If Only You

If Only You
77. Too Hard To Understand (2)



...77. Too Hard To Understand (2)...


Gemala


Esok paginya ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Sambil menahan nyeri tubuh yang mendera. Terutama pada bagian leher, bahu dan punggung. Entah mungkin karena ia salah tidur. Atau bisa jadi kelelahan sebab beberapa hari terakhir tenaganya terkuras. Koreksi. Bukan hanya tenaga, tetapi pikirannya juga.


Beberapa kali ia meringis menahan gerakan yang terasa nyeri menjalar ke sendi. Berdiri dan membuka pintu balkon. Meregangkan ototnya perlahan dengan sedikit stretching. Kendati masih terasa nyeri ia paksakan perlahan. Siang nanti adalah jadwal penerbangannya. Jadi masih ada waktu pikirnya untuk merelakskan sejenak tubuhnya.


Sembari mengirimkan pesan pada Dila.


Gemala: Dila, aku gak ke kantor ya ... siang langsung berangkat. Surat tugas udah aku bawa. See you.


Tak berapa lama Dila membalas pesannya: Ok. Take care. Kalau ada kesulitan langsung kontak kita.


Geliat lalu lintas di bawah sana sudah hiruk pikuk seperti tak kenal sepi. Padahal bola raksasa dunia masih malu-malu menampakkan kegagahan yang tak semu.


Ia menghela napas. Mengembuskannya perlahan. Udara pagi ibukota masih terasa segar dan bersih. Cocok mengisi paru-parunya yang butuh amunisi setelah tadi malam begitu sesak oleh lesakkan emosi yang tak terkendali.


Ketika tadi matanya terbuka ternyata Garuda tak ada di sebelahnya. Dan ia terlelap entah jam berapa. Rasanya seperti ... tak percaya. Ia dan Ru berselisih. Pun, emosinya menggedor-gedor seperti butuh pelampiasan. Butuh pengakuan.


Salahkah?


Ia yang biasanya pandai mengendalikan emosi. Meredam ego. Malam tadi seperti dikuasai perasaan. Yang jujur saja ia sendiri juga tak mengerti. Sejumput sesal muncul  karena telah keliru menyimpulkan.


Matanya terpejam. Cengkeraman tangan pada railing besi begitu kuat. Menampakkan buku-buku jemarinya hingga memutih.


Ya, untuk pertama kalinya ... setelah pernikahan mereka. Ia dan Garu berselisih.


“Hoek,” ia lekas membungkam mulutnya. Melesat ke kamar mandi. Memuntahkan semua yang terdorong untuk keluar dari mulutnya. Namun nihil ... tidak ada yang keluar. Hanya cairan yang rasanya pahit dan menyiksa perutnya.


Begitu merasa lebih baik. Perlahan ia berjalan ke ranjang dan duduk di sana.


Suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Lalu beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamarnya.


“Mbak Mala mau sarapan apa? Baru saja Pak Ru pergi ke kantor,” Yati menukas setelah ia membukakan pintu.


“Apa saja, Bi. Seperti biasa juga tidak apa,” balasnya cepat. Dadanya mendadak seperti digodam. Sakit bukan main. Ru, pergi begitu saja. Tanpa pamit padanya. Tanpa ... perutnya kembali merasakan mual dan ingin kembali muntah. Lagi, lagi ia membungkam mulutnya dan berlari ke kamar mandi.


“Mbak,” Yati mengikutinya. “Mbak Mala sakit?” wanita paruh baya itu mencemaskannya. Melihat wajahnya yang pucat pasi dan meremas perutnya berjongkok di depan kloset.


“Saya panggilkan, Pak Ru.” Yati bergegas pergi namun ia menahannya.


“Bi,” ia menggeleng. “Aku hanya kelelahan. Mungkin juga masuk angin. Aku gak tahu, cuma rasanya perut ...,” ia masih berjongkok memegangi perutnya yang kembali terasa melilit dan dipuntir.


