If Only You

If Only You
62. Berita dan Rumor



...62. Berita dan Rumor...


Gemala


Membuat esai tentang isu lingkungan. Cover letter (surat pengantar) motivasi. Melampirkan artikel ilmiahnya. Eh, tunggu. Surat rekomendasi? Dari siapa?


“Indy,” ucapnya mencari nama kontak temannya di KJRI tersebut.


“Assalamu’alaikum,” sahut Indy.


“Wa’alaikumsalam. Apa kabar In?”


“Fine. Kamu gimana Mala. Aku dengar dari Gaya, kamu balik Indonesia. Padahal, surelku itu terhitung 2 minggu lebih. Ee ... baru dibales sekarang. Sibuk banget kamu ya di Indo?” Cerocos Indy.


“Sorry ... sorry. Kemarin sempat di Jember lama. Jarang lihat surel. Beneran ... suer,” refleks jarinya membentuk huruf V, meski Indy di seberang sana tak melihatnya. “Eh, gimana itu kok ada syarat pakai rekomendasi sih? maksudnya?”


“Abaikan, kalau kamu fresh graduated. Dan gak kenal siapa pun di WRI. Only for the experienced. But not yet, abaikan. Lagian aku udah bilang juga sama omku yang di situ. Kamu temenku, kualifikasinya cocok. Tinggal ikuti alur saja,”


“Jadi kalau ditanya. Aku gak kenal sama om kamu itu ya. Kan, memang aku gak kenal.”


“Hahaha ... up to you,”


“Ish, kamu keponakannya sendiri kenapa gak ambil kesempatan ini?” tanyanya penasaran. Indy yang notabene masih ada ikatan. Orang Jakarta. Kenapa justru tetap memilih tinggal di Melbourne.


“Belum. Nanti mungkin kalau master aku udah kelar. Lagian, nyesel juga sih telat ambil S2 tuh rasanya berasa paling tua di kelas hehehe ....” Indy berseloroh seraya terkekeh ringan.


“Oke deh. Thanks ya,”


“It was nothing. Kita sama-sama membutuhkan. Good luck ya,” pungkas Indy dan sambungan telepon itu mati.


Tak lama layar ponselnya kembali berpendar. Mama.


“Wa’alikumsalam, Ma,” balasnya.


“Mala sehat? Garuda lagi ngantor, ya? Kamu jadinya tinggal di apartemen?”


“Sehat, Ma. Alhamdulillah. Mama sama papa sehat, ‘kan? Masih di apartemen. Lagian enak kok, kan cuma berdua.”


Mama terdengar menghela lalu mengembuskan napas. “Syukurlah,” memberitahu bahwa papa akhirnya menerima tawaran menjadi dubes Aussie.


“Iya, Ma?!” tanyanya meyakinkan.


“Ya. Agak berat. Harus ninggalin kalian. Apalagi Siren, Juna ... kakakmu kehilangan pengasuh,”


Ia terkekeh. Tak lama mengatupkan bibir. Seandainya ia mengambil tawaran Prof Paul di Canberra, mungkin ia lebih dekat juga dengan mama-papa. Bisa berkumpul dengan mereka.


“Mal,”


“Iya, Ma.”


“Pernikahan kamu sama Garuda,”


“Baik, Ma. Aku sama Ru baik.”


“Mama dengar diberita, Pak Torrid masuk rumah sakit. Apa benar?”


Ia mengangguk, “Papi Ru memang masuk rumah sakit. Sejak kita pulang dari Jember.”


Hening menjeda sejenak.


“Kok manggil Ru, sih?! Dia suami kamu, Mal. Apalagi dia lebih tua dari kamu. Biasakan menghormatinya dari sekarang. Jangan bawa kebiasaan di luar. Kalau di sana manggil orang biasa saja langsung nama. Tapi kita punya tata krama. Jangan pernah dihilangkan. Itu juga salah satu penghargaan buatnya ...,” dan sederet untaian kalimat mama masih terdengar. Ia hanya menyahut “ya,” dan, “hem.” Sampai sambungan telepon itu terputus sesaat sebelum Ru muncul dari balik pintu.


