
...33. Autumn di Hatiku...
Gemala
Tiba di Melbourne musim gugur menyambutnya. Musim yang menjadi peralihan dari panas ke dingin.
Jalan-jalan dipenuhi dengan pemandangan tumbuhan yang mulai layu. Udara juga lebih dingin. Begitu juga hujan turun membasahi bumi dengan intensitas sering meski tidak deras.
“Huh,” embusnya, akhirnya sampai juga mereka di rumah. Ia menyerat koper lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Tiba di rumah sudah pukul 11 malam. Artinya di Jakarta baru jam 7 malam. Sedang apa dia?
Ia merogoh ponsel di dalam tas selempangnya. Mencari nama laki-laki itu. Ya, laki-laki yang jarang menghubunginya. Meski ia berusaha percaya. Tapi pengalaman dulu dengan Ethan yang menaruh kepercayaan kepadanya, berujung ....
Ia menggeleng. Apa Ru juga sama dengan Ethan?
...‘Garudanya Mala’...
Ia hanya menatap nama kontak tersebut. Cukup lama. Bibirnya tersungging.
“Kalau kangen telepon aja, gengsi amat!” sambar Gayatri yang keluar dari kamar menuju dapur.
Ia masih bergeming. Ragu. Mengusap layar perlahan. Namun tak sengaja justru melakukan panggilan. Ia baru menyadari ketika,
“Hallo ....” Suara Ru menyahut. “Mal,”
Ia buru-buru menempelkan ponselnya di sisi kanan telinganya. “Hem ... hai,” balasnya dengan wajah bersinar.
“Kamu masih di Jepang?”
“Sudah pulang,” ia memang memberitahukan liburan pergantian musim pada Ru ke Jepang bersama Gayatri. Ia juga mengabadikan beberapa fotonya di media sosialnya. Tapi tidak satu pun laki-laki itu memberikan komen, like atau langsung meneleponnya. Padahal mereka saling berteman. Ru, memang beda.
“Nanti aku telepon lagi, aku sedang perjalanan ke bandara.” Ucap Ru lalu mematikan sambungan telepon.
Layar ponselnya kembali pada menu utama yang menampilkan wallpaper dirinya tengah berpose bersama anak-anak rimba. Lima detik kemudian layar menjadi gelap.
Ia menyenderkan kepalanya ke belakang. Tubuhnya merosot lalu memejamkan mata sejenak.
“Aku gak tahu lagi kapan bisa kesini. Gak tahu juga kapan bisa menemui kamu seperti saat ini. Tapi aku janji,” Ru meraih tangannya. “Akan membawamu pulang ke Indonesia. Saat waktu yang sudah aku janjikan. Sekarang ... kita menikmati seperti ini. Menikmati hari-hari yang mungkin terasa lama dan menyiksa. Tapi percayalah, kita akan memetik kebahagiaan nantinya. Kamu mau, kan?”
“Ish ... ish ... malah tiduran di situ!” Gayatri ikut menghempaskan pantatnya di sebelahnya. Menyeruput susu hangat. Hingga terdengar bunyinya.
Ia membuka mata, melirik kakaknya.
“Kayaknya ribet banget ya pacaran sama si nasty? Kamu di sini, dia di sana. Kamu cuma bisa menunggu, sementara dia sibuk entah apa-apa. Kamu meraba-raba, dia lagi ngapain? Sama siapa? Di mana? 1,5 tahun guys ... sama dengan harus melewati 6 musim ... dan artinya autumn tahun depan dia baru bisa menjemputmu. Kamu, yakin bisa?” cecar Gayatri.
Ia terdiam. Menguap. Lalu beranjak dari sana.
“Eh, Mal. Gue belum selesai. Jangan main tinggalin donk!” tandas Gayatri.
Ia berdecak, “Kakak harusnya ngaca juga. Percintaan Kakak sama Richard juga ribet. Kita sama-sama ribet!” ia menutup pintu dengan keras hingga berdebam.
Sementara Gayatri menggelengkan kepala. Jelas beda. Ia dan Richard sudah pisah sekarang. Pertunangan itu kandas. seiring berakhirnya musim panas. Hubungannya meranggas seperti dedaunan yang mulai berguguran.
Ia memejamkan mata. Berharap esok menjadi hari terbaiknya. Meski sekarang tengah autumn, tapi hatinya tidak boleh berguguran. Dia akan menetap di sana. Selamanya ....
Ia seperti mimpi. Ru membangunkan tidurnya. Padahal rasanya baru sebentar mata terpejam, indra pendengarannya tergugah oleh ponselnya yang berdering nyaring.
Ia menjeremba tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
“Hem,” jawabnya dengan kelopak mata masih menutup sempurna.
“Hai, aku menempati janji meneleponmu lagi.”
“Ru,”
“Bukan! Aku laki-laki yang kamu rindukan. Ah, siapa lagi kalau bukan Garudanya Mala.” Ru terdengar tertawa.
Ia mengubah posisinya yang tadi telungkup menjadi terlentang. Lalu miring memeluk guling dan membiarkan ponsel itu menempel dengan sendirinya di atas telinga.
