If Only You

If Only You
88. Kedatangan?



...88. Kedatangan?...


Gemala


“Mal, di luar lagi heboh tuh. Lo, gak ikutan ke sana? Gak ikutan penasaran?” Dila baru saja tiba di ruangan mereka langsung menyergah melihat dirinya yang masih menekuri pekerjaan.


Ia mendongak melihat Dila, “Heboh apaan?”


“Katanya sih klien besar. Itu yang aku dengar dari orang-orang yang tadi berpapasan.”


Ia menggeleng, “Gak minat.”


“Ya, iyalah ... pasti suami kamu lebih menarik.”


“Pasti,” lalu senyumnya terkembang. “Meski nyebelin juga sih.”


“Masa, sih?” Dila tak percaya.


Ia mendesakkan napas, “Kamu pasti gak percaya. Kalau suamiku itu gayanya ...,” selangit. Ia dulu kesal dan sebal bukan main. “Sengak, nasty, sassy, bossy bangeeet. Kadang aku sampai mikir kok aku bisa nikah ya, sama dia.”


Dila tertawa.


“Gak lucu, Dil.”


Dila menggeleng. Masih menyisakan derai tawa ringan. “Kamu yang lucu, Mal. Itu tandanya kalian berjodoh. Mau dia bossy, sassy, nasty sekalipun ... kalau kata Yang Di Atas jodoh, ya jodoh.”


“Iya, juga ya.”


“Ya, iyalah ... masa ya, iya dong!”


Desti baru tiba di ruangan dengan terengah-engah. “Gila, gila! Klien kita kali ini ... WOW! Semua kalah cowok-cowok di WRI. Jangankan di WRI, artis-arti kita lewat.”


“Duh ... duh, duduk dulu Des. Minum dulu kalau perlu. Lo, dari mana?” tanyanya. Melihat Desti seperti habis lihat konser.


“Kalian berdua gue jamin. Klepek-klepek dah sama klien kita kali ini.” Desti menggebu-gebu bercerita. “Wajahnya,” mata Desti terpejam sesaat, menghayati. “Ganteng paripurna. Matanya agak sipit-sipit gitu. Hidungnya ... wah perfect abis. Body-nya,” Desti menggeleng. “Huuuuuuh,” napasnya mengembus pelan melewati mulut. “Kalau tuh cowok jadi suami gue, gue kekepin di rumah aja.”


“Huh, lebay!” Dila menukas.


Ia menambahi, “Betul. Terus lo makan tuh ketek suami lo, karena gak boleh kerja,” cibirnya sambil terkekeh.


Desti mengerucutkan bibir.


“Kerja, kerja, kerja!” satirenya.


“Hah, kalian gak pada tahu aja. Itu susu Beneto, eh maksud gue ... Benita lagi nyari muka sama tuh cowok.”


“O, ya?” ia memutar kursi kerjanya. Tangannya meraih botol air minum di samping komputernya. Menegaknya beberapa kali.


“Biasalah ... dia single. Mana umurnya sudah 30 tahun. Bawaannya sensi terus. Ada cowok ganteng ya ... main gaet tuh,” tebak Desti.


“Hus!” Dila menyergah. “Wajarlah, dia, ‘kan koordinator proyek.”


“Iya, Des. Kok, lo yang kepanasan.”


Lagi, lagi Desti mencebik. “Gue kesal karena Benita itu sok akrab sama tuh klien. Wah ... pokoknya—”


“Des,” Dila menukas.


Desti meringis. Sambil garuk-garuk kepala, “Gue, kan bicara kenyataan,” lirihnya. Mencari pembelaan diri.


...***...


Benita


Satu jam yang lalu Direktur WRI memberitahukan padanya untuk menemani menemui klien. Bukan pertama baginya berurusan dengan klien. Bisa dibilang semenjak menjabat koordinator proyek, semua proyek yang masuk di WRI melewati dirinya.


Puluhan.


Tepatnya 25.


