If Only You

If Only You
55. Wipe Your Sadness



...55. Wipe Your Sadness...


Garuda


Ia duduk di sofa ruang tamu percis beberapa hari lalu yang pernah juga didudukinya. Jika pada waktu pertemuan pertama kali di rumah ini dirinya tidak begitu tegang, bertemu dengan Mama Mala. Akan tetapi, entah hari ini terasa berbeda.


Jantungnya berdegup kencang sedari tadi saat ia turun dari heli. Bahkan semakin gaduh tak karuan ketika seorang ART menyilakan ia untuk menunggu di ruang tamu.


Keringat dingin bak mengucur dari pori-pori telapak tangan maupun sela-sela jari. Ia mengusap-usapnya. Guna menepis rasa grogi, cemas, kecamuk dan tekanan kuat yang tak kasat mata.


Suara deheman terdengar. Ia refleks berdiri. Memasang senyum di bibirnya. Yang tampak kaku. Meski sudah berusaha serelaks mungkin.


Ini beda. Lebih menegangkan.


Menghadapi investor dengan nominal 11 digit tidak membuatnya seperti ini. Menghadapi pesaing dalam memenangkan tender juga jauh dari ini. Apalagi menghadapi masalah-masalah pelik di perusahaannya. Tapi ini ... membuatnya kalang kabut. Semalaman tidak bisa tidur. Gairah makan dan konsentrasi kerja juga berpengaruh. Meski ia memasrahkan apa pun keputusan yang akan terjadi.


“Silakan duduk,”


Sudut bibirnya tertarik ke atas, “Terima kasih,” balasnya sambil mengangguk.


“Saya Garuda,” ia memperkenalkan diri. Meski tidak sempat bersalaman.


Papa Mala terlihat serius, “Saya Imam. Ada hal apa ingin bertemu saya?” tanya Imam cuek. Menatapnya laksana menghunuskan pedang yang membuat surut lawan. Tapi ia tidak boleh gentar sebelum berperang.


“Saya ... saya kesini untuk meminta restu, Om.”


“Restu?” tanya Imam minim ekspresi. Seolah memang tidak ada yang terjadi.


“Iya. Saya serius dengan Gemala. Saya meminta restu untuk hubungan kami. Maaf jika ini mendadak,” tukasnya memberi alasan. “Saya dan Mala sudah kenal hampir 2 tahun. Dan kami mulai serius 1,5 tahun belakangan,” lanjutnya menjelaskan kisah mereka.


“Boleh tahu, apa alasan kamu. Kenapa memilih anak saya. Saya rasa Anda seorang pebisnis. Pasti banyak wanita di sekitar Anda. Lagi pula siapa yang tidak kenal dengan Torrid Group.” Sekak mat. Imam masih menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi.


Pastilah Papa Mala sudah mencari latar belakang jati dirinya.


“Saya ... saya menyukai Mala, Om. Saya mencintainya. Saya ingin—”


Imam memotong, “Apa cukup hanya cinta?!”


“Saya hanya menyukai Mala, Om. Meski banyak wanita di sekitar saya. Tapi tidak ada satu pun yang menarik buat saya,”


Imam terkekeh mengejek. “Hebat, ya! Anda seorang pengusaha muda. Punya harta yang dengan mudah mendapatkan segalanya. Masih mau repot-repot menikahi anak saya. Padahal banyak gadis lebih cantik dari Mala.” Ucapnya remeh.


“Bagaimana jika saya tidak merestui kalian dan tidak mengizinkan?”


DEG.


Rasanya jantungnya berhenti berdetak sesaat. Kemudian kembali bertabuh riuh.


“Apa karena masa lalu papi saya?” tebaknya yakin.


Jeda sesaat. Ruangan yang cukup luas dengan plafon tinggi menjulang itu seakan-akan tidak menyediakan oksigen sesuai ukurannya. Membuat dadanya sesak.


“Bagaimana kalau, iya?”


“Sa-saya minta maaf. Atas nama papi saya. Kami minta maaf. Saya—”


“Apakah dengan meminta maaf semua jadi beres?”


“Apakah kamu tidak berpikir, bagaimana Mala dan kami sekeluarga pasti jadi bahan cemoohan nantinya?”


“Atau kamu tidak sampai berpikir ke situ? Hanya memikirkan kesenangan berdua semata?!”


“Sementara publik tahu. Bagaimana track record papi kamu. Apa kamu tega jika Mala dirundung nantinya?”


“E ... say—”


“Jangan memikirkan kesenangan kalian sesaat. Tapi pikirkan jauh ke depan.”


“Om, maaf. Papi saya memang salah. Beliau sudah mendapat ganjaran yang setimpal oleh pengadilan. Apa itu tidak cukup, Om?” tanyanya menatap Imam sesaat. Ia sedikit kecewa. Nyatanya hukuman papi belum cukup di mata orang-orang. Padahal hukuman fisik dan moral telah diterima. Lalu ‘cukup’ versi orang-orang itu seperti apa?