“Siapa?” tanya Ru mendekatinya. Ia berdiri menyambut laki-laki itu. Sementara Garuda mendaratkan ciuman di kepalanya.


“Mama,”


“Oo,” Ru melepas jasnya dan mengulurkan padanya ketika tangannya meminta.


“Papa terima tawaran di embassy Canberra,” imbuhnya.


“Oya? Bagus dong.” Garuda duduk seraya membuka kancing di lengan kanan kiri lalu menggulungnya sampai siku.


“Iya sih, cuma jadi jauh kalau mau ketemuan. Udah diikutin ke sini sekarang malam balik ke sana,” curhatnya.


“Kan udah terbiasa. Kamu sama Gayatri di Melbourne. Mama-papa sama Kak Nisha di Surabaya. Kok sekarang kayaknya berat?” Ru bergeser mendekatinya. Duduk di sebelahnya, “kalau mau ke sana tinggal pergi.” Mengusap kepalanya. “Kita makan dulu, habis itu ke rumah sakit.” Ru mencium puncak kepalanya lagi. Lalu beranjak ke meja makan.


Ia ikut bangkit dan mengekori laki-laki tersebut.


Tiba di rumah sakit Ru terus menggandeng tangannya menuju ruang intensif. Bercakap sejenak dengan Atat dan Vivi di depan pintu ICU.


Saat masuk ke dalam Torrid langsung menoleh pada mereka. Sudut matanya berkerut.


“Pi,” Garu menggeret kursi menyilakan dirinya untuk duduk di sana. “Aku bawa Mala,” sambungnya.


“Om, eh ... Papi,” ucapnya kikuk.


Torrid tampak mengangguk. “Ma-kasih Ma-la,” tukasnya terbata lirih.


Ia mengusap punggung tangan Torrid. “Semoga Papi cepat sehat,” mengulas senyum. “Harus tetap semangat.”


Torrid mengangguk pelan.


Sejak saat itu Torrid terus dalam pengawasan di ruang intensif selama hampir 2 minggu lamanya. Ia dan Ru serta anak-anak Torrid bergantian menjaga.


Hingga Mulya memberi kabar bahwa Torrid diperbolehkan untuk melakukan pengobatan di Singapura.


“Maaf, Ru. Aku sebenarnya mau ikut tapi—”


Garuda tersenyum, “No worries, kamu bisa menyusul besok. Lagian kamu harus interview hari ini, ‘kan?”


Ia sebenarnya merasa bersalah. Semua keluarga mengantar Torrid ke Singapura. Sementara dirinya justru harus menjalani interview kerja. Merasa tidak enak hati.


Ia mengangguk. Menarik bibirnya ke atas.


Dengan diantar Susanto ia menuju kantor WRI yang berpusat di daerah Jakarta Selatan. Disambut hangat oleh resepsionis saat masuk ke dalam lobi gedung.


Lantai 6.


Kata salah satu resepsionis yang menyambutnya tadi. Tiba di tempat yang dituju. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Meski ruangannya tidak seluas apa yang ada dalam benaknya. Tapi terlihat cozy, beda dan unik. Bahkan ada beberapa benda-benda souvenir khas daerah yang terpajang di dinding.


Mulai kain batik. Songket. Perak. Wayang. Noken dan masih banyak lagi. Ia sendiri bahkan tidak hafal semuanya. Tapi yang pasti semua hasil kreativitas anak negeri.


“Mbak Gemala Luwi, ya?” tanya seseorang menyapanya. Manakala ia masih berdiri mengamati berbagai souvenir tersebut.


Ia memutar tumitnya. “Iya, saya sendiri.”


“Mari ikut saya. Anda ditunggu di ruangan Manajer SDM (Sumber Daya Manusia),” tukas orang tersebut. Ia mengikuti di belakang.


Namun tiba di ruangan yang disebut ternyata ia kembali dibawa ke ruangan direktur. Di sanalah ia berada 1 jam ke depan.


...***...


Rahayu


Mendapat kabar buruk bahwa Torrid kembali masuk rumah sakit membuat hatinya mencelus. Ia sangat tahu kondisi Torrid dengan penyakit yang dideritanya kini.


