If Only You

If Only You
59. 24 Jam Pertama Bersama



...59. 24 Jam Pertama Bersama...


Garuda


Sipongang ayam jantan terdengar merasuk di telinga. Ia semakin mengeratkan rengkuhannya. Terlalu nyaman dan hangat hingga tak sadar bahwa Mala yang direngkuhnya bukan guling selama ini yang menemaninya.


“Hhm ... aku sesak napas,” keluh Gemala sembari menekan dadanya.


Ia mengerjap, membuka mata dan baru menyadari, “Sorry, Hon. Aku pikir guling hehe ....”


“Hah!” Mala bangkit dan mengucek mata. Belum sadar sepenuhnya bahwa mereka telah menjadi suami-istri.


“Hon, kenapa?” ia menatap Mala yang seolah masih linglung.


Mala menggeleng, “Maaf tadi malam gak menunggu kamu. Aku ketiduran,”


“Tidurlah lagi,” ia menarik lengan Mala. Dan istrinya menurut. Kembali tidur di sebelahnya. Ia merengkuh Mala.


“Ru,” Mala menatapnya. Memberanikan diri mengusap rahangnya perlahan. Hingga pada titik-titik hitam yang menghias di sekitar dagu. Meski debaran dadanya bertalu.


Posisi mereka yang begitu dekat bahkan melekat erat. Tak ayal membuat gadis itu salah tingkah dan ....


Ia mencium kening Mala. “It’s okay, kamu pasti capek. Tadi malam papa ngajak ngobrol sampai malam. Maaf ... kamu jadi tidur sendirian. Tapi, mulai pagi ini,” ia meraih tangan Mala. Mengangkatnya tinggi. Kemudian menjalin jari jemari mereka. “Akan terhitung 24 jam pertama kita bersama. Sebelum 24 jam kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai selamanya ....”


Gemala menarik bibirnya ke atas.


“Thanks, Hon.” Ia menatap istrinya. “Kamu adalah anugerah terindah buat aku. Kamu mau menerima aku apa adanya. Mau menikah denganku. Mau hidup bersamaku. Aku beruntung mendapatkanmu. Aku—”


Mala melekatkan telunjuk di bibirnya. Lalu menggeleng, “Bukan kamu yang beruntung. Tapi kita. Kita sama-sama beruntung. Kita saling melengkapi,”


Ia meraih tangan Mala yang masih menempel di bibirnya. Lalu mengecupnya. Tidak sekali. Melainkan berkali-kali. Hingga tak menyadari kecupan itu bergerak sampai lengan atas.


Menyeberang dagu dan jatuh pada bibir ranum istrinya yang mengusik sejak pertama kali ia melihatnya.


Bibir dengan warna pink alami. Yang begitu menggoda. Membuatnya harus sekuat tenaga menahan gelora. Tapi 24 jam pertama ia akan menguasainya. Paling tidak rasa penasaran itu harus dikuakkan.


Menyapu lembut bibir Mala. Mengubah posisinya miring lebih nyaman. Mengusap punggung istrinya penuh kelembutan.


Cukup lama kedua bibir itu saling mencecap indahnya pertemuan pertama dengan durasi lama. Tentu saja dari pertemuan itu mengakibatkan keinginan lain yang meronta-ronta hendak meminta menunggu giliran selanjutnya.


Ia memperdalam ciumannya. Demi mendapatkan apa kata sanubari. Mendekat dan mengeratkan tubuh. Mengikis jarak dan penghalang.


“Ru,” Mala berucap dengan napas memburu. Setelah menjeda sejenak. Menahan dadanya kembali. “Kamu dengar?” imbuhnya.


Ia menelinga. Suara dari musala yang tidak begitu jauh dari rumah terdengar.


“Apa tidak ada dispensasi, Hon?” tanyanya dengan mata sayu dan merayu. Jikalau kata orang-orang malam pertama itu terjadi pada malam hari. Tapi jika malam tadi terlewat begitu saja, bolehlah dilakukan pagi hari pikirnya.


Mala terkekeh.