Dua tahun menjabat koordinator proyek sudah puluhan yang ditanganinya. Dan dari berbagai kalangan. Mulai pemerintah daerah dan pusat. BUMN. Sekaligus perusahaan swasta. Bahkan ada beberapa organisasi.


Namun ia begitu terperangah ketika klien kali ini benar-benar surprise baginya. Bagaimana tidak?


Sudah lama tak melihat sosok ini. Sosok yang ....


“Kak Garuda masih ingat gue?” tanyanya dengan harapan besar. Ya, berharap laki-laki di depannya ini mengingatnya.


Sementara suasana lobi sedikit lebih ramai. Para kaum hawa khususnya ikut mengalihkan perhatian sejenak pada sosok yang pernah menggetarkan hatinya.


Garuda mengerutkan kening. Berusaha mengingatnya. Cukup lama ... lalu tersenyum kaku.


“Gue Benita. Adik kelas lo. Kakak anak IPS 3. Gue anak IPS 2. Gue sering lihat lo dulu main basket. Ingat?”


Garuda tampak mengangguk kecil. Padahal ia ragu akan jawabannya sendiri. Anak IPS 2? Adik kelas yang mana? Yang suka menonton dirinya main basket banyak. Ia tidak mungkin melihat dan menghafal satu persatu.


“Wajar sih, Kakak siswa populer dulu. Banyak yang ngefans,” ujarnya. “Ya udah yuk, kita ke ruangan meeting. Pak Direktur sudah menunggu di sana,” ia menggiring Garuda. Sementara Toni dan manager GA mengekori dari belakang.


Sepanjang perjalanan menuju lantai 6 ia lebih menguasai percakapan.


“Jadi ini proyek kedua?” tanyanya. Mungkin ia dulu masih menjadi staf biasa. Sehingga tidak tahu jikalau Garuda pernah ke kantor WRI.


Garuda mengangguk.


Tiba di ruangan meeting Prayoga menyambut Garuda dan yang lainnya. Ia menyilakan tamu-tamunya untuk duduk.


Beberapa kali ia mencuri pandang pada laki-laki yang pernah duduk special di hatinya ini, bahkan bisa jadi sampai saat ini. Buktinya getaran-getaran itu masih ada ketika melihatnya. Tapi Garuda tampak tak acuh. Sibuk dengan ponsel di tangannya. Bahkan yang menjelaskan kerja sama proyek di antara WRI dan Torrid Group justru manager GA.


“Bang, aku percayakan semua sama Abang. Nanti manajer kami dengan tim yang akan handle kerja sama ini. Boleh, aku izin keluar?” pinta Garuda. Ia ikut menoleh pada laki-laki itu.


“Gak sabaran amat. 10 menit lagi jam pulang kantor,” sergah Prayoga.


“Ck, kayak lo gak pernah ngalami aja!” seru Garuda menyindir. Prayoga tergelak.


“Ta,” ucap sang Direktur. Ia menoleh pada atasannya. “Tolong panggilkan Gemala ke sini,” pinta Prayoga.


“Tapi, Pak. Gemala tidak akan ikut proyek ini.” Ia merasa dan berniat tidak akan memasukkan si anak baru tersebut dalam proyek ini. Jelas, integritas dan profesionalnya masih diragukan. Lagi pula, tidak berpengalaman. Proyek ini harus berhasil. Apalagi bekerja sama dengan perusahaan Garuda.


 “Bukan masalah proyek,” tandas Prayoga.


“Ba-baik, Pak.” Meski keberatan, tapi pada akhirnya ia memanggil Gemala.


“Lo, meski bukan tim yang akan ikut proyek ini. Tapi lo harus profesional. Jangan cari perhatian sama klien. Tolong jaga nama WRI di mana pun,” pesannya pada Gemala sesaat sebelum mereka memasuki ruang meeting.


Bahkan dengan terang-terangan ia menggeret kursi untuk Gemala. Yang sengaja ia berikan sedikit jauh berselisih 2 kursi dan di seberang. Sialnya. Masih berani-beraninya staf baru itu melempar senyum pada direktur dan tamu-tamunya.