Meski harapan hidup kecil. Tapi segala keajaiban Tuhan selalu diharapkan. Bahkan ia panjatkan setiap waktu.


“Ibu akan menyusul ke sana,” tukasnya di telepon sesaat yang lalu.


Dengan penerbangan pagi ia pergi ke Singapura.


Kondisi Mas Prasetyo juga tengah menurun. Istrinya mengatakan Pras mengalami tekanan darah rendah. Awalnya sahabat Torrid itu juga ingin menjenguk ke Jakarta. Akan tetapi dengan kondisinya sekarang maka ia urungkan.


Tiba di Singapura ia disambut Garuda.


“Ibu, sehat?” mereka berpelukan sesaat. Garuda mencium pipinya.


“Kami baik-baik saja. Dia sedang ada urusan. Mungkin besok menyusul.”


Ia dan anak-anak Torrid mendengar penjelasan dari tim dokter yang selama ini menangani. Dari tindakan apa saja yang akan dilakukan. Kemungkinan terburuk. Dan waktu yang dibutuhkan. Semua penjelasan dokter membuat mereka yang berada di ruangan itu terdiam. Tepekur dengan pikiran masing-masing. Bahwa mereka harus siap dengan risiko terburuk sekalipun.


Ia menepuk bahu Ru yang duduk di sebelahnya. Meski ia sendiri merasakan sedih dan mengikisnya harapan. Tapi Ru pasti lebih sedih dari dirinya.


Mengenakan baju khusus pengunjung ia masuk ke dalam ruangan intensive di mana Torrid berada.


Duduk perlahan di kursi sebelah brankar. Ia menatap Torrid dengan pandangan nanar. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Ia menyeka pipinya yang basah.


Torrid yang dulu begitu gagah dan menjadi pelindung baginya. Kini terlihat kurus. Dengan kulit menguning dan tubuh sangat lemah.


“Ay,”


Perlahan ia menarik sudut bibirnya. Meski suasana hatinya sedang buruk. Ia harus menunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja. Pada Torrid. Bahkan pada pasien-pasiennya juga.


Ia menepuk lengan Torrid. “Semangat Ko. Kamu pasti bisa sembuh. Asal ada keinginan dari diri kamu.” Menatap pria yang pernah bertakhta di hatinya. Atau malahan sampai detik ini masih berada di sana?


Ia kembali mengulas senyum.


“Kalau kamu sembuh. Kita bisa jalan-jalan  keliling Yogya pakai delman. Nostalgia di hotel Natour Garuda. Menyusuri Malioboro. Ke pantai. Ke mana pun aku temani,”


Torrid berusaha tersenyum. Meski tampak kesusahan.


“Ko, kamu masih ingin lihat Ru bahagia, kan?” pancingnya. “Ru sudah menikah sama Mala. Aku yang melamarkan gadis itu untuknya. Aku saksinya. Dia sangat bahagia. Very happy with her. Kamu harus lihat mereka. Harus juga merasakan kebahagiaan mereka.”


Pelupuk mata Torrid tergenang. Satu bulir cairan kristal menetes dari sudut matanya.


“Kamu senang lihat mereka menikah?”


Torrid mengangguk. Disusul lelehan  berikutnya.


“Kamu mau lihat Ru gendong baby?” tanyanya dengan suara tercekat. Dengan cepat ia mengusap pipinya.


Pria itu kembali mengangguk. Disertai cairan bening yang kembali terjun melintasi pelipisnya.


“Kamu harus semangat sembuh. Tidak boleh menyerah. Harus sembuh.”


... ...


...***...


Gemala


Bersalaman dengan Direktur dan Manajer SDM menjadi ujung pertemuan mereka. Ia menunduk sejenak. Sebelum pada akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


Lega.


Setidaknya ia sudah melewati proses tahap akhir. Diterima atau tidak. Ia pasrah. Sudah berusaha menampilkan yang terbaik dari dirinya.


Melintasi lobi setelah keluar dari kotak besi yang membawanya ke lantai 1. Suara televisi terdengar merasuk di telinga. Sebab volume yang cukup kencang.


