
...98. Putaran Takdir (2)...
Semua masih terasa mimpi. Terasa sakit. Bahkan lebih sakit dari apa yang dirasakannya akibat operasi transplant. Mengetahui kabar bahwa Gemala yang memberikan hati untuknya.
Tidak. It’s impossible! Alias mustahil. Ia masih tidak percaya.
Akan tetapi ia tidak bisa mengelak. Kenyataan yang membungkam mimpi. Menghunjam sendi-sendi yang terus berdenyut nyeri. Takdirnya diputar kembali. Untuk kesekian kali.
Jelas ... sangat jelas bukan? Manakala ia meminta Mala. Ia ingin melihat wajah Mala, namun istrinya itu tak jua datang. Di manakah Gemala? Bukankah, dia berjanji untuk berada di dekatnya, di sisinya. Berjanji ketika ia akan membuka mata pertama kali, Mala akan ada di sana. Bahkan orang pertama yang akan disapanya adalah Mala.
Pun, Max yang semakin meyakinkan dugaannya.
Oh ... my God.
Ia melepas oksigen yang terpasang di hidungnya.
Max panik. “Ru, don’t do that!” berusaha mencegahnya. Ia tidak peduli. Sebab ia hanya ingin melihat istrinya. Mengetahui kondisinya.
“Aaargggg!” erangnya kesakitan saat bergerak.
“Percaya gue, Mala akan baik-baik saja. Dia ... dia hanya perlu istirahat sebentar. Mengembalikan kondisinya. Believe me!” Max memasang kembali selang oksigen ke hidungnya.
“Sampai kapan?” ketusnya.
Max berusaha tenang. Menyapu wajahnya. “Secepatnya. Ya ... secepatnya.”
“Gue gak percaya sama lo! Lo, penghianat!”
“Oke, oke. Lo, boleh marah ke gue. Boleh ngatain apa pun tentang gue. Tapi ... ingat! Mala berjuang demi lo. Berkorban demi lo, jadi jangan sia-siakan pengorbanan Mala buat lo,” tukas Max berapi-api.
Ia menggeleng. “Gue mau lihat Mala, Max. Gue ingin lihat dengan mata kepala gue sendiri .. gue ingin lihat dia,” ucapnya melemah di akhir kalimat.
“Please, Ru. Kondisi kalian belum memungkinkan untuk sekarang. Lo, harus menunggu sebentar lagi. Begitu juga Mala. Aku mohon ... ingat pengorbanan Mala. Lo gak mau, kan, pengorbanan Mala menjadi berujung sia-sia?” tangkas Max kembali.
Ia menggeram. “Gue lebih baik mati! Daripada Mala yang sakit. Damn you ... kalian bersekongkol,” ucapnya kesal, marah dan merasa dipermainkan oleh semua. Kenapa takdir begitu tega memutar balikkan kehidupannya.
Max menepuk bahunya. “Istirahatlah,” kemudian keluar dari ruang ICU.
Kristal cair itu terus menerobos tanpa henti. Tubuhnya bergetar hebat. Bersamaan denyut jantungnya yang berpacu lebih cepat. “Hon, mengapa kamu melakukan ini? Mengapa?” ucapnya lirih.
Waktu rasanya merangkak melaun. Kendati ia memohon pada tim dokter untuk melihat kondisi istrinya. Memohon pada ibu untuk membawanya ke ruang ICU Mala. Namun, mereka belum mengabulkan keinginannya.
Hingga pada hari ketiga ia dipindahkan ke ruang perawatan. Selang ditubuhnya mulai berkurang ia meminta dan memohon untuk melihat kondisi Mala.
“Apa aku harus bersujud ke kaki Ibu?” pintanya. “Aku ingin melihat Mala, istriku.”
Rahayu menggeleng. Tidak tahu lagi harus menolak dengan alasan apa ... ia memejamkan mata. Setelah ini Rahayu tahu, putranya pasti ... ia mengangguk lemah.
“Makasih, Bu,” binar matanya berpendar puluhan kali dari biasanya. Sebab pada akhirnya permintaannya terpenuhi. Ganjar dengan pelan mendorong kursi rodanya.
Tiba di ruangan ICU, ia melihat papa dan mama di sana. Berdiri di balik dinding kaca. Keduanya menoleh ke arah kedatangan mereka. Lalu saling pandang sementara.
Perasaannya semakin tidak nyaman. Ketika kemarin papa menjenguknya, raut wajah papa tampak sendu, tidak bergairah dan ... bukan seperti papa yang ia kenal. Walaupun papa bilang, “Mala baik-baik saja. Kamu harus semangat Ru. Agar masa pemulihan bisa lebih cepat.”
Ganjar menghentikan kursi rodanya. Ia berusaha bangkit. Menopang tubuh dengan kedua tangan bertumpu di sisi kursi roda. Menolak adiknya yang ingin membantunya. Tadi pagi ia sudah dilatih berjalan oleh tim medis. Meski masih terasa menyiksa. Ia berusaha sekuat tenaga. Melangkah perlahan mendekati dinding kaca.