“Saya tidak berhak menentukan apa itu cukup atau tidak cukup. Tapi, coba kamu menempatkan posisi kamu menjadi posisi Mala sekarang. Di tengah-tengah keluarga besarnya.”


“Atau coba kamu menempatkan posisi kamu jadi saya,” imbuh Imam.


Ia kehilangan kata. Susah payah hanya sekedar ingin menelan ludah.


“Masa lalu papi kamu akan di ingat orang sampai kapan pun. Tidak mungkin  dan tidak akan pernah hilang. Saya sudah bilang sama Mala. Sebaiknya lupakan ... lupakan hubungan kalian. Hubungan kalian nanti akan menjadi rumit dan Mala yang akan menanggungnya. Apa kamu tidak kasihan sama Mala?” pungkas Imam seraya berdiri.


Ia ikut bangkit, “O-Om ... saya mohon. Apa pun akan saya lakukan. Untuk meminta Mala menjadi istri saya. Saya mohon. Saya janji akan membahagiakannya,” pintanya dengan mengiba. Ini bukan lagi soal gengsi. Tapi bagaimana pun ia harus memperjuangkan Mala. Apa pun rintangannya.


Hening menjeda sejenak. Dua lelaki beda generasi itu terdiam melangut.


Larasati datang bersamaan dengan Sri yang membawa minuman. Mengusap lengan suaminya, “Pa.”


Imam masih bergeming.


Tadi malam Larasati juga berusaha meminta Imam untuk berdamai. Toh, semua sudah berakhir. Yang bersalah sudah mendapatkan hukuman. Manusia tidak boleh menjadi hakim untuk manusia lainnya. Cukup hakim pengadilan yang cakap dan pantas menjatuhi hukuman sesuai perbuatan masing-masing yang diatur dalam undang-undang.


Ia mengepalkan tangannya kuat—menahan gejolak dalam dada. Untuk Mala akan dilakukannya. Apa saja. Ia menunduk menatap lantai marmer hitam. Di sana jelas bayangan Papa Mala, “Saya mohon, Om. Saya mencintai Mala. Saya janji akan membahagiakannya. Kami saling mencintai,” pintanya tulus.


Keheningan menjeda kembali untuk beberapa saat.


Namun sayangnya, Imam beranjak dan lekas berlalu. Tanpa mau melihat. Apalagi memberikan kesempatan baginya.


“Om ... saya mohon,” ia hendak mengikuti Imam.


“Garuda,” cegah Larasati. Menepuk lengannya. Seketika gurat wajahnya pias. Rasa kecewa. Marah. Kesal. Terlebih Mala pasti juga akan sedih mendengar kabar ini.


Inilah yang dikhawatirkannya. Ditakutkannya. Ia membawa kesialan untuk Mala dan keluarganya. Bahwa hubungan ini ....


“Pulanglah dulu, Ru. Keadaan masih panas. Maaf kalau,”


“Maaf Tante. Saya yang salah. Saya sudah ... membuat keributan di keluarga ini,” ia pamit dan meninggalkan rumah Mala dengan kekecewaan.


Bukan hanya kecewa dengan tanggapan Papa Mala. Tapi kecewa dengan dirinya sendiri. Keadaan yang menempatkan dirinya dalam posisi ini.


...***...


Gemala


Kabar papa yang masih mempertahankan diri dengan keputusannya sampai juga di telinganya.


“Hon, maaf ...,” suara Ru terdengar berat dan ia sudah bisa menebaknya. “Everything gonna be okay. Aku gak akan menyerah. I’m still struggling. Hanya butuh waktu, to wipe your sadness.” Ia terdiam. Genangan air mata yang bergumul di pelupuk matanya jatuh.


Kakinya yang jenjang menjuntai masuk ke dalam air kolam sebatas mata kaki. Kini tidak ada lagi rasa geli atas serangan ikan garra rufa. Atau karena memang sudah terbiasa. Sebab setiap sore ia pasti duduk di gazebo.


Pandangannya lurus ke bawah. Kedua tangan menopang bobot tubuhnya di sisi-sisi.


Ia benar-benar terjebak di situasi yang sulit. Kali pertama ia berbeda pandangan dengan sang papa. Kali pertama ia berani mengambil keputusan menentang papa. Dan kali pertama hubungan dengan papa renggang.


Semua karena cinta.


Apa ia egois?


Sungguh ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dilema oleh keadaan yang memaksa.


“Mala,” Bagas datang menghampiri.


“Eh, Om. Mala kira udah pulang,” ia bergeser untuk memberi ruang pada Bagas.


Bagas duduk tak jauh darinya.