Ia mengerutkan dahi.


“Itu panggilan wajib. Atau kamu mau dicariin papa.”


“Okay ...,” ia pasrah. “Aku pikir benar juga kata Jebe.”


Giliran Mala yang mengernyit, “Memang Jebe bilang apa?”


“Kita kayaknya harus honeymoon jauh. Agar tidak ada yang mengganggu,” tukasnya sambil menghempaskan tubuh telentang.


Gemala bangkit sambil tersenyum. Membungkuk mencium pipinya spontan, “Cepetan sebelum habis waktu,” sergahnya.


Ia meraba pipi bekas ciuman istrinya dengan lengkungan di bibir. Pertama kalinya Mala menciumnya. Ia ikut bangkit, tanpa aba menghujani wajah Mala dengan ciuman balasan.


“Thanks, Hon.” Beranjak melesat ke kamar mandi.


...***...


Gemala


Bola raksasa dunia belum sepenuhnya memberikan sinar hangatnya. Tapi aktivitas di rumah ini sudah begitu gaduh.


Ganisha yang ditelepon Siren karena ngambek tak mau sekolah. Hingga segala bujuk rayu yang diuntaikan tak mempan pada gadis kecil itu.


Sementara mama dan istri Mun membuat sarapan di dapur belakang. Obrolan mereka terdengar sampai ruangan tengah.


Ia mengambil alih ponsel. “Siren, ini Auntie.” Menatap layar. Tampak Siren dengan wajah ditekuk dan bibir mengerucut kesal.


“Lho kok ada Auntie sama Mama?”


Ia berdeham. Memang kakaknya sengaja tidak membawa anak-anak. “Iya, kebetulan Un juga di villa. Hari ini pulang kok. Siren sekolah dulu ya,” bujuknya.


Siren menggeleng.


“Katanya mau jadi anak pintar. Masa malas sekolah?”


“Oke deh ... berarti gak jadi donk ke Melbourne sekolah di sana? Kalau mau sekolah di sana harus pintar. Gak bisa malas-malasan,”


“Katanya—”


“Hon,” ia menelengkan kepala ke arah Garuda yang menghampirinya. Sehingga wajah laki-laki itu tampak juga muncul di layar. Meski tidak seluruhnya.


“Om Garuda!” pekik Siren senang.


“Hai,” Ru menyapa Siren. Memberikan senyum pada gadis kecil itu.


“Kok pada di sana holiday. Siren gak diajak,” Siren seperti bingung, memasang wajah cemberut kembali.


“Bukan holiday,” sanggahnya.


Siren menyahut dengan ketus, “Bohong!”


“Siren mau holiday?” tanya Ru.


Gadis kecil itu mengangguk, “Mau ... mau,” sahutnya cepat.


“Tapi ada syaratnya,” kata Ru. Tampak Siren mengangguk—setuju.


“Sekarang sekolah dulu. Jadi anak pintar. Nanti kalau libur sekolah kita holiday. Gimana?”


Siren berpikir sejenak. Setelah itu tersenyum. Tanda sepakat.


“Anak pintar. Bye ... Siren,”


“Thanks,” ucapnya. Setelah sambungan telepon terputus.


Ru mengusap kepalanya, “Belajar jadi mommy. Karena aku gak mau menunda,” bisik laki-laki itu tepat di telinganya.


Yang seketika membuatnya tersipu. Rona merah di pipi semakin kentara manakala Ru kembali berucap, “24 jam kedua harus berhasil.”


Rasanya ia ingin lari kabur dari tempatnya berada sekarang juga. Sebab tak jauh darinya Ganisha tengah membereskan barang-barangnya yang akan dibawa kembali pulang ke Surabaya. Apa kakaknya juga mendengarnya? Oh my god.


Ia malu bukan main.


Sedangkan laki-laki itu melenggang pergi. Tanpa merasa bersalah. Belum sampai ambang pintu memutar kembali tumit dan berseru,” Hon, aku pergi sama papa, Mas Abhi dan Jebe. Diajak keliling kebun.”