Oh my God.
Ia bisa melihat Mala terbaring lemah dengan banyak selang menempel di tubuhnya. Apa yang terjadi? Mengapa Mala sampai detik ini belum terbangun. Belum diperbolehkan keluar dari ICU. Bahkan ... bukankah? Juta tanya berkecamuk di benak. Kecemasan akut mendera. Berdentam-dentam mendobrak sisi jiwanya.
Tangan dan ujung hidungnya menempel pada dinding kaca. Meraba seolah ia bisa merasakan Mala.
“Apa yang terjadi Pa, Ma?” tanyanya dengan mata berkaca, bahkan dengan cepat cairan matanya telah berguguran terus berdesakan.
“Kenapa Mala sampai sekarang belum bangun?” Helaan dan embusan napasnya menanggalkan jejak mengembun. Membuat buram kaca. Dengan lekas ia mengusapnya. Seolah-olah tak diperbolehkannya satu pun menghalangi pandang.
“Pa,”
“Mala mengalami komplikasi.”
DEG.
Rasanya bagaikan disambar petir dengan kekuatan maha dahsyat. Setelah sesaat sebelumnya jantungnya berirama kuat. Ia limbung. Ganjar dengan sigap menopang tubuhnya yang terasa tak bertulang. Begitu pula Rahayu yang refleks membantunya. Ia seperti diseret oleh putaran angin kencang, yang berputar-putar menyedotnya hingga ke dasar lembah yang paling dalam.
Syok.
Mengapa harus Mala? Mengapa bukan dirinya? Sungguh ... ini tak adil. Rasanya hidupnya percuma. Putaran takdir begitu kejam memelintir. Hingga ke titik nadir.
“Ru, Ibu tahu kamu kecewa dengan keadaan. Kamu merasa bersalah atas kondisi Mala. Tapi percayalah ... Mala melakukan ini semua karena sayang kamu.” Rahayu menghiburnya. Anaknya itu terlihat syok. Hanya terdiam dengan padangan kosong. Setelah Ganjar membawanya ke ruang perawatan. Rasanya hidupnya percuma, jika Mala yang harus menderita. Yang harus merasakan kesakitan akibat dirinya.
Sesekali butir kristal cair itu membumi.
“Kamu tahu, bagaimana perjuangan Mala agar bisa mendonorkan hatinya untukmu?
Ia bergeming.
“Sejak Mala mengetahui kamu harus melakukan transplant, dia mendaftarkan diri sebagai pendonor. Secara diam-diam melakukan pemeriksaan. Bahkan awalnya ibu dan yang lainnya juga tidak tahu. Hanya Max dan tim dokter. Tapi kamu tahu, Mala dengan gigih membuktikan bahwa dia bisa, hatinya cocok untuk kamu saat hasil tes darah menyatakan golongan darahnya cocok dengan kepunyaanmu,” Rahayu menghela.
“Setelah melewati semua syarat dan prosedur sebagai pendonor dan lolos. Mala kembali meyakinkan pada kita semua bahwa ia ingin menyelamatkan kamu. Mala yakin, dia bisa menyelamatkan kamu. Meskipun kami ragu, kami juga tidak setuju. Terlebih jika kamu mengetahui siapa yang mendonor sesungguhnya pasti kamu akan menolak. Dan kecewa dengan kami, yang membiarkan Mala melakukan ini. Maaf ... mungkin kamu juga kecewa sama ibu,” Rahayu menyusut sudut matanya.
“Entah ini kebetulan atau tidak, hari di mana Mala memberikan hatinya tepat saat kamu ulang tahun. Bahkan Mala berharap ini merupakan kado terindah buat kamu,”
Derai cairan kristal dari pelupuk matanya bak tetesan hujan di musimnya.
Jeda sesaat melingkupi kamar perawatan VVIP tersebut. Rahayu menarik selimut anaknya hingga ke batas dada. “Tim dokter telah berupaya maksimal. Melakukan yang terbaik. Meskipun sekarang kondisi Mala tengah koma. Akibat komplikasi pendarahan, tekanan darah yang sangat rendah dan melemahnya detak jantung yang menyuplai oksigen ke otak. Tapi, Mala masih ada peluang untuk sadar Ru. Ibu percaya, Mala juga berjuang ... jadi seyogianya kita juga berjuang. Kamu dan Mala harus sama-sama berjuang. Untuk kebahagiaan kalian.” Rahayu menatap anak pertamanya dengan iba. “Kamu percaya, kan ... bahwa ikatan di antara kalian itu sangat kuat. Dia akan merasakan ikatan batin itu. Lakukanlah, Ru. Lakukan untuk membawa Mala kembali.”
