Just For Me

Just For Me
Cemburu



Mereka pun sampai di restoran yang sudah di janjikan untuk makan siang, Arsal menyalami mrs Marlin begitu pula dengan Syahila, mereka mengenakan bahasa Jerman dengan faseh, namun Syahila hanya bingung dengan semua pembicaraan mereka yang justru malah membuat Syahila salah faham.


Satu jam sudah berlalu mrs Merlin dan Arsal masih terus berbicara dari gerak tubuh yang di baca Syahila memang mereka berdua sangat cocok, bahkan Arsal selalu tersenyum dengan ramah saat bertatap wajah dengan mrs Marlin.


Syahila hanya bisa diam dan memainkan peralatan makannya di sana, sampai sampai ia sedikit mengganggu pembicaraan kedua patner itu.


Syahila prov.


Aku benci saat Arsal lebih memilih untuk menatap dan tertawa seperti itu dengan wanita lain, terlebih wanita yang saat ini dia ajak bicara adalah seorang yang dewasa seksi dan jujur saja aku cemburu.


Kata cemburu mungkin berlebihan, aku hanya kesal saja Arsal menatapnya penuh antusias.


Aku sengaja pergi dari hadapan Arsal, aku memilih toilet untuk menghapus rasa kesal ku. Sekarang aku hanya menatap cermin yang ada di hadapan ku.


Seandainya cinta Arsal seutuhnya hanya milik ku.


Entah mengapa aku selalu ragu dengan nya, bahkan saat ia berkata dengan penuh cinta di setiap perlakuannya terhadap ku, sebab aku tidak tau, siapa sebenarnya wanita yang sudah benar benar menjadi pelabuhan terakhirnya.


Aku meraba perut rata ku, aku hanya berharap di minggu minggu ini aku mendapat keajaiban, aku akan merasa senang atau sedih, tujuan dia hadir pun hanya sebagai tameng agar suami ku tidak memperoleh dan bertanggung jawab pada hak warisnya.


Aku kembali ke meja yang semula ku tempati bersama Arsal dan Mrs Marlin.


"Dari mana saja kau? aku mencari mu, setelah ini kita akan bertemu dengan mr Rudolf." Arsal memberi ku alasan yang tepat sebelum aku membawa perasaan terlalu jauh.


Ya ku kira dia merindukan ku, ternyata dia memang akan pergi dari restoran ini.


Kenapa rasa kecewa begitu besar menemani hari ku ini.


"Hila, ada apa dengan mu sedari tadi kita di caffe kau terlihat murung?" Aku tau suami ku sudah mulai curiga dengan prilaku ku sejak tadi.


Aku kini hanya bisa tersenyum kecut dan berlalu pergi, aku memasuki kamar mandi, aku berendam air hangat agar bisa mengistirahatkan pikiran ku yang kalut hari ini.


Setelah sedikit rileks, aku menarik selimut dan memeluk guling lalu terlelap hingga pagi pun datang.


Rasa lelah itu tak berkurang padahal semalam aku istirahat dengan baik, namun mengapa pagi ini sangat lemas, apakah ada yang salah dengan diri ku.


Aku mencari Arsal keseluruh penjuru ruangan, aku melihatnya sedang terhubung dengan seseorang di balkon dekat kolam renang, dia menyebut nama wanita dengan penuh penekanan seperti orangnya wanita yang dimaksud Arsal sangat lah dekat juga ia memiliki tanggung jawab pada wanita itu.


Setelah ku fikir nama wanita itu tidak ada dalam daftar nama Arafi.


Curiga ku makin menggebu dan terasa sesak, tanpa sadar air mata ku jatuh, mungkin ini hanya praduga dan ketakutan ku saja.


Aku coba mengerti suami ku banyak terlibat dengan wanita karena dia sang CEO, namun sepertinya nurani ku gagal faham atas himbauan otak ku.


Aku berjalan kedapur untuk menyiapkan sarapan.


Arsal datang dari arah belakang.


"Duduk dan sarapan lah, apa kau mau pergi tanpa sarapan?"


"Ya benar aku sangat terburu buru, kau anatarkan makan siang ke Rumah sakit saja, aku tidak sempat untuk makan siang di rumah, oh ya... malam ini juga aku akan pulang larut, jangan menunggu ku."


Aku hanya diam saat ia mulai melupakan kebiasaanya, oh Ya Allah apa yang aku perbuat aku mencurigai suami ku.