Ia menyulam senyum malu-malu. Ru berbalik dan hilang dibalik dinding. Ia masih menatap pintu meski bayangan Ru tidak terlihat lagi.


“Malah ngelamun,” tukas Ganisha. “Mana senyam senyum ... jangan-jangan kesambet,” imbuhnya.


“Eh, Garuda itu bapakable banget sih,” Ganisha mondar-mandir sambil mengingat barang apa saja yang belum masuk ke koper. “Si Juna juga sempat cerita. Katanya permainan basket Garu ciamik. Padahal kamu tahu Juna. Anak itu paling susah dekat sama orang. Pilih-pilih. Dan ketus tiap ketemu orang baru. Tapi Garu berhasil bikin Juna mengakui kehebatannya. Belum lagi Siren,” Ganisha berdecak, “tiap ketemu Ru langsung happy banget kayaknya. Beda sama Mas Abhi. Padahal sedarah, tapi ya ... gitu. Nyerah kalau Siren udah merajuk. Gak mau berusaha lebih.”


“Aku juga gak ngerti, Kak.” Ia mengedikkan bahunya.


“Iya sih, kalau dilihat dari latar belakangnya. Dia dari keluarga broken home. Meski punya keluarga baru. Tapi biasanya,”


“Dari papinya mungkin Kak. Papi Ru itu kelihatan sayang sama anak-anaknya. Dekat dan tidak pernah pilih kasih.” Beberapa kali bertemu Torrid ia bisa menyimpulkan sosoknya.


Ia mengangguk.


...***...


Garuda


Mobil lawas namun masih mempunyai tenaga mumpuni itu berhenti tepat di persimpangan jalan. Para penumpangnya keluar bergiliran.


Adalah dirinya, Jebe, Mas Abhi dan papa.


“Yang area sini,” tunjuk papa ke arah utara sambil berjalan menerangkan, “kopi jenis arabika,” sambungnya. “Yang sebelah sana,” tunjuknya mengarah hamparan ke selatan yang dibatasi jalan dari mereka berdiri, “Kopi robusta,” urainya.


Mereka berjalan di antara pohon kopi yang punya ketinggian beragam. Antara 1,8-2,5 meter.


“Enak nih,” tandas Jebe memetik buah kopi berwarna merah merona. Mengulumnya, “manis,” imbuhnya.


Ia ikutan memetik seperti Jebe. Tapi belum sempat terpetik papa mengangsurkan 5 buah kopi atau yang biasa dikenal kopi cerry berwarna merah lebih gelap.


“Yang ini lebih manis,” kata papa.


Senyumnya terukir di bibir. Mengambil kopi cerry dari telapak tangan papa. Kemudian mencicipnya. Tak menunggu lama ia manggut-manggut. Benar apa yang dibilang papa. Rasanya manis. Semanis perlakuan papa kepadanya. Meski di awal pertemuan mereka terkesan kaku, angkuh dan berjarak. Tapi pada akhirnya bisa mencair juga.


Bahkan tadi malam papa berpesan, “Garuda ... titip Mala. Dia anak yang mandiri. Kuat. Jangan pernah menyakitinya. Semua masalah rumah tangga bisa dibicarakan. Tapi, kalau kamu sudah tidak sanggup. Masih ada kami.”


Ia mengangguk.


Papa menjelaskan tentang perbedaan kopi arabika dan robusta. Secara ringkas produksi yang dihasilkan dengan luasan yang ada. Budidayanya dan tentu hingga ke bagian hilir.


Tak terasa waktu beranjak cepat. Mereka memutuskan untuk kembali pulang. Di sepanjang jalan bertemu para pekerja.


Hal yang sudah biasa Imam lakukan membawa tamu-tamunya berkeliling kebun. Bahkan terkadang melibatkan para pekerja untuk bercakap-cakap. Sehingga tidak ada kecurigaan yang kentara di permukaan.


Menjelang siang setelah sarapan mereka memutuskan untuk pulang.


“Antar gue sekalian dong ke Gorontalo,” pinta Jebe.