Yati membantunya berdiri dan memapahnya ke tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya perlahan. Sambil terus memegangi perutnya.


“Apa saya panggilkan dokter?” usul Yati yang masih mengkhawatirkan kondisi istri majikannya.


Ia menggeleng. Sambil meringkuk. Menahan sakit yang semakin terasa menyiksa. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.


Bertahan menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya. Memegangi kuat perutnya yang terasa diremas-remas. Membuat Yati tidak tega melihat, lekas keluar dari kamar dan menelepon seseorang.


...***...


Garuda


“Mala kenapa, Bi?” tanyanya begitu tiba di apartemen. Bersamaan dengan Max.


“Itu, Pak. Tadi sempat muntah. Saya rasa Mbak Mala sedang sakit. Saya khawatir karena,”


Mereka menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat. Mendorong pintu ke dalam.


“Mala,”


Istrinya tertidur meringkuk membelakangi pintu.


“Bro,” Max menahannya ketika melihat darah yang tembus di celana tidur istri sahabatnya itu.


“Mala,” ia membungkuk membangunkan Mala yang tidak ada pergerakan. “Mala,” kecemasan mulai melandanya. “Max, ini kenapa?”


“Mala pingsan,” sahut Max. “Aku harus panggil dokter obgyn. Sepertinya ....” Max tak melanjutkan lagi kalimatnya. Terburu ke balkon dan menelepon rekan sejawatnya di rumah sakit.


Ia terus memegangi tangan Mala. Dengan kecemasan yang menyelimuti. Rasa bersalah perlahan melingkupi. Meski rasa kecewa juga tak dapat dipungkiri.


Tadi malam setelah perselisihan di antara mereka, ia menghabiskan waktu hingga pagi di ruangan kerja. Tertidur di sana. Dan pagi-pagi sebelum Mala berangkat ke kantor ia lebih dulu pergi.


Tujuannya ia ingin meredam perasaan kecewa atas pernyataan Mala. Berharap saling introspeksi diri, bahwa apa yang terjadi tadi malam adalah kesalahan. Sungguh itu kesimpulan terlalu dini.


“Ru, ini dokter Aini.” Max memperkenalkan rekan sejawatnya yang baru datang padanya. “Dia dokter obgyn. Yang lebih tepat untuk memeriksa istri lo,” imbuh Max.


“Sebaiknya kita tunggu di luar,” ajak Max. Meski berat dan tak tega meninggalkan Mala yang masih terpejam dengan wajah pucat pasi, namun pada akhirnya ia ikut saran Max.


Selama kurang lebih 20 menit ia menunggu di bawah tak tenang. Memerintahkan pada  Yati agar membuatkan bubur dan minuman hangat untuk Mala.


“Bagaimana kondisi Mala, Dok?” tanyanya ketika dokter yang bernama Aini itu muncul dari balik partisi.


Aini tersenyum simpul. Menjelaskan kondisi Mala sebenarnya. Dan menyarankan untuk beristirahat total.


Ia mengusap wajah. Sesal kembali menyergap. Lalu mengembuskan napas kasar. Melangkah gontai menapaki satu persatu anak tangga yang terasa seperti sulit untuk dilewati.


Menutup pintu kamar perlahan. Netranya jatuh pada tubuh Mala yang sudah berganti pakaian dan berbaring tengah menatapnya.


“Kamu lapar?” tanyanya mengalihkan tatapan Mala yang berkaca. Bahkan bulir-bulir itu sebagian telah lolos menerobos. Bukan waktunya untuk membahas perihal tadi malam. Pun, mementingkan ego. Lagian, kejadian ini juga andil karenanya.


Mala terus menatapnya tanpa beralih sedikit pun. Mengunci pergerakannya.


Dengan hati-hati ia duduk di sebelah Gemala. Menyeka pipi yang basah itu dengan ibu jarinya pelan.


“Maaf,” lirih Mala.


Ia merengkuh istrinya. Mendekapnya erat. Mengusap punggungnya.


“Bukan maksud aku,”


“Sstt!”