“Mala, kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” tanya Prayoga.


Gemala menggeleng.


Prayoga menipiskan bibirnya, “Ada yang gak tahan pengen ketemu kamu. Padahal,” ia melihat arloji di lengannya. “Masih 3 menit lagi jam pulang kantor.


Garuda berdecak.


“O, ya Ta. Kamu udah tahu, ‘kan kalau Mala ini istrinya Pak Garuda?”


Seketika ia menatap atasannya. Beralih ke Mala dan Garuda. Apa? Istrinya?


“Dan, kata Pak Garuda, kamu dulu adik kelasnya juga, ya?” imbuh Prayoga.


...***...


Gemala


“Kenapa gak kasih tahu kalau mau datang?” cebiknya kesal. Mereka keluar ruangan meeting.


“Kapan?”


Garuda mengacak rambutnya, “Sudah mulai pikun.”


Ia mendesis.


“Tadi siang, Hon. Aku bilang mau ke kantor kamu. Cuma, tadi siang ada tamu. Jadi bisa ke sininya baru sore.”


“Isshh,” ia mendesis kembali. “Mas, jangan bicara aneh-aneh, ya, sama Pak Prayoga.” Ia tidak ingin dianggap aji mumpung.


Garuda justru terkekeh ringan.


“Mas, tunggu di sini aja,” ia menunjuk sofa tempat penerimaan tamu. Bisa-bisa heboh jika laki-laki ini ikut ke ruangannya. Ada Desti yang jadi fans baru suaminya.


Garuda menggeleng. “Aku mau tahu ruangan kamu.”


“Tapi ... ruanganku tidak seluas punya Pak Garuda. Bahkan 1 ruangan diisi 4 orang,” dalihnya. Berusaha menahan Ru agar tetap tidak mengikutinya.


“Mala, aku bukan mau bandingkan ruangan. Apa lagi mau mengukurnya. Seperti kurang kerjaan. Buang-buang waktu saja. Aku hanya—”


“Ya, ya, ya ...,” putusnya. Tidak akan habis waktu untuk berdebat. Akhirnya terpaksa memperbolehkan Garuda ke ruangannya.


Dan sudah dipastikan Desti yang paling heboh. Beruntung teman satunya sedang tugas ke daerah.


Dila menyenggol lengannya yang tengah membereskan berkas, “Ini yang katanya nasty, bossy, sassy?” bisik Dila terkekeh, menutupi mulutnya.


Sementara Desti tak bisa berkata apa-apa. Hanya menelan ludah dan menatap nanar dirinya. Ia pikir Desti akan menubruk Ru, menciumnya atau ... meminta foto gitu. Ternyata, justru sebaliknya.


“Des,” tukasnya menyadarkan rekan kerjanya itu untuk mengatupkan mulutnya. “Lo, gak mau minta foto gue sama suami gue?” sindirnya.


“Wiidih, buat apa foto sama lo, Mal. Kalau buat ngusir nyamuk sih gak apa, asal nyamuk minggat gak balik lagi. Tapi kalau gak berpengaruh, gak usah. Penuh-penuhin galeri gue aja!” cebik Desti. Sok jual mahal.


Ia dan Dila terkekeh. Sedangkan Garuda cuek duduk di kursi kerjanya setelah berkenalan dengan Dila dan Desti tadi.


“Jadi benar, Mbak Benita itu adik kelas dulu di SMA?” tanyanya pada Garu. Tatkala mobil yang membawa mereka melaju di jalan raya.


“Kata dia.”


“Lho. Kok kata dia?”


“Kalau seingat aku, kayaknya sih gak kenal,” jawab Ru enteng.


“Hah! Kok bisa?”


“Hon, yang kenal aku banyak. Yang ngaku-ngaku kenal juga banyak. Tidak mungkin aku ingat semua mereka. Apalagi tidak penting.”


Mulai deh snob ....


