Just For Me

Just For Me
Emergency



"Ara, tunggu, kamu harus mendengarkan segala penjelasan ku." Hentak ku saat sudah tak sanggup lagi dengan segala ke diamnya.


Dia bisa menikmati pesta namun aku, masih memperhatikannya, Ara masih marah pada ku, kemarahannya mengusik perasaan ku terhadap nya.


"Ara, come on, aku tidak bisa terus melihat mu seperti ini, jika kau memang ingin marah silahkan, marah saja pada ku, Ara ayo lah." Geram ku yang kini malah di masa bodo amatkan olehnya.


Ara menutup pintu kamar dengan sangat keras, didalam kamar mungkin ia menangis.


Ara, ku tau hati mu hanya untuk ku, tapi mengapa kau berat sekali menerima bahwa Arsal adalah abang ku, kenapa kau merasa seperti di bodohi? aku bahkan tidak pernah sedikit pun menyuruh abang untuk ikut campur dalam urusan kita.


Aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran istri mungil ku ini, dia begitu marah hingga sudah beberapa hari semenjak kejadian itu dia tak pernah lagi perhatian bahkan tak ada lagi tegur sapa diantara aku dan dia.


Aku memutuskan untuk kembali ke Inggris pagi ini, kepergian ku sangat mendadak hingga hanya asistan ku saja yang tau.


Jam berlalu kini jet pribadi ku sudah mendarat di kota London, Sandra sekertaris ku mengatur beberapa jadwal ku selama di sini memberi tau bahwa malam ini akan ada pertemuan dengan beberapa rekan yang akan membahas kerjasama perusahaan ku dengan hotel hotel besar di negara negara besar.


Dua hari sudah aku berada di Inggris namun tak satu pesan atau bahkan pertanyaan dimana aku sekarang berada. Kepergian ku tidak membuat Ara berubah sama sekali, bahkan dia yang dulu tidak bisa menjauh dari ku kini benar- benar jauh.


********


"Sayang hari ini kau akan menemui Arbella untuk pemeriksaan rutin bukan?"


"Ya, tentu Sayang, ada apa?"


"Aku sudah membuatkan makanan ini untuk nya, ku harap dia bisa menerima dan meniknmatinya."


"Sayang, aku harus mengurus rumah, dan beban yang kau berikan untuk ikut serta berada di perusahaan mu, itu membuat ku sedikit repot."


"Maafkan aku sayang, tapi kau cukup baik dalam pekerjaan mu itu, terimakasih sudah membantu ku." Arsal mengecup kening istrinya berulang, padahal sang istri sedang memakaikan dasi miliknya.


"Ayah memang tidak salah memilihkan pendamping untuk ku, kau begitu cantik dan pandai."


"Bahkan dulu tuan dingin ini memarahi dan mengatai ku dengan banyak seringainya." mereka tertawa, kemudian Arsal pergi dan membawa kotak makan yang di sajikan Syahila.


Ketika di basmant apartemen Arsal mendapat panggilan dari para suster yang merawat Arbella.


"Baik, saya akan sampai 15 menit lagi, tolong kalian tangani dulu." Arsal bergegas memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal.


Sesampainya Arsal di depan pintu kamar Arbella, ruangan telah di penuhi dengan berbagai macam alat dan juga para suster yang bergantian mengecek kondisi Arbella.


"Dokter? syukurlah kau datang, kondisi syaraf pusatnya saat ini benar benar membutuhkan penangan intensif dok, kami sudah melakukan beberapa penanganan pertama, namun sepertinya oprasi menjadi jalan terbaik."


Arsal yang dengan lihai masih memeriksa beberapa gejala pada Arbella.


"Baiklah, hubungi ambulans, kita akan segera melakukan oprasi dalam waktu satu jam kedepan, tolong hubungi rumah sakit untuk segera menyiapkan ruang oprasi sekarang juga."


Arsal memerintah dengan sigapnya, selain itu Arsal juga bersi keras menghubungi Tama, namun apa daya semua yang berhubungan dengan Tama seolah hilang.