“Malah aku pikir kamu yang sudah pulang bareng mama-papa kamu. Rupanya masih betah di sini,” kekehan ringan keluar dari mulut Bagas.


“Lagi bosen aja, Om di kota. Adem di sini.”


“Iya memang. Di kota dengan segala hiruk pikuk orang. Belum polusi. Belum suasana yang panas dan crowded,” Bagas menambahi.


“Selamat ya, Om. Pasti seneng banget. Gemes lihat foto si kembar di handphone mama kemarin. Mana Tante Anita sekarang lebih sering ninggalin Om ya, ke Semarang? Lagi seneng-senengnya tuh pasti.”


“Yaah, maklum cucu pertama langsung dikasih 2 lagi. Eh, kamu kapan? Om dengar kakakmu gak jadi sama bule yang itu? Wes, sama yang lokal saja. Sama kok rasanya ... cuma beda casing,” Bagas tergelak mencandai.


Ia ikut terkekeh. Meski dalam hati miris. Ia harus dihadapkan pilihan. Disisi lain berhadapan dengan keluarga termasuk Om Bagas yang duduk di dekatnya. Sementara sisi lainnya dihadapkan oleh perasaan cinta.


Bagas tampak menghela napasnya, menyandar pada tiang gazebo. “Kadang, urip iku wang sinawang, Mal. Kelihatannya saja enak. Bahagia. Berkecukupan. Mulus kayak jalan tol tanpa hambatan. Tapi itu belum tentu,”


“Semua perlu diperjuangkan. Tidak ada yang mudah seperti terlihat oleh mata kita. Yang dilihat mata juga belum tentu dalamnya sama. Kamu pasti mengerti maksudnya.”


...***...


Garuda


Hampir dua minggu ia tenggelam dalam kesibukan setelah pulang dari Surabaya. Ia sengaja mengalihkan pikiran dan perasaannya untuk tidak terus larut dalam kekecewaan.


Bagaimanapun ia harus mencari jalan keluar. Meski sampai sekarang belum menemukannya.


Ia menyapu wajahnya gusar. Menopangnya dengan kedua tangan.


“Ada apa, Ton. Kamu saja yang ke Surabaya bersama Pak Dirut.” Ia masih belum siap ke sana lagi. Kalaupun ke sana setidaknya harus membawa secercah harapan.


“Baik, Pak. Meeting di Surabaya akan diwakili oleh Pak Dirut. Tapi yang di Yogya,”


Ia menyergah, “Kapan?” keningnya berkerut. Sesuatu terlupa. Ia bangkit dari kursi kerjanya.


“Maksud saya, groundbreaking pembangunan rumah sakit besok pagi. Kehadiran Bapak sangat diharapkan,” terang Toni.


Bagaimana ia bisa lupa. Beruntung Toni sigap. Kala matahari sudah tergelincir di kaki barat, ia terbang ke Yogya. Sengaja mendatangi ibunya di rumah sakit tempatnya bekerja.


“Kamu sudah lama nunggu Ibu, Ru?” Rahayu baru datang.


Ia yang menunggu di salah satu kursi tunggu selasar langsung bangkit. “Baru 10 menit,” jawabnya. Ia mencium pipi Rahayu.


“Kita langsung pulang saja gimana? Kamu gak ada keperluan lagi, ‘kan?” tanya Rahayu yang masih berdiri di depannya.


Ia menggeleng. Keduanya meninggalkan rumah sakit menuju kantong parkir.


“Biar aku yang bawa, Bu.” Ia meminta kunci mobil. Melajukan mobil perlahan bergabung dengan padatnya kendaraan di jalan raya.


“Kata Tole, kalian sempat ketemu di Melbourne. Bahkan ketemu sama Mala juga. Eh ... udah lama ya gak ketemu Mala. Apa kabarnya gadis itu?” tanya Rahayu menoleh padanya.


Mobil berhenti tepat di simpang lampu merah.


Bibirnya melengkung ke atas samar.


“Dia baik, Bu.” Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk setir bulat yang digenggamnya. Ada keraguan dan kegamangan. Sebab ‘baik’ di sini mungkin hanya fisik. Sementara psikis gadis itu bisa jadi sakit dan terluka.


Rahayu mengerutkan dahi. Ada yang ganjal di pendengarannya. Insting seorang ibu biasanya tidak meleset.


“Depan belok kiri,” titah Rahayu.


Ia menurut saja. Hingga tiba di sebuah kafe. Ia memarkirkan mobilnya. “Kita kesini?”


Rahayu mengangguk, “Makan malam sekalian. Ayo!” ajak ibunya. Yang melihatnya hanya terdiam. Mengajaknya ke samping kafe. Di sana terdapat musala tempat orang-orang melaksanakan kewajiban.