“Aku,”


“Enough.”


“Aku tidak tahu kalau,”


Ia mengurai dekapannya. Menatap intens wajah yang masih pucat, lembab dan ... ujung hidungnya memerah. Kembali mengusap air mata yang masih saja membasahi pipi istrinya.


“Aku juga mengabaikanmu. Aku minta maaf.” Ia mengecupi wajah Mala.


Keduanya kembali saling mendekap. Memeluk erat. Meluruhkan keegosentrisan dan kekeliruan yang berselimut atas nama senyap.


Ia menyuapi Mala setelah beberapa saat lalu Bi Yati mengantarkan makanan.


“Jadi itu koper mau pergi ke mana?” tanyanya. Ia tadi sempat melihat koper yang berisi pakaian Mala belum sempat tertutup di wardrobe.


Ia menggeleng. “Kamu harus bedrest. Tidak boleh ke mana-mana.”


Mala menunduk. Menatap jari jemari yang saling meremas di atas perutnya.


Ia menyelimuti Gemala hingga ke dada. Setelah makan dan minum obat yang telah diresepkan dokter, istrinya kembali tertidur.


Masih jelas. Pipi sembab dan wajah kuyu itu terlelap. Kembali rasa bersalah menderanya. Ia menghela dalam. Keluar dari kamar.


“Mala udah tertidur,” terangnya. Ternyata Max menungguinya.


“Gue telah menyia-nyiakan dia,” imbuhnya seraya menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal.


“Semua sudah takdir. Kita tidak boleh menyesali. Cuma, gue berpesan. Jaga istri lo benar-benar. Jangan sampai kelelahan. Maksud gue kelelahan fisik dan psikis. Itu bisa menjadi pemicu hal ini terjadi. Apalagi di trimester 1 itu masih rentan,” tutur Max. Ia bangkit dari sofa, “satu lagi.” Max berdiri, “buat dia happy.”


Ia menyapu wajahnya. Seiring Max yang berlalu pergi.


Terngiang perkataan dokter Aini, “Ini yang selalu dialami oleh pasangan muda dan pertama kali hamil. Tidak menyadari dirinya hamil. Lantas merasa kuat, tenaganya diforsir. Beban pikiran juga sangat berpengaruh. Justru itu tidak tampak tapi bisa sebagai faktor pencetus. Karena stres di masa kehamilan bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormonal yang membuat kondisi janin melemah.”


Aini menambahkan, “Saya sudah berikan obat. Mudah-mudahan setelah ini rasa nyeri sudah tidak dirasakan lagi. Dan satu lagi. Usahakan tidur Ibu Mala cukup minimal 8 jam sehari. Jaga supaya tidak memikirkan sesuatu berlebihan. Apalagi sebagai suami, sudah seharusnya membantu mengelola stres yang dialami sang istri. Dan jangan lupa asupan makanan juga harus dijaga.”


...***...


Gemala


Ketika matanya terbuka sebuah lengan merengkuhnya. Ia menggeser sedikit kepala. Mendongak demi melihat laki-laki itu yang terpejam di sebelahnya.


Sudut bibirnya terangkat samar.


Nyeri dan kesedihan sekaligus kembali menguar dari  sanubari. Bahwa ia harus menebus dengan kehilangan ... apakah setimpal? Refleks tangannya meraba perut. Rasa bersalah kembali bertaut.


Seandainya ia bisa menjaganya. Mungkin ... dia masih ada di sini.


“It’s all my fault,” gumamnya lirih. Bahkan hampir tak bersuara.


“Kenapa kamu menyalahkan diri sendiri?”


“Kamu gak tidur?”


“Bagaimana aku bisa tidur? Sementara kamu sakit.”


“Don’t worry ... aku gak apa-apa,” selaknya.


“Bagaimana bilang gak apa-apa, nyatanya kita harus kehilangan dia.” Garuda mengusap perutnya. Mencium kepalanya. “Aku yang salah, mengabaikan kalian. Maaf,”


Ia merengkuh Ru. Menyembunyikan kepalanya di dada laki-laki itu.


