
Adivara yang telah menjadi seorang istri selama kurang lebih satu bulan ini sangat menyukai tugasnya sebagai seorang istri, ia senang sekali membuatkan sarapan untuk suaminya, ketika subuh pun mereka selalu menjalankan solat bersama.
Ponselnya pun kini berdering, Vara mengangkat telponnya.
"Assalamualaikum ayah, kau merindukan ku?" sapa Vara.
"Tentu, kau anak ku, datanglah ke rumah untuk sekedar makan malam bersama kakak kakak mu."
"Baiklah ayah aku akan meminta Frasa meluangkan waktunya untuk makan malam." Setelah itu Vara menghubungi Frasa, Frasa pun meng iyakan permintaan sang istri.
Jam kini telah menunjukan pukul 18.30 Vara pun baru tiba di rumah itu, berbeda dengan Syahila dan Arsal mereka sudah tiba sejak siang tadi, Arsal sengaja membatalkan beberapa acara yang telah tertera pada jadwal, sedang Syahila hari ini memang tidak ada job.
"Hai, Syahila apa kabar mu?" tanya Vara sambil menciym pipi kanan dan pipi kiri Syahila, Arsal justru melirik adiknya dengan sinis. "Dia kakak ipar mu Vara, pagil dia dengan layak!" seru Arsal.
"Baiklah bang, kak Syahila maafkan aku, aku tidak terbiasa dengan semua ini." Syahila tersenyum manis.
"Tak apa, aku sudah biasa, kau boleh memanggil ku dengan sebutan apapun, selama kau nyaman memanggil ku." Mereka saling menebar senyum.
Syahila membantu menata meja makan, hidangan kali ini pun ia yang menyajikan, Syahila sangat senang karena Arsal menatapnya terus dan menebar senyum padanya.
"Ekhemm..." Geram Vara, Vara memperhatikan mereka berdua sedari tadi.
"Kalian berdua sudah menjadi suami istri, jika masih berpandangan malu malu seperti itu, hanya dilakukan oleh anak remaja saja." ucap Vara dengan segala sifat ke kanakannya.
Arsal hanya tersenyum lalu menundukan pandangannya. Sementara semua yang ada di hadapan Arsal dan Syahila menatap mereka penuh heran, terutama Tama.
"Habiskan lah malam ini berdua, aku akan membuat kalian bersama untuk selamanya." ucap Tama dalam hati.
Selepas makan malam mereka bersenda gurau di taman belakang, Tama melontarkan beberapa pertanyaan pada sang kakak yang sedang kalah dalam permainan.
"Bang, katakan pada ku siapa wanita yang telah mencuri hati mu untuk pertama kali?" Tama sengaja mengajukan pertanyaan itu, padahal Tama sendiri sudah tau, belum ada seorang wanita pun yang pernah menggambil hati abangnya.
"Siapa? Tama kau sangat faham siapa dia, tidak usah bertanya kalian semua tentu sudah tau kan?" Jawab Arsal dengan nada pelan namun cukup membuat Syahila terkejut. "Mereka semua sudah tau? aku yakin wanita yang telah menaklukan hati Arsal adalah wanita yang istimewa dan sempurna." Ucap Syahila dalam hati.
Tama dengan seringainya bergantian menayakan hal serupa pada Syahila, dan Syahila pun menjawab dengan pantas.
"Tama, aku sangat menyukai seorang pria tapi tidak mencintainya, lalu bolehkah dia masuk kedalam daftar seseorang yang mencuri hati ku?"
"Tentu, dia yang membuat mu terkesan akan masuk kedalam daftar itu." jawab Tama.
"Baiklah, kalau begitu, aku sangat menyukai Varel Wiliam, dia sangat tampan dan dia rekan yang baik jika dalam pemotretan." Syahila menjawab penuh antusias.
Dan begitu saja Arsal berpaling, beranjak dari duduknya.
"Bang, kau mau kemana? masih ada satu putaran lagi." Geram Tama yang semakin membuat Arsal tak perduli.
"Baiklah, aku tak pernah jatuh cinta kecuali dengan dunia ku, aku tidak akan mencintai siapa pun!" kesal Arsal yang hanya bisa dilampiaskannya pada dinding kamar.