“Bu,” ia berhenti sejenak. Ia tahu ini tempat beribadah. Cuma ....


“Sudah waktunya salat maghrib. Kita salat dulu baru makan,” tukas Rahayu.


Ia mengikuti kata ibunya. Ikut bergabung menjadi jamaah di belakang. Satu persatu jemaah meninggalkan musala. Namun ia memilih tinggal sementara waktu. Berdoa. Entah ... mungkin sudah lama ia tidak pernah berdoa. Sudah lama ia berkubang dalam dosa. Sudah lama ia melupakan Tuhan di kehidupannya.


Ia tertunduk dalam.


Matanya tetiba memanas. Sebulir cairan kristal itu meluncur lalu jatuh ke pangkuan.


Tidak ada yang tahu. Ia seorang pendosa. Tapi ia masih diberi kenikmatan. Diberi banyak kelimpahan.


Mungkin ini cara Tuhan menegurnya. Cara Tuhan mengambil satu persatu darinya.


Sementara Rahayu menunggunya di salah satu meja sudut ruangan. Ia muncul bertepatan dengan pelayan yang membawa nampan sajian makanan.


“Aku udah pesenin makanan. Semoga kamu suka, Ru. Maaf, Ibu gak nunggu nanya kamu dulu.”


Ia tersenyum. Wajahnya masih menyisakan basah bekas air. Yang sengaja mencuci mukanya kembali setelah dari musala tadi.


“Apa saja aku makan. Dan pasti pilihan Ibu enak,” sahutnya. Seraya mengulas senyum.


Keduanya menikmati makanan dengan diselingi cerita. Sampai tak terasa hidangan di atas meja ludes tak bersisa. Beda dengan akhir-akhir ini gairah makannya yang enyah entah ke mana.


Nikmat. Itu yang dirasakan.


“Oya, gimana dengan Gemala tadi?” tanya Rahayu kembali. “Berarti dia sudah menyelesaikan studi S2 nya?”


Ia mengangguk.


“Terus kapan kalian menikah?”


Ia terdiam sejenak. “Belum tahu, Bu.” Alihnya menutupi permasalahan yang sampai detik ini belum menemukan solusi.


“Kok belum tahu? Bukan kah hubungan kalian serius? Lagi pula, Ibu melihat Mala gadis yang baik.”


“Mala memang gadis yang baik, Bu. Dan orang yang baik akan mendapatkan yang baik,” tukasnya.


Rahayu mengernyit, “Ru ... apa hubungan kamu sama Mala baik-baik saja? Maaf, bukannya Ibu mau mencampuri urusan kalian.”


Ia menggeleng, “Mala gadis baik, Bu. Dari keluarga baik-baik. Tidak pantas buat aku,” ia menghela.


“Kata siapa?” ibunya itu menyanggah. Menatapnya dengan saksama.


“Mala ...,” ia menceritakan asal usul Mala dan keluarganya.


“Astaghfirullah ....” Rahayu membungkam mulutnya sendiri. Terkejut dengan berita yang disampaikan anaknya. Ia pun tidak menyangka. Kenapa takdir anaknya harus kembali dibelit tali masa lalu Torrid. Yang nyata-nyata tidak ikut terlibat. Dan tidak adil juga untuk menanggung dosa papinya.


“Ru, tidak ada anak yang minta dilahirkan dari siapa, keturunan mana dan orang tua yang bagaimana,” Rahayu menyeka sudut matanya dengan jari. Sungguh, ia juga merasa masygul dengan keadaan ini.


“Ibu yang melahirkan kamu. Ibu akan berbicara dengan orang tuanya Mala.”


“Bu,” ia menggeleng. “Mungkin memang aku tidak,”


Rahayu mengusap tangan anaknya yang berada di atas meja, “Hapus kesedihanmu. Jika memang kalian berjodoh apa pun cobaan pasti Tuhan akan mempersatukan. Kamu harus percaya itu.”


Seusai acara peletakan batu pertama proyek pembangunan rumah sakit swasta. Ia dan ibunya menuju Surabaya.


Ada sedikit asa yang menggantung di dada. Sejumput harapan yang terbang di angan. Setitik api yang berkobar memecut nyali.


Duduk bersisian dengan ibunya. Dengan tenang. Tidak segelisah saat pertemuan perdana dengan Papa Mala.


Sementara Rahayu dengan lembut  mengusap lengannya. Sembari mengulas senyum. Memberikan kekuatan untuknya.


“Assalamu’alaikum ... apa kabar Pak Imam dan Ibu Laras?” sapa Rahayu, begitu Imam dan Larasati muncul. Ia dan ibunya bangkit.


Imam dan Larasati terkesiap. Keduanya saling pandang. Lalu menatapnya bergantian menatap Rahayu.


“Ibu Rahayu?” ucap Imam dengan raut wajah tak percaya.


-


-


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