“Aku pengen makan bakso,” ujarnya. Di depan jalanan ramai. Lalu lintas padat.


“Ton, cari bakso yang enak,” titahnya pada Toni yang duduk di depan bersama sopir.


“Mau bakso yang gimana, Pak?” sahut Toni.


“Memangnya bakso macam-macam?” tanya Ru tak mengerti. Setahunya bakso ya ... bulat terbuat dari daging. Rasanya kenyal.


“Mbak Mala mau bakso apa? Ada bakso rudal, bakso mercon, bakso kerikil, bakso moncrot, bakso tengkleng, bakso malang ....”


Sementara raut muka Garuda mengerut. Mendengar berbagai jenis bakso yang masih disebutkan Toni. Ia melipat bibir—menahan senyum—melihat reaksi suaminya yang aneh.


“Bakso malang, aja, Ton,” putusnya. Sudah lama rasanya ia tidak makan bakso. Rasa gurih, segar, dan pedas melompat-lompat menendang liurnya. Membuatnya mendesis membayangkannya. “Sshhh ....”


San menghentikan mobil tepat di depan gerai penjual bakso malang. Tampak dari depan sebuah poster menyambut kedatangan mereka.


“Aku mau yang ini,” tunjuknya pada menu bertuliskan ‘bakso malang super komplit’.


“Mas mau yang mana?” tanyanya pada Ru yang masih memandangi berbagai menu bakso.


“Sama aja, Hon. Aku gak ngerti,” sahut Ru. “Ton, kamu pesankan.”


Toni mengangguk dan menuju meja kasir. Ia memilih duduk di ujung dekat jendela yang terbuka. Maklum, tempatnya tidak menggunakan pendingin ruangan. Jadi, konsekuensi setelah menyantap semangkok bakso pasti akan berpeluh


Tak menunggu lama bakso yang dipesan datang. “Mas, sinikan ...,” ia meminta mangkok Garuda. “Aku kasih kecap sedikit dan sambal sedikit, biar enak.” Ia tuangkan botol berwarna merah dan kuning bergantian di atas mangkok. “Sudah,” pungkasnya. Mendorong kembali mangkok Garuda.


Berulang kali, ia harus menyeka peluh yang membanjiri wajahnya. Bahkan sesekali Ru membantunya.


“Lain kali jangan terlalu pedas. Gak bagus juga buat kesehatan,” protes Ru. Yang melihatnya kepedasan.


“Soalnya gak mantap kalau gak pedas,” kilahnya. “Ya, kan, Ton?” bujuknya mencari teman. Melihat Toni yang sepertinya seleranya sama.


Toni hanya menyengir kuda. Sambil menyeruput minumannya hingga tandas.


Tiba di apartemen hari sudah gelap. Tadi setelah mandi, Garuda berpesan pergi ke ruang kerjanya. Karena harus melakukan video conference.


Ia yang tak ingin mengganggu laki-laki itu memilih menonton film. Satu jam berlalu, ternyata Ru belum keluar juga dari ruang kerjanya. Mulutnya sudah menguap entah yang ke berapa. Padahal film yang sedang terputar masih setengah jalan. Tak tahan lagi dengan rasa kantuk, ia memilih tidur di sofa. Dengan layar televisi yang masih menyala.


Suara bel pintu berdenting berkali-kali. Membuatnya terpaksa membuka kelopak mata. Menajamkan telinga. Meyakinkan bahwa bukan mimpi semata.


Suara bel kembali berdenting. Kali ini terdengar seperti terburu tanpa jeda waktu.


“Siapa?” gumamnya sambil berdiri. Setengah sempoyongan menuju pintu. Melihat tamu yang datang pada layar yang tertanam di sisi pintu. “Hah,” refleks ia mengucek matanya. Kembali meyakinkan penglihatannya tidak salah. Namun ... benar. Ya, ia tidak salah lihat.


Ia membuka kunci pintu 2 kali putar, menarik tuas ke dalam. “Mbak Vivi?”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