“Kamu sudah tidur?” tanya Ru.
“Baru terbangun,”
“Berarti aku membangunkanmu.”
“Hem,”
“Mal ....”
Hening menjeda, nyatanya kerinduan itu begitu menyiksa.
“Mal,”
“I hear you,”
“Aku ... aku sudah bertemu dengannya. Kami sudah bertemu.”
Dahinya terlipat. Matanya menyempit. Bertemu?
“Ya ... aku bertemu ibuku. Aku baru saja pulang dari sana. Kami melewatkan hari bersama. Thanks, Mala ... ternyata kamu benar. Yang terjadi selama ini hanyalah kesalahpahaman. Aku,”
Nyeyat sesaat. Ia menanti Ru melanjutkan kalimatnya.
“Mal,”
“Hem ....”
“Maukah kamu ketemu sama ibuku? Dia juga ingin berkenalan denganmu.”
Ia masih terdiam. Sampai Ru memastikannya kembali,
“Mal,”
“Ya, aku mau.”
Bukankah suatu kehormatan baginya dikenalkan dengan ibu kandung Ru. Apalagi hubungan mereka juga sudah membaik.
“Kamu masih di sana?” tanyanya.
“I’m still here. Bagaimana kuliah kamu?”
“Alhamdulillah ... lancar. Cuma,”
Keheningan kembali menjeda. Bagaimana ia mengatakan jika dirinya sedang merindukannya.
“Apa aku perlu ke sana sekarang?”
Kenapa Ru tahu isi hatinya?
“Atau apa aku perlu menyanyi untuk membuatmu lebih bersemangat?”
“Oke. Sekarang tutup mata kamu. Bayangin aku berada di dekatmu. Aku akan menyanyi buat kamu. Tapi habis itu jangan lupa bayarannya,” kelakar Ru.
Ia terkekeh tapi tak urung mengikuti arahan laki-laki itu. Menutup matanya.
“Karena gak ada gitar, jadi aku langsung ke bagian reffrain. Pendengar tidak boleh protes. Lagu ini aku persembahkan untuk ... ehem ... hem,” Ru terdengar berdehem.
Ia menyela, “Ru, kenapa banyak sekali intermezonya? Jangan buat pedengar kecewa,”
“Kamu tidak akan kecewa aku jamin.”
“Ya ... ya, terserah kamu. Aku sudah menutup mata. Tapi, sekarang aku buka lagi. Karena kelamaan.”
“Oke ... oke. Sekarang tutup lagi. Aku akan menidurkanmu dengan lagu ini.”
... ...
...You’re all I need beside me girl...
...(Kamulah yang kubutuhkan di sisiku, kasih)...
...You’re all I need to turn my world...
...(Kamulah yang kubutuhkan untuk memutar duniaku)...
...You’re all I want inside my heart...
...(Kamulah yang kuinginkan di dalam hatiku)...
...You’re all I need when we’re apart...
...(Kamulah yang kubutuhkan saat kita berpisah)...
...You’re all that I need...
...(Kamulah yang kubutuhkan)...
...~...
...Say, say that you’ll be there...
...(Katakan, katakanlah kamu akan selalu ada)...
...Whenever I reach out to feel your hand in mine...
...(Kapanpun kurentangkan tangan untuk rasakan genggaman tanganmu)...
...Stay, stay within my heart...
...Whenever I’m alone, I know that you are there...
...(Kapanpun aku sendiri, aku tahu kamu ada)...
... ...
...***...
Garuda
Begitu tidak ada lagi suara dari seberang ia mematikan sambungan telepon. Lalu mengetik sesuatu di sana.
Garuda : See you on my dream 🥰 (Jangan lupa bayarannya).
Ia menyimpan ponsel di atas nakas. Mengganti baju lalu menuju ruang kerjanya. Di sana Toni telah menunggunya.
“Sorry lama,” ucapnya. Duduk di kursi eksekutif berwarna cokelat tua.
“Mobil sudah dikirim besok pagi tiba di rumah sesuai alamat, Pak.”
“Bagus,” sahutnya sembari membaca berkas-berkas yang harus ditanda tangani.
“Progress project di Lampung dan Serpong berjalan tanpa kendala. Begitu juga pembangunan real estate di Jabodetabek, Semarang dan Surabaya. Sementara yang di Batam masih progress pembebasan lahan.”
“Good,”
“Mengenai perkembangan kerja sama GL dengan perusahaan teknologi raksasa dunia Mango corp sejauh ini tanpa masalah berarti. GL berhasil membawa nama di kancah dunia. Menjadi tempat penelitian riset yang ketiga setelah, Brasil dan Italia. Kompleks Serpong jadi tempat markas Mango digital terbesar. Sebentar lagi bisa ditempati.” Lapor Toni. Kepalanya mengangguk-angguk dan ikut puas atas kinerja timnya.
Hening sejenak. “Masih ada lagi, Ton?”
“Perihal ganti pagar yang mengenai lahan 2 warga sudah selesai, Pak. Aman.”
“Bagus,”
“Soal—” Toni menjeda. 10 detik lamanya.
“—itu—” imbuh Toni garuk-garuk tengkuknya.