“Dengar ... aku pernah bilang dan janji di depan papa dan semua orang. Bahkan di depan Tuhan. Bahwa aku tidak akan membiarkan kamu kedinginan, kelaparan, sedih juga kesakitan.”


“Soal tadi malam, kamu salah paham.” Garuda menjeda sejenak. Memejamkan mata dan membaui surainya.


“Itu soal kerjaan. Proyek di Lampung bermasalah. Mengalami kerugian yang cukup besar. Dan ... semua ternyata berhubungan dengan ibu tiriku."


Ia menarik kepalanya. Dahinya mengerut, “Mami?”


“Hem, tapi aku gak akan manggil dia seperti itu lagi. Terlalu banyak kesalahan dan kejahatan yang dilakukannya. Jadi tidak pantas aku sebut dia seperti itu.”


Akhirnya Ru menceritakan siapa Robin. Li atau Salim Pangestu. Dan alasan dibalik ancaman yang diberikan.


“Robin akan membocorkan identitas kamu ke publik. Jika kemauan mereka tidak dituruti. Mereka mendapatkan foto-foto kita. Bahkan foto pernikahan. Entah siapa yang membocorkannya.”


Ia menengadah menatap rahang Garuda.


“Tahu bahwa surat perjanjian aku sebagai pihak penjamin hutang Meylan itu lemah kekuatannya. Mereka memakai cara lain.”


Ru menunduk. Menatapnya.


“Aku bukan ahli waris Meylan. Dan aku menyatakan tidak menyanggupi sebagai penjamin. Karena ahli waris yang sesungguhnya masih hidup yaitu Maleo dan Atat. Mereka ahli waris sekaligus penjamin semua hutang piutang ibunya. Terkecuali jika tidak ada Maleo dan Atat sebagai anak kandung. Mau tak mau aku sebagai penjamin. Tapi Salim tidak terima. Menyuruh Robin untuk mengancam akan menyebarkan pernikahan kita,”


Hening sejenak.


“Maaf,” ucapnya. “Aku—”


“Aku tahu. Kamu terlalu lelah. Waktumu dan pikiranmu tersita oleh pekerjaan. Dan membantu aku mengurusi semua setelah kepergian papi. Apalagi dengan hadirnya dia di sini ...,” Ru mengusap-usap kembali perutnya. “... yang tidak kita sadari.” Laki-laki itu menghela, “dan aku mengabaikannya.” Meski semua sudah menggunakan jasa penyelenggara event. Tetap saja Mala dan Rahayu ikut sibuk. Sementara dirinya menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan. Melupakan istrinya yang sebenarnya butuh perhatiannya.


Ia menggeleng. “Aku ikhlas.”


“Aku tahu,” potong Ru. “Semua sudah terjadi. Kamu percaya sama aku?”


Bola matanya mengedip lalu tersenyum dan mengangguk.


Garuda mencium keningnya.


“Satu lagi,” sanggahnya. Yang masih mengganjal di benak. “Apa aku boleh minta kamu menghindari Suri jika wanita itu ingin mencium kamu?”


Bibir Garu menipis. Lalu melipat menahan senyum. “Bagaimana cara menghindarinya?” tanyanya polos, sebab ia selalu sulit menghindar serbuan Suri kala menciumnya tanpa aba. Wanita itu punya spontanitas yang susah ditebak.


“Terserah!” ketusnya. Masa seperti itu saja tidak tahu caranya. “Dia hanya mencium kamu. Artinya dia hanya menginginkan kamu. Bukan sekedar salam sapa. Apa kamu gak nyadar?”


Ru terdiam. Tapi tak lama, “Oke.” Meski sulit tapi ia akan berusaha. Kali ini untuk menjaga perasaan istrinya dan juga ... membuktikan bahwa ia tak pernah tertarik dengan wanita itu. “Eh, kamu juga jangan memberikan ciuman sebagai salam sapa. Apalagi pada laki-laki,” balasnya.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