Keesokan paginya ia meminta perawat mengantarkan ke ruang ICU kembali di mana istrinya masih terbaring. Terlihat Mama Laras di sana duduk di sebelah ranjang. Mama menoleh padanya ketika menyadari kedatangannya. Bangkit dan bergeser memberikan ruang untuknya.
“Mama sudah menyeka wajah Mala. Memberikan madu di bibirnya agar tidak kering,” ucap mama. Mendekatinya kemudian mengusap bahunya. “Mama keluar dulu,” Mama mendorong kursi rodanya ke sebelah ranjang.
Ia tercenung sejenak. Memandangi Gemala tanpa bisa berkata-kata. Meraih tangan Mala dan menciumnya dalam. “Hon,” ucapnya. “Hei ... good morning,” sapanya dengan sekuat tenaga menahan desakan embun di pelupuk mata. Ia tidak ingin lemah di depan Mala, kendati nyatanya sulit dilakukan.
“Aku datang membawakan tulip merah.” Ia meletakkan buket tulip merah di sebelah Mala. “Bunga yang sengaja aku berikan untuk seseorang yang mengubah duniaku menjadi istimewa. A special world where you belong ...,” ia mencium kembali punggung tangan Mala. “Dan aku percaya warna merah adalah lambang eternal love.”
Ia terdiam sejenak. Hanya terdengar suara ventilator dan patient monitor ICU.
“Aku akan datang setiap pagi membawakan tulip merah untukmu,” diusapnya lembut punggung tangan Mala.
“Aku juga berjanji akan membawamu ke New Zealand setelah ini. Pergi ke Danau Tekapo melihat aurora di sana, menyusuri aliran Sungai Tekapo yang berwarna turqouise. Ke Matamata melihat perkampungan hobbit, ke Kaikoura, Milford Sound ... bahkan ke setiap sudut New Zealand aku pasti menemani. Ke mana pun kamu meminta.”
Helaan napasnya berat.
“Hon, Gayatri Bilang kemarin Nyalin telepon, menunggu kamu menjemputnya. Dia sangat antusias sekolah di kota. Dia ingin bertemu dengan kamu.”
Waktu terbatas membuatnya harus mengakhiri perjumpaannya dengan Mala. Kendati, begitu berat membiarkan istrinya itu sendirian di ruangan ICU.
Sore harinya ia kembali mengunjungi Mala. Bahkan kalau bisa, setiap jam ia ingin mengunjungi Mala. Setiap detik yang beralih ia ingin menemani istrinya. Namun, kembali lagi semua terbatasi oleh keadaan.
“Paling tidak, setiap pagi dan sore lo masih bisa melihatnya,” ujar Jebe. “Gue yakin, Mala wanita kuat. Mala sayang sama lo, jadi tidak akan membiarkan lo sendirian.”
Hari berikutnya masih sama setiap pagi dan sore ia mengunjungi Gemala.
“Pagi, Hon,” sapanya. Ia datang sendiri tanpa ditemani lagi. Meletakkan bunga tulip merah di vas bunga kristal di atas meja.
“Aku harap pagi ini, keadaan kamu lebih baik. Meski kamu masih enggan untuk membuka mata. Tapi aku yakin ... kamu mendengar. Merasakan kehadiran aku di sini,” ia menyeka wajah Mala dengan washlap. Menyapukannya perlahan.
“Kamu tahu, Hon. Kamu sudah tidur berapa lama?” ia menyeka leher Mala. “6 hari. Ya ... 6 hari. Aku selalu berharap dan berdoa setiap aku kesini, kamu membuka mata. Menyapaku ....” Ia menyeka tangan Mala dengan hati-hati.
“Kamu pernah bercerita tentang transformasi burung elang. Yang begitu menyakitkan hanya untuk mendapatkan umur lebih panjang. Elang harus melakukan itu demi mendapatkan kehidupannya kembali, bukan? Bagaimana jika elang itu sudah melakukannya ... sudah bertransformasi. Tapi elang kehilangan penunjuk arah. Elang itu terbang tanpa tahu ke mana tujuannya. Apa elang harus kembali ke puncak gunung? Atau elang akan terus terbang sampai waktunya habis tanpa makna?” Ia berhenti menyeka. Menatap Mala yang masih tak bergerak. “Elang termasuk burung monogami yang setia pada pasangannya, bukan? Bagaimana elang bisa hidup jika pasangannya tengah tertidur panjang dan elang merasa sendiri."
Sore harinya ia kembali datang.
“Hai, Hon.” Ia mencium kening Mala. Menatapnya sesaat. “I love you,” ia membisikkan kalimat tersebut.
Duduk di kursi sisi ranjang. Suara patient monitor dan ventilator masih berdenyut seperti biasa. Menemai indra pendengarannya akhir-akhir ini.
“Hon, aku datang bawa kejutan buatmu.” Ia menoleh ke dinding kaca. Seseorang tampak tersenyum saat pandangan mereka berserobok sepersekian detik. Lalu mengangguk.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...