Just For Me

Just For Me
Pertunangan



"Assalamualaikum ayah, maaf tidak mengabari mu untuk kepulangan ku." Sapa Tama kepada ayahnya terlebih dahulu.


"Kau kembali kerumah mu sendiri, jadi mengapa harus memberi tahu ku? ayah berharap kalian tetap seperti ini sebagai kakak beradik."


Mereka pun mengakhiri perbincangan dengan makan malam, setelah makan malam aksi banting membanting antar Tama dan Vara pun berlangsung. Arsal mendukung Aditama sementara ayahnya mendukung putri tercinta.


"Mas Tama, jika nanti tulang mu ada yang patah maka maaf kan aku ya?" ejek Vara pada sang saudara kembar.


"Kau meremehkan ku Chubby?"


"Aku bukan meremehkan mu tapi hanya sedikit ragu." balas Vara dengan seringainya.


Mereka yang menonton aksi Tama dan Vara bergidig ngeri pasalnya keduanya sama kuat, Arsal juga meringis saat adegan Vara membanting dan meluluh lantakan pertahanan Tama.


Pukulan, kuncian tangan dan tubuh Tama bahkan hantaman yang mengenai pelipisnya, dilakukan Vara dengan mudah hingga akhirnya Tama menyerah.


Tama sengaja mengalah dari adiknya, Vara adalah perempuan sedingin apapun Tama dengan orang di sekitarnya, dia melemah dan berusaha sopan bila dia seorang perempuan.


Semua orang di rumah sedang mempersiapkan pesta megah untuk Arsal, kali ini tidak di hotel atau gedung Zulfikar ayah mereka memilih taman belang sebagai tempat berlangdmsungnya acara.


"Ayah, apa ini tidak terlewat mewah, ini hanya pesta penyambutan Tama dan ulang tahun ku yang ke 29, ayah bisa tidak lebih sederhana."


"Siapa bilang hanya pesta penyambutan dan ulangtahun mu, ini adalah pesta pertunangan mu juga, ayah sudah memilihkan calon istri untuk mu."


"APA? Calon istri, ayah kau meragukan ku? aku bisa mencarinya sendiri, come on ayah, aku belum mau menikah, masih banyak yang harus aku lakukan."


"Menunggu mu mendapatkan nya sendiri? Ayah ragu, yang ada di otak mu hanya rumah sakit, pasien dan proyek bersama teman-teman dokter mu itu Arsal, Vara akan menikah dengan waktu dekat, ayah tidak mau penolakan dari mu, lagi pula wanita yang ku pilihkan adalah wanita berkualitas."


Entah hujan dari mana, kepala yang tadinya panas menjadi dingin, setelah mendengar beberapa nasehat dari sang ayah.


"Baiklah, kali ini aku akan menurut, dan aku percaya wanita pilihan mu pasti sangat baik, awas saja jika tidak sesuai dengan yang ku harapkan."


"Tenang jagoan, kau akan menikah dengan wanita yang tepat." Sang ayah berlalu sambil menepuk pundak Arsal.


Tama, Vara dan ayah sudah bersiap menyambut tamu, Vara yang mengunakan hijab dibalut gaun muslimah perpaduan batik dengan satin berwarna biru tua, membuatnya nampak elegan, sementara Tama, kemeja biru tua dengan dasi kecil berwarna dongker serta setelan jass santainya, semakin tampan dengan rambut yang di tata sedemikian rupa dan Arsal jangan di tanya dia belum turun dari kamarnya.


"Dimana anak ini, tamu ku sudah sepenuhnya datang, dan keluarga calon istrinya pun sudah tiba." Zulfikar berceloteh dengan sendirinya.


Arsal pun turun mengenakan vantopel hitam, celana panjang hitam dan juga setelan senada dengan Tama dan Vara, Vara yang sedang bercengrama dengan calon suaminya menatap abangnya penuh minat. "Wow, pangeran sudah tiba, tampan sekali." ucap Vara.


Acara pun di mulai, semua orang menikmati acara ini, dan tiba di penghujung acara Zulfikar mengenalkan seorang wanita yang di gadang ayahnya sebagai calon istri dari sang anak.


"Arsal ini Syahila Zenith, wanita yang akan mengabdikan hidupnya untuk mu." jelas sang ayah yang membuat Arsal kaget.


"Dia?" Arsal bertanya lagi, karena dia begitu kagum dengan wanita yang ada di hadapannya, wanita ini bertubuh langsing, tingginya lumayan dan parasnya sangat indah.


"Ya... kau perlu mengenalnya lebih dalam, namun nanti ketika sudah ada ijab khobul Arsal." sindir sang ayah karena dia tau apa yang ada di fikiran putranya itu.


Tama yang menyaksikan hanya tersenyum menatap sikap abang nya yang sangat kaku itu.