Ia mengerutkan kening, berhenti sejenak membaca lembaran berkas. Menatap Toni penuh selidik.
“Saya menyebutkan nama marga saya, Pak.”
“Terus?”
“Waktu saya bilang marga Siregar. Mereka awalnya tidak percaya. Katanya saya cuma ngaku-ngaku. Apalagi bahasa saya lain. Dan beda. Ditambah muka saya tidak mencerminkan sama sekali,”
“Terus?”
“Akhirnya saya tunjukkan KTP saya ke mereka. Barulah mereka percaya. Saya di ajak ke rumah mereka. Diberi suguhan makanan banyak, dari arsik, anyang pakis, holat, sampai suruh makan rotan.”
Ia mengernyit, “Rotan? Emangnya rotan bisa dimakan?” kini dengan serius ia mendengarkan Toni bercerita. Menarik sepertinya.
“Saya juga baru tahu, Pak. Rotan bisa di makan. Saya pikir rotan hanya untuk furnitur. Dan kalau saya pikir-pikir lagi kenapa bahan rotan semakin langka dan susah di dapat?”
“Ternyata, mereka mengonsumsinya?”
Ia berdecak—tidak percaya. “Kamu jangan cerita ngelantur, Ton.” Tidak mungkin konsumsi rotan mereka bisa mengalahkan pertumbuhan tanaman rotan semestinya.
Toni tergelak, “Saya cerita yang sesungguhnya, Pak. Itu pertama kali dan terakhir kali saya makan rotan. Orang sana bilang namanya pakat. Ternyata rasanya pahit melebihi obat. Mereka juga memperjualbelikannya ... segini,” Toni membentang lengannya. Menunjuk dari ujung jari sampai pangkal lengan, “harganya 3000.”
Ia mencibir, “Apa itu saja cerita yang kamu bawa?” kemudian berdecak setelahnya. “Buang-buang waktuku saja, Ton.”
“Itu hanya prolognya, Pak. Sedangkan intinya ....”Toni meringis, “saya dijodohkan dengan anak salah satu dari mereka.”
Lima detik ruangan kerjanya hening. Tapi .... “Hahahah ...,” ia tergelak tak dapat lagi menahan tawanya.
Keesokan paginya ia mendapat balasan dari Mala.
Gemalanya Ru : Thanks, Ru. Bayarannya 😘
Garuda : Beraninya cuma di chat
Gemalanya Ru : Maunya?
Garuda : In real life 😉
Gemalanya Ru : typing ....
5 menit masih typing ....
Ia menipiskan bibirnya lalu layarnya berpendar seiring nama ‘Ibu’ muncul.
Ibunya memberitahukan bahwa mobil pemberiannya telah sampai. Tapi ....
“Ton,” nada suaranya berat. Memanggil asistennya tersebut melalui sambungan telepon.
“Ya, Pak. Apa saya jemput di apartemen sekarang. Ini masih jam 9. Jadwal kita hari ini menemui klien di ...,” Toni nyerocos menjelaskan tempat pertemuan dan waktu. Dari pertemuan pertama di kawasan Sudirman. Pertemuan kedua di Kuningan dan pertemuan ketiga di Bogor.
Ia memijit pelipisnya.
“Bukan itu!” serunya kesal, “kamu ini saya bilang belikan mobil terbaik untuk ibu, dan kamu belikan ....” Ia berdecak-decak. Bagaimana bisa Toni memberikan mobil yang ....
“Bagus ya, Pak. Itu mobil limited. Tidak sembarangan orang bisa memiliki. Bisa dihitung pakai jari orang Indonesia yang memiliki mobil jenis itu, Pak.” Urai Toni santai.
“Masalahnya ibu,” kini ia memijit pangkal hidungnya.
“Saya sudah menyelidiki dokter Rahayu, Ibu Anda, Pak. Ibu Anda suka tantangan, suka musik hardrock glam metal, suka hal-hal baru yang memicu andrenalinnya ... jadi tepat kalau saya memilihkan lambo aventandor warna putih. Sesuai karakter Ibu Anda.”
Ia bertambah kesal, “Lo kira, emak gue mau balapan, Ton?!” tandasnya. “Emak gue umurnya 58!” kesalnya di ubun-ubun.
“Tapi, Pak—”
“Gak ada tapi-tapian. Ibu gue bukan macam sosialita yang kerjanya sana sini gemar berwarta harta. Bukan juga pejabat daerah yang suka bermewah-mewah. Lo, salah!”
Toni terdiam. Artinya, jika mobil itu dikembalikan, lantas siapa yang akan mengganti rugi uang administrasinya?
“Gue gak mau tahu. Carikan secepatnya mobil pengganti. Seri terbaik mercedes atau kelas terbaik di BMW.” Ia menutup teleponnya kesal.
Hah. Sementara Toni ikutan kesal. Pasalnya merek mobil yang disebutkan atasannya itu bukankah juga tergolong mobil mewah? Ya, memang sih harganya masih di bawah ... tapi anjreeeet. Toni mengusap wajahnya. Tabungannya bisa-bisa berkurang banyak seketika hanya karena canceled pembelian mobil.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