“Pengusaha dan pendiri Torrid Group yang juga terpidana 4 tahun 8 bulan kasus pembunuhan wartawan senior Torrid Hartawan sudah sekitar setengah bulan harus dirawat di RS. Kanker Palmerah, Jakarta Barat. Torrid dirawat karena menderita sakit keras. Meski demikian pihak rumah sakit enggan menjelaskan terpidana 4 tahun 8 bulan penjara ini karena tidak mendapatkan izin dari pihak keluarga ....” Pembawa acara berita siang di salah satu televisi itu masih bergaung.


Entah mengapa mendadak suasana hatinya tidak enak. Bukannya pintu keluar yang dituju. Langkah kakinya memilih belok mengikuti arah indra penglihatannya yang mengarah ke toilet.


Mendorong pintu toilet khusus wanita. Ternyata di dalam toilet tersebut 2 orang tengah mengobrol sambil mencuci tangan di wastafel. Sejenak mereka saling beradu pandang. Namun ia tak peduli dan memilih masuk ke dalam salah satu bilik yang kosong. Akan tetapi justru telinganya kembali harus mendengar percakapan 2 wanita tersebut.


“Lo tahu gak gosip terbaru. Yang anak pengusaha itu lho. Kan, bapaknya masuk rumah sakit. Anaknya yang ganteng itu, eh siapa sih namanya.”


Wanita satu lagi menimpali, “Anak dari Torrid Group?”


“Iya. Yang belum kawin. Kemarin keciduk media gandeng cewek. Waktu di rumah sakit.”


“Ah, gosip lo!” sosor wanita yang rambutnya di sanggul.


“Eh serius. Lihat saja di akun gossip online. Santer. Gosipnya, si cewek itu masih berhubungan saudara dari korban kasus Torrid ini. Bayangin, aja. Ngeri gak tuh! Sadis banget! Mau-maunya pacaran sama anak pembunuh keluarganya.”


“Gak punya otak kali. Atau cuma mau harta Torrid aja.” Wanita yang berambut sebahu menangkas.


“Nah, aku curiga tuh cewek matre. Ngincer harta Torrid kali. Gila ... tujuh turunan gak bakal habis, siapa yang gak mau?!”


“Kalau lo, mau gak jadi cewek itu?”


“Ogah ah. Gue masih punya perasaan kali. Sadar diri. Keluarga tetap nomor satu. Masih banyak laki-laki yang baik. Ini jelas-jelas keturunan pembunuh. Sampai anak cucu juga gak bakal hilang status itu.”


“Kalau gue sih mau aja. Banyak hartanya ... hahaha,”


“Issh ... udahan yuk.”


Suara 2 wanita itu tak terdengar seiring suara kepak sepatu yang beradu lantai lambat laun menghilang.


Ia masih berdiri menyandar pada pintu toilet. Menggigit bibirnya. Berusaha menelan ludahnya yang terasa sulit melintasi tenggorokannya yang tetiba mengering.


Masih tak percaya ia membuka beberapa media yang disebutkan wanita tersebut. Benar saja. Ada beberapa foto dirinya di sana. Yang tengah digandeng Ru dengan pandangan menunduk. Tengah menunggu di kursi depan ICU dengan posisi menoleh ke samping. Semua tampak candid.


Dengan judul yang membuat hatinya berdesir nyeri. Muka dan mata memerah serta panas menjalar perlahan. Refleks ia membungkam mulutnya.


‘Anak bungsu Torrid Group diduga pacari kerabat korban ayahnya’


^^^‘Status ayah terpidana, tak menyurutkan gadis yang diduga calon menantu salah satu taipan Indonesia bergandengan mesra saat menjenguk calon mertua’^^^


“Terciduk anak Torrid Group menggandeng seorang gadis di rumah sakit sang ayah dirawat menjadi sorotan’


Dan masih banyak lagi berita-berita yang tak diketahui dari mana sumbernya. Bahkan ia sendiri tidak tahu. Ternyata foto-fotonya menghiasi beberapa situs online. Meski tidak menampilkan wajahnya secara utuh.


Pipinya basah. Genangan cairan mendesak kelopak matanya tanpa henti. Meluncur jatuh ke bumi. Dadanya penuh riak sesak. Dan bahunya bergetar menahan isak.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏


 


 


 


... ...