Ia berdecak, “Gak apa sih, asal tagihan pemakaian dilayangkan ke KM,” tangkasnya.


“Dasar gak mau rugi, lo.”


Toni terkekeh. Melihat 2 sahabat yang jarang akur tapi tetap bertahan hingga sekarang. Ia menyerahkan ipad pada atasannya. Melaporkan kinerja GL selama ditinggalkan pemimpinnya.


...***...


Gemala


Berpisah di Surabaya dengan mama-papa, Ganisha dan Mas Abhi. Bahkan Jebe memilih turun juga melanjutkan penerbangan dari sana.


“Kado gue nyusul!” pekik Jebe sambil melambaikan tangan. Memilih keluar terlebih dahulu.


Ia berpamitan dengan mama dan papa. “Jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa segera kabari Papa,” papa memeluknya. “Ru, Papa titip Mala,” sambungnya. Garuda mengangguk dan memeluk papa.


Lalu bergantian pamit sama mama, Ganisha dan Mas Abhi.


“Mal, jaga diri baik-baik. Mala gak sendiri lagi. Kalau ada apa-apa kasih tahu Mama,” ia menyurukkan wajahnya ke pelukan mama. Dan terakhir mencium pipi kakaknya. Mas Abhi menepuk pundaknya.


Perpisahan dengan keluarganya meninggalkan kesedihan. Sebab ia belum tahu kapan akan bertemu lagi dengan mereka. Meski sebenarnya ia sering mengalami hal ini. Tapi tetap saja bahwa perpisahan membuat moodnya berubah. Ia butuh waktu untuk mengembalikan suasana hatinya seperti semula.


Ru mengusap bahunya dan merangkumnya. “Kamu bisa kapan saja menemui mereka, jangan khawatir.”


Mereka melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta mengantar Rahayu. Tiba di Jakarta  saat matahari sudah melandai di kaki barat.


“Hon, istirahatlah. Gak usah diberesi. Biar Bi Yati besok,” ujar Garuda saat keduanya tiba di apartemen.


Tetap saja ia masih bergelut dengan 2 koper. Berusaha menariknya untuk dibawa ke lantai atas. Sementara 1 koper ia tinggal. Karena hanya berisi buah tangan. Terutama cokelat dan kopi.


“Hon,”


Kakinya terhenti di undakan tangga kedua.


Garuda mengambil alih 2 koper dari tangannya. Lalu membawanya naik ke lantai dua. Ia ikut mengekori Ru.


“Kamu gak capek?” tanya Ru saat mereka tiba di kamar utama.


Ia menggeleng.


“Benar?” tanya Ru. Setelah menyimpan koper di pojok ruangan dekat wardrobe.


Ru menghampirinya. Tanpa aba membopong tubuhnya.


Ia terkesiap dan memekik, “Ru!”


Laki-laki itu tergelak. Membawanya dan menurunkan di atas kasur perlahan. Mengungkung dengan mengunci tatapannya, “Is this the time?” tanyanya dengan senyum menyeringai. Penuh kemenangan.


“Katakan kalau kamu capek. Aku gak akan memaksa,” imbuh Ru.


Ia menarik sudut bibirnya ke atas. Mengangguk perlahan. Meski dadanya bergemuruh gaduh. Cemas, takut sekaligus bahagia. Kali pertama. Seumur hidupnya. Untuk Garuda. Laki-laki yang dicintainya.


Yes! Batin Ru berseru.


Laki-laki itu mendaratkan ciuman di kening, mata, hidung, pipi dan ....


Dering suara ponsel Garu berbunyi nyaring. Bukan sekali saja saat Garuda memutuskan untuk mengabaikannya. Dan memilih melanjutkan. Dering itu kembali mengusik. Lalu bersambung pada dering berikutnya.


“Ru,” ia membuka mata dan menyergah, “sepertinya penting.”


Ru mengusap wajahnya. Terpaksa bangkit dan duduk di tepi ranjang. Merogoh ponsel yang masih tersimpan di saku celananya.


“Ya,”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan baik like, vote, comment dan gift.


Xie xie ni de ai ... 🙏


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...