angukan oleh istrinya.


"Bisa kita menjadi suami istri yang normal?" lagi lagi Syahila hanya mengangguk.


"Kau mau memaafkan semua kesalahan ku, dan kau mau untuk berubah dalam berpenampilan? Syahila kau telah merebut hati ku dengan tulusnya dirimu dalam memperlakukan ku." lalu Arsal mengecup kening sang istri.


"Kak kamu tak lagi jijik menyentuh ku, kamu tidak lagi emosi saat menatap ku? bisakah kau seperti ini untuk selamanya, dekat dengan ku dan menerima jika aku ingin memanjakan mu?" Arsal terdiam dengan perkataan yang keluar dari mulut istrinya.


"Apakah aku sekejam itu pada Syahila?" Arsal merutuki dirinya dalam diam.


"Ya, lupakan semua itu aku hanya ingin kau memaafkan semua kesalahan ku Syahila." Dan kini Syahila menempelkan bibirnya di bibir Arsal, kecupan singkat itu membuat Arsal sedikit bergairah, namun tertahan karen sejuta pekerjaan sudah menumpuk hari ini.